Likuiditas Bank Kecil Tertekan, Dana Pihak Ketiga Susut dan Bunga Naik
Likuiditas Bank Bermodal Kecil Menghadapi Tekanan Baru
Pusatkabar.com – Bank-bank dengan modal inti lebih kecil berada dalam situasi yang semakin menantang ketika pertumbuhan dana pihak ketiga melemah, sementara biaya memperoleh pendanaan berpotensi meningkat. Kondisi tersebut membuat pengelolaan likuiditas menjadi perhatian utama agar penyaluran kredit tetap berjalan tanpa menambah risiko yang tidak diperlukan.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan dana pihak ketiga pada kelompok bank berdasarkan modal inti atau KBMI I mengalami kontraksi 8,14% secara tahunan pada Agustus 2026. Pelemahan penghimpunan simpanan ini memberi tekanan lebih besar kepada bank kecil, terutama bagi institusi yang masih bergantung pada dana masyarakat sebagai fondasi utama pembiayaan kredit.
Dana pihak ketiga mencakup giro, tabungan, dan deposito yang dikumpulkan perbankan. Saat pertumbuhannya melambat atau bahkan menurun, bank perlu lebih aktif menjaga ketersediaan dana untuk memenuhi kebutuhan nasabah, mendukung kredit yang telah disalurkan, serta mempertahankan rasio likuiditas sesuai profil risikonya.
Pelonggaran GWM Belum Menjadi Jawaban Penuh
Bank Indonesia telah melonggarkan Giro Wajib Minimum atau GWM, sebuah langkah yang pada dasarnya dapat memberi ruang likuiditas lebih longgar bagi sektor perbankan. Namun, kebijakan ini belum sepenuhnya menghilangkan persoalan pendanaan yang dihadapi bank dengan basis simpanan lebih terbatas.
Tantangan tersebut bertambah setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5% pada pekan ini. Pada saat yang sama, BI-Rate tetap dipertahankan di level 5,75%.
Kenaikan bunga deposit facility dapat memengaruhi biaya dana di pasar uang. Bagi bank yang membutuhkan sumber likuiditas jangka pendek, pasar uang antarbank atau PUAB sebelumnya menjadi salah satu pilihan untuk memperoleh dana. Ketika tingkat bunga fasilitas Bank Indonesia naik, ruang untuk mendapatkan pendanaan yang lebih murah melalui pasar tersebut dapat menyempit.
Situasi ini menuntut bank untuk menyeimbangkan kebutuhan ekspansi kredit dengan kapasitas pendanaan yang tersedia. Pertumbuhan kredit yang lebih cepat daripada dana yang dihimpun dapat meningkatkan ketergantungan pada sumber dana lain, yang pada kondisi tertentu memiliki biaya lebih tinggi.
Akses Likuiditas Bank Indonesia dan Peran Dealer Utama
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa perbankan tetap dapat mengakses likuiditas dari Bank Indonesia apabila memiliki aset dasar yang memadai sesuai nilai kebutuhan pendanaan. Aset yang dapat digunakan mencakup surat berharga maupun valuta asing.
“Kalau tidak match, ada instrumen BI untuk mengakses likuiditas sepanjang memiliki underlying,” ujar Erwin, Jumat (23/10/2026).
Ketersediaan aset dasar menjadi unsur penting dalam akses terhadap fasilitas likuiditas. Bank yang memiliki aset sesuai persyaratan dapat memanfaatkan instrumen Bank Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dana. Sebaliknya, keterbatasan aset yang dapat digunakan sebagai underlying bisa membuat pilihan pendanaan menjadi lebih sempit.
Bank Indonesia juga akan memperkuat fungsi bank dealer utama atau DU di pasar uang dan pasar valuta asing. Penguatan peran tersebut ditujukan untuk membantu proses redistribusi likuiditas dalam sistem keuangan.
Melalui mekanisme ini, bank yang belum memiliki aset dasar cukup untuk mengakses fasilitas likuiditas Bank Indonesia dapat memperoleh pendanaan lewat bank dealer utama. Jalur tersebut dapat menjadi penopang penting bagi kelancaran distribusi dana antarlembaga ketika kondisi likuiditas tidak merata.
OK Bank Menjaga Keseimbangan Kredit dan Pendanaan
Salah satu gambaran tekanan pendanaan terlihat pada OK Bank. Hingga Agustus 2026, rasio kredit terhadap pendanaan atau loan to deposit ratio bank tersebut tercatat sebesar 131,04%. Angka itu menunjukkan penyaluran kredit lebih besar daripada dana yang dihimpun melalui simpanan.
LDR merupakan salah satu indikator yang diperhatikan untuk membaca keseimbangan antara penghimpunan dana dan penyaluran kredit. Rasio yang tinggi tidak otomatis mencerminkan masalah, tetapi dapat menandakan kebutuhan pengelolaan likuiditas yang lebih ketat, khususnya ketika pertumbuhan simpanan sedang tertekan.
Direktur OK Bank Efdinal Alamsyah menyampaikan bahwa perusahaannya terus mencermati pergerakan suku bunga dan situasi likuiditas di pasar. Fokus bank mencakup penguatan penghimpunan dana pihak ketiga serta perluasan pilihan sumber pendanaan.
Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga fungsi intermediasi, yaitu peran bank dalam menghimpun dana dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit. Di tengah biaya dana yang berpotensi meningkat, strategi pendanaan menjadi faktor penting agar kegiatan intermediasi dapat berlangsung secara sehat.
OK Bank juga akan menyalurkan kredit dengan pendekatan selektif, mempertimbangkan kualitas aset dan ketersediaan sumber dana. Hingga akhir tahun, bank tersebut berkomitmen mempertahankan LDR pada tingkat yang sehat sesuai profil risikonya.
Bank Jakarta Mengandalkan Ekosistem Daerah
Di sisi lain, Direktur Utama Bank Jakarta Agus Haryoto melihat penurunan GWM sebagai langkah yang membantu menjaga likuiditas industri perbankan di tengah perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga.
Untuk memperkuat sumber dana, Bank Jakarta akan mengoptimalkan penghimpunan giro dan tabungan melalui ekosistem pemerintah daerah. Strategi tersebut juga mencakup layanan penggajian, pelaku usaha, merchant, serta segmen usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.
Penguatan dana murah seperti giro dan tabungan memiliki arti penting bagi bank karena dapat membantu menjaga biaya dana. Dalam lingkungan suku bunga yang lebih ketat, kemampuan membangun hubungan transaksi dengan nasabah menjadi salah satu cara untuk memperkokoh basis pendanaan.
Ke depan, bank-bank kecil perlu terus menyesuaikan strategi penghimpunan dana, penyaluran kredit, dan penggunaan fasilitas likuiditas. Pelonggaran GWM memberi dukungan, tetapi ketahanan pendanaan tetap akan ditentukan oleh kemampuan masing-masing bank menjaga kepercayaan nasabah, memperluas basis simpanan, dan mengelola risiko secara disiplin.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Likuiditas Bank Kecil Tertekan Dana Pihak?Likuiditas Bank Kecil Tertekan Dana Pihak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Likuiditas Bank Kecil Tertekan Dana Pihak matter?Likuiditas Bank Kecil Tertekan Dana Pihak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.