PusatKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Timur Tengah Makin Panas, Mesir Siap Dukung Arab Saudi dalam Perang Lawan Houthi

Published Oktober 19, 2026 · Updated Oktober 19, 2026 · By Elizabeth Moore - pusatkabar.com

Foto : Elizabeth Moore - pusatkabar.com

Mesir Pertimbangkan Dukungan Militer untuk Arab Saudi Saat Konflik Yaman Meningkat

Pusatkabar.com – Kairo membuka kemungkinan memperkuat dukungan bagi Arab Saudi setelah serangan Houthi di Yaman kembali meningkat dan menambah tekanan terhadap keamanan kawasan Teluk. Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi telah meminta parlemen menggelar sidang darurat untuk membahas kewenangan bagi militer Mesir jika Riyadh membutuhkan bantuan.

Langkah tersebut menempatkan Mesir, yang memiliki salah satu kekuatan militer terbesar di dunia Arab, lebih dekat ke potensi keterlibatan baru dalam konflik Yaman. Situasi ini muncul ketika pertempuran antara pasukan yang didukung koalisi pimpinan Saudi dan Houthi kembali memanas setelah gencatan senjata runtuh.

Pemungutan suara parlemen diperkirakan berlangsung pada Minggu, 18 Oktober 2026. Pembahasan parlemen tetap dijadwalkan berlanjut pada Senin, 19 Oktober 2026. Keputusan akhir dapat menjadi penanda penting bagi arah keterlibatan Kairo dalam pertahanan negara-negara Teluk.

Jaminan Dukungan untuk Keamanan Saudi

Dalam pernyataannya, kepresidenan Mesir menegaskan komitmen Kairo terhadap keamanan Arab Saudi. Pernyataan itu disampaikan setelah Dewan Pertahanan Nasional Mesir mengadakan pertemuan yang dipimpin langsung oleh Sisi, dengan kehadiran ketua parlemen, perdana menteri, dan pimpinan angkatan darat.

“Mesir akan memberikan Arab Saudi semua bentuk dukungan yang diperlukan dan memungkinkan untuk mempertahankan keamanan dan stabilitasnya, melindungi sumber daya, integritas wilayah, dan situs-situs suci Islam,” kata kepresidenan Mesir.

Sisi juga menyampaikan pada Sabtu, 17 Oktober 2026, bahwa Mesir akan bertindak mengikuti arahan Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Putra Mahkota Saudi sebelumnya bertemu dengan Sisi pada 15 September, setelah pertempuran di Yaman kembali berlangsung sengit.

Hubungan Mesir dan Arab Saudi memiliki dimensi politik, ekonomi, serta keamanan yang kuat. Setelah Presiden Islamis Mohamed Morsi digulingkan oleh militer pada 2013, Saudi bersama negara-negara Teluk kaya minyak, termasuk Uni Emirat Arab, memberikan bantuan bernilai miliaran dolar kepada Mesir dalam bentuk dukungan keuangan, simpanan bank sentral, dan investasi. Sisi kemudian menjadi presiden pada tahun berikutnya.

Serangan Houthi dan Ancaman Jalur Energi

Houthi, kelompok yang bersekutu dengan Iran dan menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, serta sebagian besar wilayah utara negara itu, dalam beberapa hari terakhir menyerang Bandara Internasional Riyadh dan Saudi Aramco. Serangan tersebut terjadi di tengah bentrokan baru dengan kekuatan yang didukung Saudi.

Peningkatan aktivitas Houthi juga menimbulkan perhatian karena Bab el-Mandeb berada dekat wilayah konflik. Jalur laut ini memiliki peran strategis bagi pengiriman minyak dan perdagangan internasional. Gangguan di kawasan tersebut dapat memperbesar kekhawatiran pasar energi global, terutama ketika perang yang lebih luas melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mendorong kenaikan harga minyak sejak serangan terhadap Republik Islam pada akhir Februari.

Ketegangan ini bukan hanya menyangkut perang saudara Yaman. Pertempuran tersebut berkembang menjadi salah satu titik konflik dalam persaingan regional yang lebih besar. Negara-negara Arab di Teluk, terutama yang menjadi lokasi pangkalan Amerika Serikat, telah mengalami serangan berulang dari Iran maupun kelompok yang bersekutu dengannya, termasuk Houthi serta milisi pro-Iran di Irak.

Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty kemudian melakukan percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan. Dalam unggahan di X, Abdelatty menyebut pembahasan mereka mencakup perkembangan regional dan pentingnya meredakan eskalasi.

Risiko bagi Mesir Jika Terlibat Langsung

Jika Mesir mengambil peran militer yang lebih aktif, Kairo dapat menghadapi risiko balasan dari Houthi. Kelompok bersenjata tersebut telah berkembang menjadi kekuatan yang memiliki puluhan ribu anggota. Kemampuan rudal dan pesawat nirawak mereka telah menjadi ancaman bagi sejumlah lokasi penting di kawasan.

Mesir sendiri telah merasakan risiko keamanan lintas kawasan. Pelabuhan Damietta di pesisir Mediterania diserang drone pada Juli. Tidak ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan itu, sementara pemerintah Mesir tidak menuduh kelompok tertentu. Kairo menyatakan telah menempuh langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional.

Potensi dukungan untuk Saudi juga mengingatkan pada keterlibatan Mesir sebelumnya di Yaman. Kairo bergabung dalam koalisi pimpinan Saudi yang melakukan intervensi pada 2015 untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional dalam menghadapi Houthi. Namun, peran tempur Mesir ketika itu terbatas.

Konflik Yaman mempertemukan pemerintah yang didukung koalisi Saudi dengan Houthi yang mengendalikan wilayah luas di utara. Bagi negara-negara di sekitarnya, dampaknya meluas dari ancaman serangan udara dan drone hingga risiko terhadap pelayaran serta pasokan energi.

Saudi Mencari Dukungan Regional

Riyadh memperluas komunikasi dengan mitra regional, termasuk Mesir dan Pakistan, setelah meminta bantuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghadapi Houthi. Trump tidak menyetujui serangan Amerika Serikat, sementara Washington menawarkan bantuan dalam penentuan sasaran dan berbagi intelijen.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman melakukan kunjungan ke Abu Dhabi pada Minggu dan bertemu Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed. Aktivitas diplomatik ini memperlihatkan upaya Saudi menghimpun dukungan keamanan dari negara-negara kawasan saat ancaman Houthi meningkat.

Bagi Mesir, pembahasan di parlemen akan menentukan seberapa jauh komitmen tersebut diterjemahkan ke tindakan nyata. Dukungan dapat mencakup berbagai bentuk kerja sama pertahanan, tetapi keterlibatan langsung juga membawa konsekuensi keamanan yang lebih besar. Perkembangan di Kairo akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan apakah konflik Yaman kembali meluas ke arena regional yang lebih luas.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Timur Tengah Makin Panas Mesir Siap?

Timur Tengah Makin Panas Mesir Siap is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Timur Tengah Makin Panas Mesir Siap matter?

Timur Tengah Makin Panas Mesir Siap matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.