PusatKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Harga Batubara Lebih Murah dari LNG, Ekspor Indonesia Berpotensi Naik di Akhir 2026

Published Oktober 10, 2026 · Updated Oktober 10, 2026 · By Joseph Gonzalez - pusatkabar.com

Foto : Joseph Gonzalez - pusatkabar.com

Harga Batubara Lebih Murah, Ekspor Indonesia Berpeluang Menguat

Pusatkabar.com – Harga Batubara Lebih Murah dibandingkan liquefied natural gas (LNG) dapat membuka peluang kenaikan ekspor Indonesia pada akhir 2026. Selisih biaya energi yang lebar berpotensi mendorong pembeli di Asia memilih batubara termal, terutama ketika kebutuhan listrik dan pemanas meningkat menjelang musim dingin.

China, Jepang, dan Korea Selatan menjadi pasar yang perlu diperhatikan karena biasanya meningkatkan persediaan energi pada kuartal terakhir. Keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi harga, tetapi juga stok, kontrak yang telah berjalan, kebutuhan pembangkit, dan kesiapan fasilitas.

Batubara Termal Lebih Kompetitif dari LNG

Harga acuan batubara termal Australia dari pelabuhan Newcastle berada di kisaran US$143 per ton. Dalam satuan energi, nilainya sekitar US$5,40 per juta British thermal units atau MMBtu. Sementara itu, LNG untuk pasar Asia diperdagangkan sekitar US$25 per MMBtu.

Dengan perhitungan tersebut, biaya energi batubara termal Australia lebih rendah sekitar US$19,60 per MMBtu dibandingkan LNG. Kondisi harga batubara lebih murah ini dapat memengaruhi pilihan bahan bakar pembangkit yang masih mampu menggunakan batubara.

Pasokan Indonesia berpotensi memiliki daya tarik tambahan. Batubara termal Indonesia, yang merupakan komoditas ekspor termal terbesar di dunia, umumnya ditawarkan setidaknya US$1 per MMBtu di bawah harga batubara Australia. Perbedaan tersebut memberi keunggulan bagi Indonesia ketika harga gas alam cair tetap tinggi.

Permintaan Musiman Asia Timur Dapat Mendorong Pengiriman

Data Kpler menunjukkan China, Jepang, dan Korea Selatan mengimpor sekitar 122 juta ton batubara sepanjang Juli hingga September 2026. Volume itu menjadi acuan untuk melihat potensi peningkatan pembelian pada kuartal IV-2026.

Pada kuartal IV-2024 dan kuartal IV-2025, impor batubara termal tiga negara tersebut rata-rata mencapai 143 juta ton per kuartal. Jika pola musiman serupa berulang, permintaan dari pasar Asia Timur dapat bertambah sekitar 20 juta ton dibandingkan kuartal III-2026.

Harga batubara lebih murah dapat memperkuat alasan ekonomi bagi importir untuk menambah pembelian. Namun, realisasi permintaan tetap bergantung pada perkembangan konsumsi listrik, cuaca musim dingin, persediaan di pelabuhan, serta strategi masing-masing pembeli.

Rekam Jejak Ekspor Indonesia pada Kuartal IV

Secara historis, kuartal IV menjadi periode pengiriman yang kuat bagi Indonesia. Sepanjang 2023 hingga 2025, ekspor batubara Indonesia pada tiga bulan terakhir tahun rata-rata mencapai sekitar 137 juta ton, tertinggi dibandingkan kuartal lain dalam periode tersebut.

Pada kuartal III-2026, pengiriman batubara Indonesia tercatat sedikit di bawah 107 juta ton dan menjadi volume kuartal III terendah sejak 2021. Basis yang lebih rendah dapat membuat ruang kenaikan ekspor pada kuartal berikutnya terlihat lebih besar apabila permintaan akhir tahun kembali menguat.

Australia menunjukkan kecenderungan serupa. Rata-rata ekspor batubara Australia pada kuartal IV sepanjang 2023–2025 mencapai sekitar 55 juta ton, sedangkan realisasi kuartal III-2026 sekitar 52 juta ton.

Potensi Tambahan Pengiriman Mendekati 30 Juta Ton

Ekspor gabungan Indonesia dan Australia pada kuartal IV selama 2023–2025 rata-rata sekitar 192,5 juta ton. Adapun total pengiriman kedua negara pada kuartal III-2026 mencapai sekitar 159 juta ton.

Perbandingan tersebut mengindikasikan potensi tambahan pengiriman yang mendekati 30 juta ton pada kuartal IV-2026 apabila importir Asia Timur kembali mengikuti pola pembelian akhir tahun. Bagi Indonesia, daya saing harga menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung kenaikan volume penjualan.

FAQ

Mengapa harga batubara lebih murah dapat meningkatkan ekspor Indonesia?

Batubara yang lebih ekonomis dibandingkan LNG dapat menarik pembeli yang ingin menekan biaya energi. Indonesia memiliki posisi kompetitif karena harga batubara termalnya umumnya lebih rendah daripada pasokan Australia dalam satuan energi.

Negara mana yang paling berpengaruh terhadap permintaan batubara Asia?

China, Jepang, dan Korea Selatan merupakan pasar penting karena ketiganya kerap menambah stok batubara menjelang musim dingin untuk memenuhi kebutuhan listrik dan pemanas.

Apakah kenaikan ekspor pada akhir 2026 sudah pasti terjadi?

Belum tentu. Potensi kenaikan bergantung pada permintaan aktual, kondisi cuaca, harga energi, persediaan pembeli, dan keputusan operasional pembangkit listrik di negara importir.

Related Reading