PusatKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Dua Emiten Bank Mengumumkan Rencana Buyback Saham, Begini Kata Analis

Published Oktober 20, 2026 · Updated Oktober 20, 2026 · By Joseph Gonzalez - pusatkabar.com

Foto : Joseph Gonzalez - pusatkabar.com

Buyback Bank Jadi Sorotan di Tengah Gejolak Bursa

Pusatkabar.com – Pasar saham Indonesia mengalami pergerakan sangat tajam setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyatakan sedang mempertimbangkan penurunan status pasar modal Indonesia, dari emerging market menjadi standalone market. Situasi tersebut membuat sejumlah emiten berupaya memberi sinyal positif kepada pelaku pasar, termasuk perusahaan-perusahaan perbankan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Tekanan besar terlihat pada Jumat, 16 Oktober 2026. Pada penutupan perdagangan hari itu, Indeks Harga Saham Gabungan berada di posisi 5.185,10, setelah merosot 14,91% dalam sepekan. Sentimen negatif belum berhenti pada awal pekan berikutnya. Senin, 19 Oktober 2026, IHSG kembali turun 3,64% dalam satu hari hingga menyentuh level 4.996,6.

Namun, pasar menunjukkan pemulihan pada Selasa, 20 Oktober 2026. IHSG ditutup naik 5,65% ke level 5.278,89. Kenaikan tersebut terjadi setelah beberapa hari volatilitas tinggi yang menekan harga berbagai saham, termasuk saham bank berkapitalisasi besar.

BBCA Lanjutkan Program Pembelian Kembali

PT Bank Central Asia Tbk mengumumkan pelaksanaan pembelian kembali saham atau buyback untuk ketiga kalinya pada tahun ini. Proses buyback tersebut dijadwalkan berlangsung pada 19 hingga 21 Oktober 2026.

Rencana itu merupakan bagian dari mandat yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan untuk Tahun Buku 2025, yang diselenggarakan pada Maret 2026. Dalam rapat tersebut, BBCA memperoleh persetujuan penggunaan dana maksimal Rp5 triliun untuk buyback dalam jangka waktu satu tahun.

Sebelumnya, bank tersebut telah melakukan buyback pada April dan Juni 2026. Sampai saat ini, manajemen belum mengungkapkan nilai realisasi dari pembelian kembali saham yang telah dijalankan. Bagi investor, buyback biasanya diperhatikan sebagai salah satu bentuk aksi korporasi yang dapat mencerminkan fleksibilitas perusahaan dalam mengelola modal dan saham beredar.

Pada 19 Oktober 2026, ketika pengumuman buyback disampaikan, saham BBCA tetap mengalami tekanan. Harga sahamnya ditutup turun 6,86% menjadi Rp4.820 per saham. Penurunan itu membawa BBCA ke batas auto reject bawah atau ARB sebesar 7%, sesuai ketentuan terbaru Bursa Efek Indonesia.

Sehari kemudian, saham BBCA berbalik menguat. Pada akhir perdagangan 20 Oktober 2026, harga saham BBCA naik 7,88% menjadi Rp5.200 per saham. Perubahan arah yang cepat ini menggambarkan betapa sensitifnya pasar terhadap sentimen selama periode volatilitas tinggi.

BBTN Mengkaji Opsi Buyback

PT Bank Tabungan Negara Tbk juga membuka kemungkinan melakukan pembelian kembali saham. Berbeda dengan BBCA yang telah masuk tahap pelaksanaan, BBTN masih menempatkan buyback sebagai opsi aksi korporasi yang sedang dipertimbangkan dengan melihat perkembangan pasar dan kebutuhan strategis perseroan.

Direktur Utama BBTN Nixon Napitupulu menjelaskan bahwa kajian tersebut tidak hanya melihat pergerakan harga saham. Manajemen juga memperhitungkan kondisi keuangan perusahaan, kecukupan modal, kebutuhan dana untuk ekspansi usaha, serta ketentuan regulator yang berlaku.

“Buyback merupakan salah satu opsi yang sedang kami kaji, termasuk terkait dengan potensi pemanfaatan saham hasil pembelian kembali untuk peruntukan tertentu sesuai dengan kebutuhan Perseroan,” kata Nixon, Selasa (20/10/2026).

Pertimbangan ini penting karena keputusan buyback perlu diselaraskan dengan agenda bisnis bank. Di satu sisi, pembelian kembali saham dapat menjadi opsi manajemen modal. Di sisi lain, perbankan tetap perlu menjaga kecukupan modal dan ketersediaan pendanaan untuk mendukung kegiatan usaha maupun rencana pertumbuhan.

Saham BBTN turut bergerak menguat pada perdagangan 20 Oktober 2026. Harga saham bank tersebut naik 5,88% dan ditutup pada level Rp900 per saham.

Rebound Pasar Tidak Hanya Ditentukan Buyback

Penguatan saham BBCA dan BBTN pada 20 Oktober tidak dapat langsung dipisahkan dari kondisi pasar yang lebih luas. Setelah penurunan ekstrem dalam beberapa hari sebelumnya, banyak saham bergerak pulih bersamaan dengan rebound IHSG.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai koreksi tajam yang terjadi telah membawa indikator teknikal ke area oversold ekstrem. Kondisi ini dapat menciptakan ruang bagi pemulihan teknikal, ketika harga saham yang sebelumnya turun tajam mulai mengalami pembelian kembali oleh pelaku pasar.

“Itu membuka peluang terjadinya pemulihan teknikal,” sebut Nafan.

Istilah oversold kerap digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika tekanan jual telah berlangsung sangat kuat dalam periode tertentu. Dalam keadaan seperti itu, peluang rebound dapat muncul, meski arah pergerakan berikutnya tetap dipengaruhi sentimen pasar, kondisi ekonomi, kebijakan regulator, dan respons investor terhadap informasi baru.

Bagi pemegang saham bank, pengumuman buyback dapat menjadi informasi yang relevan untuk dipantau, tetapi bukan satu-satunya faktor dalam pengambilan keputusan investasi. Investor juga perlu mencermati tujuan aksi korporasi, besaran dana yang disiapkan, realisasi pelaksanaannya, serta kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan bisnis dan permodalan.

Volatilitas yang terjadi pada Oktober 2026 memperlihatkan bahwa saham perbankan, meskipun berasal dari emiten besar, tetap dapat mengalami perubahan harga yang signifikan dalam waktu singkat. Rencana buyback dari BBCA dan kajian serupa di BBTN menambah perhatian pasar terhadap langkah manajemen bank dalam merespons gejolak yang sedang berlangsung.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Dua Emiten Bank Mengumumkan Rencana Buyback?

Dua Emiten Bank Mengumumkan Rencana Buyback is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Dua Emiten Bank Mengumumkan Rencana Buyback matter?

Dua Emiten Bank Mengumumkan Rencana Buyback matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.