PusatKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Jelang Pengumuman RDG BI, Saham Bank Loyo Lagi pada Akhir Sesi I Rabu (21/10/2026)

Published Oktober 21, 2026 · Updated Oktober 21, 2026 · By Lisa Hernandez - pusatkabar.com

Foto : Lisa Hernandez - pusatkabar.com

Saham Perbankan Melemah Menjelang Keputusan Suku Bunga BI

Pusatkabar.com – Pergerakan saham perbankan kembali kehilangan tenaga pada perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026. Menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, investor tampak lebih berhati-hati sehingga sejumlah saham bank berkapitalisasi besar bergerak di zona merah hingga penutupan sesi pertama.

Indeks Harga Saham Gabungan turut melemah 0,84% ke posisi 5.234,36 pada akhir sesi I. Kondisi tersebut berlawanan dengan perdagangan sehari sebelumnya, ketika IHSG mencatat lonjakan 5,65% dan berakhir di level 5.287. Penguatan pada Selasa, 20 Oktober 2026, juga sempat mendorong saham-saham bank besar naik secara serempak.

Perhatian pasar kini tertuju pada keputusan Bank Indonesia mengenai BI-Rate. Hasil rapat tersebut penting karena menentukan arah suku bunga acuan, yang dapat memengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap sektor keuangan, biaya dana, pembiayaan, serta sentimen investasi di pasar saham.

BBNI Mencatat Pelemahan Paling Dalam

Di antara empat bank besar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengalami tekanan paling besar pada sesi pertama perdagangan. Harga saham BBNI turun 2,17% menjadi Rp 3.150 per saham.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga terkoreksi 1,08% dan berada di Rp 3.650. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,48% menjadi Rp 5.175, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 0,36% ke Rp 2.780.

Pelemahan ini muncul setelah reli kuat yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pada Selasa, BBRI menjadi saham bank besar dengan kenaikan tertinggi, yakni 9,84% dalam satu hari hingga mencapai Rp 2.790. BMRI menyusul dengan kenaikan 9,82% ke Rp 3.690.

BBNI pada hari yang sama menguat 8,78% hingga Rp 3.220. BBCA pun naik 7,88% dan ditutup pada Rp 5.200. Kenaikan kompak tersebut menunjukkan bahwa minat beli terhadap sektor perbankan sempat menguat seiring lonjakan IHSG, tetapi keberlanjutannya belum terlihat solid pada perdagangan berikutnya.

Tekanan Jual Terlihat pada Saham Bank Besar

Aktivitas transaksi di pasar reguler memperlihatkan adanya aksi jual bersih pada seluruh saham bank besar yang disebutkan. BBRI menjadi saham dengan nilai net sell paling besar, mencapai Rp 117,1 miliar pada sesi tersebut.

BMRI berada di urutan berikutnya dengan net sell Rp 106,8 miliar. BBCA mencatat penjualan bersih sebesar Rp 73,2 miliar, sedangkan BBNI membukukan net sell Rp 25,9 miliar.

Data ini menggambarkan bahwa sebagian investor memilih mengurangi posisi menjelang kepastian kebijakan moneter. Setelah kenaikan tajam sehari sebelumnya, pasar juga dapat mengalami pergerakan yang lebih fluktuatif karena pelaku pasar menimbang kembali risiko dan peluang dari arah suku bunga.

Bagi investor, perbedaan antara kenaikan pada Selasa dan pelemahan pada Rabu menegaskan bahwa pergerakan harga saham bank tidak selalu berjalan satu arah. Sentimen jangka pendek dapat berubah cepat, khususnya ketika pasar menanti agenda ekonomi penting seperti pengumuman hasil rapat bank sentral.

BI-Rate Menjadi Fokus Pasar

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia menjadi sorotan karena menghasilkan keputusan mengenai BI-Rate. Sejak awal 2026, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar total 100 basis poin. Posisi BI-Rate saat ini berada pada level 5,75%.

Perubahan suku bunga acuan kerap diperhatikan investor karena memiliki kaitan luas dengan kondisi pasar keuangan. Bagi sektor perbankan, arah suku bunga dapat menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan pasar dalam melihat prospek pendanaan, penyaluran kredit, dan dinamika pendapatan bunga.

Namun, respons harga saham tidak hanya bergantung pada keputusan suku bunga itu sendiri. Pasar juga mencermati bagaimana keputusan tersebut diterima investor secara keseluruhan, terutama setelah volatilitas yang terjadi dalam dua hari perdagangan terakhir.

Keputusan RDG BI pada 21 Oktober 2026 akan menjadi salah satu penentu sentimen lanjutan bagi saham perbankan dan IHSG. Jika ketidakpastian berkurang setelah pengumuman, pelaku pasar akan memiliki dasar baru untuk menilai posisi mereka. Sebaliknya, perbedaan antara ekspektasi dan hasil keputusan dapat menjaga volatilitas tetap tinggi.

Untuk saat ini, saham bank besar memasuki fase perdagangan yang lebih berhati-hati setelah penguatan besar pada hari sebelumnya. Koreksi di sesi I memperlihatkan bahwa minat beli yang muncul pada Selasa belum cukup untuk membentuk tren penguatan yang konsisten menjelang pengumuman kebijakan Bank Indonesia.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Jelang Pengumuman RDG BI Saham Bank?

Jelang Pengumuman RDG BI Saham Bank is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Jelang Pengumuman RDG BI Saham Bank matter?

Jelang Pengumuman RDG BI Saham Bank matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.