PusatKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Saham Global Menguat, Yield US Treasury Turun Jelang Keputusan The Fed

Published September 17, 2026 · Updated September 17, 2026 · By Lisa Hernandez - pusatkabar.com

Foto : Lisa Hernandez - pusatkabar.com

Pasar Global Berbalik Menguat Menjelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Pusatkabar.com – Pasar keuangan global menunjukkan pemulihan pada Rabu, 16 September, setelah tekanan yang berlangsung selama dua sesi perdagangan sebelumnya. Kenaikan terjadi di tengah fokus investor yang tertuju pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed, yang dijadwalkan diumumkan pada hari yang sama.

Sentimen positif di saham muncul ketika imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat kembali menurun. Pergerakan yield menjadi perhatian karena sebelumnya kenaikan imbal hasil US Treasury, bersama lonjakan harga minyak, sempat memicu kekhawatiran tentang inflasi dan ketahanan pertumbuhan ekonomi.

Pelaku pasar kini menempatkan probabilitas lebih dari 90% untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin. Indikasi tersebut tercermin dalam CME Group FedWatch Tool dan memperlihatkan kuatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS masih akan mempertahankan sikap ketat terhadap inflasi.

Saham Teknologi Mengangkat Wall Street

Di Amerika Serikat, perdagangan saham berlangsung bervariasi. Indeks S&P 500 naik 0,26%, sedangkan Nasdaq Composite bertambah 0,60%. Keduanya mendapat dukungan dari sektor teknologi serta jasa komunikasi.

Dow Jones Industrial Average bergerak ke arah sebaliknya dengan penurunan 0,18%. Perbedaan kinerja ketiga indeks utama itu menggambarkan sikap selektif investor menjelang pengumuman The Fed, terutama pada saham-saham yang lebih sensitif terhadap arah suku bunga dan prospek pertumbuhan.

Pasar Eropa juga bergerak menguat. STOXX 600 mencatat kenaikan 0,44%, disusul FTSE 100 Inggris yang bertambah 0,28%. Bursa Jerman, Prancis, dan Spanyol turut berada di zona hijau selama sesi perdagangan tersebut.

Indeks MSCI untuk saham dunia meningkat 0,35% setelah sebelumnya melemah dua hari berturut-turut. Pemulihan ini memberi sinyal bahwa penurunan yield obligasi telah membantu mengurangi sebagian tekanan yang sebelumnya membebani aset berisiko.

Chief Investment Officer Sparrow Capital Management, Gerry Sparrow, menilai pelemahan pasar sebelum keputusan The Fed berkaitan dengan ketidakpastian mengenai kebijakan moneter berikutnya. Investor perlu mencermati bukan hanya angka kenaikan suku bunga, melainkan juga nada komunikasi bank sentral tentang langkah setelahnya.

Saya memperkirakan karena suku bunga telah menembus level 5% atau mendekatinya, hal itu menunjukkan adanya inflasi dalam sistem, ujar Sparrow.

Yield Treasury Turun di Bawah Sorotan Investor

Di pasar obligasi, yield US Treasury tenor dua tahun turun 4,42 basis poin menjadi 4,619%. Surat utang berjangka pendek ini sering dipantau sebagai indikator yang peka terhadap perubahan perkiraan kebijakan The Fed.

Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga turun 3,3 basis poin ke level 4,963%. Angka itu kembali berada di bawah ambang psikologis 5%, setelah level tersebut sebelumnya menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan biaya pinjaman dan menekan valuasi aset keuangan.

Penurunan yield dapat memberi ruang bagi saham, khususnya emiten pertumbuhan dan teknologi yang valuasinya biasanya lebih terdampak saat tingkat bunga tinggi. Namun, respons pasar tetap sangat bergantung pada pesan yang disampaikan The Fed setelah keputusan resmi diumumkan.

The Fed dijadwalkan merilis kebijakan moneternya pada pukul 18.00 GMT, atau pukul 14.00 waktu AS. Setelah itu, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan memberikan konferensi pers. Investor akan mengamati penjelasan mengenai risiko inflasi, kondisi ekonomi, serta kemungkinan arah suku bunga pada periode mendatang.

Harga Minyak Surut, Risiko Pasokan Tetap Ada

Harga minyak mentah bergerak turun setelah Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak melalui Oman. Penawaran itu muncul setelah serangan drone merusak jaringan pipa minyak Arab Saudi menuju Laut Merah.

Tambahan pasokan tersebut membantu meredakan sebagian kecemasan pasar atas potensi gangguan energi dari Timur Tengah. Meski demikian, risiko belum sepenuhnya hilang karena lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih terbatas di tengah meningkatnya serangan di kawasan tersebut.

Selat Hormuz memiliki peran penting dalam jalur perdagangan energi dunia. Karena itu, pembatasan pergerakan kapal di wilayah tersebut tetap berpotensi memengaruhi persepsi pasar terhadap keamanan pasokan minyak global, meskipun harga saat ini mengalami koreksi.

Minyak Brent turun 2,4% dan ditutup pada US$106,01 per barel. Koreksi harga minyak dapat membantu meredakan kekhawatiran inflasi dalam jangka pendek, tetapi kondisi geopolitik di kawasan produsen energi masih menjadi faktor yang harus diawasi investor.

Dolar Stabil, Emas Menguat, Bitcoin Melemah

Di pasar mata uang, dolar AS bergerak relatif datar terhadap sejumlah mata uang utama. Indeks dolar berada di level 99,652, menandakan belum adanya perubahan besar dalam posisi greenback menjelang pengumuman kebijakan The Fed.

Euro melemah 0,07% menjadi US$1,1535. Yen Jepang juga turun 0,04% ke 155,16 per dolar AS. Pergerakan yang terbatas menunjukkan pasar valuta asing masih menunggu kepastian tentang suku bunga AS serta panduan kebijakan yang akan menyertainya.

Harga emas spot justru naik 1,3% menjadi US$4.348,69 per ons troi. Penguatan emas memperlihatkan tetap adanya permintaan terhadap aset yang sering dipandang sebagai perlindungan ketika pasar menghadapi ketidakpastian inflasi, kebijakan moneter, dan ketegangan geopolitik.

Bitcoin turun 0,42% ke US$75.580,56. Tekanan terhadap aset kripto berlanjut setelah Senat AS menolak melanjutkan pembahasan legislasi kripto komprehensif yang sebelumnya didukung Presiden Donald Trump.

Bagi investor, keputusan The Fed akan menjadi penentu utama arah pasar berikutnya. Kenaikan suku bunga yang telah banyak diperhitungkan pasar mungkin tidak menimbulkan kejutan besar, tetapi pernyataan bank sentral mengenai inflasi, energi, dan prospek kebijakan lanjutan berpotensi menentukan pergerakan saham, obligasi, dolar, emas, serta aset digital.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Saham Global Menguat Yield US Treasury?

Saham Global Menguat Yield US Treasury is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Saham Global Menguat Yield US Treasury matter?

Saham Global Menguat Yield US Treasury matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.