Harga Minyak Ditutup ke Level Tertinggi 5 Bulan, Serangan Houthi Picu Kekhawatiran
Harga Minyak Menguat ke Tertinggi Lima Bulan
Pusatkabar.com – Harga Minyak Ditutup ke Level tertinggi dalam lima bulan pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar atas meningkatnya serangan Houthi terhadap Arab Saudi, yang dapat mengganggu infrastruktur energi, produksi, serta pengiriman minyak dari Timur Tengah.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember 2026 naik US$4,35 atau 4,0% menjadi US$113,17 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Desember meningkat US$2,32 atau 2,4% dan berakhir pada US$99,47 per barel.
Penutupan Brent tersebut menjadi yang tertinggi sejak 4 Mei. Secara teknikal, harga juga kembali memasuki area jenuh beli untuk ketiga kalinya dalam sepekan, menandakan pelaku pasar sedang memberi bobot besar pada risiko geopolitik.
Serangan Houthi Dorong Premi Risiko Minyak
Kenaikan harga tidak semata-mata berkaitan dengan keseimbangan penawaran dan permintaan. Ancaman terhadap fasilitas minyak Arab Saudi serta aktivitas kapal tanker membuat pembeli harus memperhitungkan premi risiko yang lebih tinggi.
“Kompleks ini pulih karena suntikan premi risiko yang kuat terkait dengan serangan tambahan Houthi terhadap infrastruktur Saudi di tengah pembicaraan tentang serangan gabungan AS/Israel terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu,” kata analis Ritterbusch and Associates.
Arab Saudi memegang peranan penting dalam ekspor minyak dunia. Karena itu, potensi gangguan pada terminal, fasilitas produksi, atau jalur ekspornya dapat segera memengaruhi perdagangan energi global. Perhatian pasar juga tertuju pada Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, dua jalur laut vital bagi distribusi minyak internasional.
Saudi Aramco memerintahkan staf untuk meninggalkan kantor pusatnya di Dhahran, wilayah Teluk yang berdekatan dengan Bahrain. Keputusan itu diambil ketika konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman terus meningkat.
Ekspor Timur Tengah Belum Redakan Kekhawatiran
Pasar turut mencermati peningkatan arus ekspor minyak mentah dari Timur Tengah. Namun, tambahan pasokan tersebut belum cukup menghapus kekhawatiran mengenai serangan terhadap kapal di Selat Hormuz maupun fasilitas minyak Arab Saudi.
“Laporan tentang ekspor minyak mentah Timur Tengah yang melebihi tingkat pra-konflik lebih dari diimbangi oleh serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan infrastruktur minyaknya,” kata analis PVM Oil, Tamas Varga.
Analis Morgan Stanley memperkirakan ekspor minyak mentah Timur Tengah mencapai sekitar 17 juta barel per hari pada pekan lalu. Volume itu masih lebih rendah dibandingkan rata-rata sekitar 18 juta barel per hari selama 12 bulan sebelum perang Iran dimulai, berdasarkan data Kpler.
Selisih tersebut menjadi perhatian karena pasokan fisik tidak selalu dapat segera menggantikan minyak yang terhambat konflik. Keamanan pengiriman menjadi faktor penting, sebab minyak yang diproduksi tetap harus dapat diangkut menuju pasar dan konsumen.
Konflik Rusia-Ukraina Menjadi Faktor Tambahan
Harga Minyak Ditutup ke Level tinggi juga terjadi ketika pasar menghadapi ketidakpastian dari konflik Rusia-Ukraina. Rusia melancarkan serangan rudal balistik ke Kyiv, sementara Ukraina mengarahkan ratusan drone ke Moskow pada malam hari. Kedua pihak masih melakukan serangan di tengah upaya Amerika Serikat mendorong penghentian perang.
Pada Rabu, 21 Oktober 2026, Rusia menyatakan siap melanjutkan pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat dengan Ukraina pada bulan berikutnya. Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden Vladimir Putin menerima utusan AS Steve Witkoff untuk pembicaraan di St Petersburg.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy berharap perundingan pertama sejak Februari tersebut dapat dimulai pada awal November. Pelaku pasar mengawasi perkembangan diplomatik ini karena kesepakatan yang mengakhiri invasi Rusia ke Ukraina berpotensi membuka ruang ekspor minyak Rusia yang lebih besar.
FAQ Harga Minyak dan Dampaknya
Mengapa harga minyak naik ketika konflik meningkat?
Konflik di wilayah produsen dan jalur pengiriman minyak meningkatkan risiko gangguan pasokan. Pasar biasanya langsung memasukkan risiko tersebut ke harga, meski gangguan produksi belum benar-benar terjadi.
Apa dampak kenaikan harga minyak bagi Indonesia?
Kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan tekanan biaya energi dan transportasi. Dampaknya terhadap harga bahan bakar di dalam negeri tetap bergantung pada kebijakan pemerintah, nilai tukar rupiah, serta kondisi pasokan nasional.
Jalur mana yang paling diperhatikan pasar minyak?
Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb menjadi perhatian utama karena keduanya merupakan jalur strategis bagi kapal tanker. Gangguan di kawasan tersebut dapat memperlambat pengiriman dan menaikkan biaya distribusi minyak.