PusatKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pertumbuhan DPK Perbankan Melambat, Bank Berebut Dana Murah di Kuartal IV-2026

Published Oktober 26, 2026 · Updated Oktober 26, 2026 · By Karen Williams - pusatkabar.com

Foto : Karen Williams - pusatkabar.com

DPK Perbankan Melambat, Bank Fokus Menghimpun Dana Murah

Pusatkabar.com – Pertumbuhan DPK Perbankan Melambat Bank menjadi perhatian menjelang kuartal IV-2026. Di tengah kebutuhan likuiditas yang masih besar, perbankan berupaya memperkuat penghimpunan giro dan tabungan agar biaya dana tetap terjaga saat penyaluran kredit berlanjut.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat dana pihak ketiga (DPK) perbankan mencapai Rp10.413 triliun pada Agustus 2026. Nilai tersebut tumbuh 10,94% secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan 11,21% secara tahunan pada Juli 2026.

Meski laju dana simpanan melandai, periode akhir tahun tetap dapat memberi dorongan bagi perbankan. Aktivitas transaksi perusahaan, realisasi belanja pemerintah, pembayaran gaji, serta peningkatan konsumsi masyarakat berpotensi memperbesar perputaran dana di sistem perbankan.

Optimisme Penghimpunan Dana pada Kuartal IV

Survei Perbankan Bank Indonesia menunjukkan pelaku industri tetap optimistis terhadap penghimpunan dana hingga akhir tahun. Saldo bersih tertimbang (SBT) prakiraan pertumbuhan DPK kumulatif pada kuartal IV-2026 tercatat 89,76%, meningkat dari 87,52% pada kuartal III-2026.

Namun, tingkat optimisme tersebut masih lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2025 yang mencapai 93,97%. Kondisi ini menandakan bank melihat peluang pertumbuhan dana tetap terbuka, walaupun keyakinannya belum sekuat periode akhir tahun sebelumnya.

Tabungan diproyeksikan menjadi penopang utama, dengan SBT sebesar 90,29%. Giro menyusul dengan SBT 89,64%, sedangkan deposito diperkirakan tumbuh lebih terbatas dengan SBT 28,74%, lebih rendah daripada kuartal sebelumnya.

Komposisi ini penting karena giro dan tabungan atau current account savings account (CASA) umumnya memiliki biaya yang lebih rendah daripada deposito. Ketika pertumbuhan DPK perbankan melambat, bank cenderung semakin mengandalkan dana berbasis transaksi untuk menjaga efisiensi biaya pendanaan.

Ekspektasi Belum Sama dengan Realisasi

SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Trioksa Siahaan, menilai peningkatan indikator survei mencerminkan pandangan positif industri terhadap penghimpunan dana pada penghujung 2026.

“Menurut saya, peningkatan SBT penghimpunan DPK dari 87,52% menjadi 89,76% menunjukkan optimisme perbankan terhadap prospek pendanaan pada triwulan IV 2026, terutama didorong oleh potensi peningkatan aktivitas transaksi korporasi, realisasi belanja pemerintah, serta transaksi masyarakat menjelang akhir tahun,” ujar Trioksa kepada Kontan, Senin (26/10/2026).

Meski demikian, SBT merupakan cerminan ekspektasi responden survei, bukan angka realisasi dana yang telah terkumpul. Karena itu, prospek penguatan DPK perlu dibaca bersama data aktual Agustus 2026 yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan secara tahunan.

“Optimisme tersebut perlu dicermati karena SBT mencerminkan ekspektasi responden, bukan besaran pertumbuhan DPK, sementara realisasi DPK Agustus masih menunjukkan perlambatan pertumbuhan secara tahunan,” katanya.

Giro dan tabungan berpeluang tumbuh dari pengelolaan kas perusahaan, transaksi payroll, aktivitas perdagangan, serta penggunaan layanan digital. Sebaliknya, ketergantungan berlebihan pada deposito berbunga tinggi dapat meningkatkan biaya dana dan menekan ruang keuntungan bank.

Persaingan Dana Murah dan Risiko Likuiditas

Bank menghadapi tantangan ketika pertumbuhan kredit bergerak lebih cepat daripada pertumbuhan simpanan. Persaingan suku bunga deposito, kebutuhan dana operasional dunia usaha, serta perpindahan dana masyarakat ke instrumen investasi berimbal hasil menarik juga dapat memperketat likuiditas.

“Tantangan perbankan berasal dari pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan DPK, persaingan suku bunga simpanan, kebutuhan likuiditas dunia usaha, serta peralihan dana masyarakat ke instrumen investasi dengan imbal hasil lebih menarik,” jelas Trioksa.

Dalam kondisi pertumbuhan DPK perbankan melambat bank perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dana, biaya pendanaan, dan ekspansi kredit. Penguatan ekosistem transaksi, peningkatan loyalitas nasabah, diversifikasi sumber dana, serta penetapan bunga deposito secara selektif menjadi strategi yang relevan.

FAQ: Dana Pihak Ketiga Perbankan

Apa yang dimaksud DPK?

DPK adalah dana yang dihimpun bank dari masyarakat, terutama dalam bentuk giro, tabungan, dan deposito. Dana ini menjadi salah satu sumber utama bagi bank untuk menyalurkan kredit.

Mengapa bank mengejar dana murah?

Dana murah umumnya berasal dari giro dan tabungan yang menawarkan biaya bunga lebih rendah dibandingkan deposito. Porsi dana murah yang lebih besar membantu bank mengendalikan biaya pendanaan.

Apakah perlambatan DPK selalu berdampak negatif?

Tidak selalu. Dampaknya bergantung pada pertumbuhan kredit, kondisi likuiditas, komposisi dana, dan biaya yang harus dibayar bank untuk memperoleh simpanan. Namun, perlambatan yang berlangsung lama dapat membuat persaingan dana semakin ketat.

Related Reading