Skip to content
Fresh Desk
September 10, 2026
Industri

IBC Klaim Baterai Lokal Sudah Kompetitif untuk TKDN EV

Matthew Smith - pusatkabar.com 4 mins baca

Industri baterai dalam negeri diproyeksikan memiliki peran yang semakin besar saat persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN kendaraan listrik

IBC Klaim Baterai Lokal Sudah Kompetitif untuk TKDN EV

IBC Siapkan Baterai Lokal untuk Mendukung Target TKDN Kendaraan Listrik 2027

Pusatkabar.com – Industri baterai dalam negeri diproyeksikan memiliki peran yang semakin besar saat persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN kendaraan listrik berbasis baterai mulai diperketat pada 2027. Indonesia Battery Corporation (IBC) menyatakan optimistis kapasitas manufaktur nasional dapat menopang kebutuhan kendaraan listrik, khususnya segmen roda empat.

Ketentuan TKDN untuk kendaraan listrik berbasis baterai atau KBLBB saat ini ditetapkan paling rendah 40% sampai 2026. Angka tersebut akan meningkat menjadi minimal 60% pada periode 2027–2029, sebelum kembali naik menjadi setidaknya 80% mulai 2030. Perubahan bertahap ini membuat pasokan komponen lokal, terutama baterai sel, menjadi semakin menentukan bagi industri otomotif listrik nasional.

CATIB Diposisikan untuk Pasokan E4W

Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia (IBC), Aditya Farhan Arif, menyampaikan bahwa IBC telah menyiapkan PT Cahaya Anugrah Industri Baterai Indonesia (CATIB) untuk menjawab kebutuhan pabrikan kendaraan listrik roda empat atau E4W di Indonesia.

“IBC melalui CATIB sangat siap untuk mendukung industri E4W yang ada di Indonesia,” kata Aditya, Kamis (10/9/2026).

Persiapan ini menjadi penting karena pemenuhan TKDN tidak hanya bergantung pada perakitan kendaraan di dalam negeri. Komponen bernilai besar, termasuk baterai, turut memengaruhi seberapa tinggi kandungan lokal yang dapat dicapai suatu produk kendaraan listrik.

IBC menyebut CATIB telah menjalin kerja sama dengan salah satu pabrikan kendaraan listrik. Selain itu, komunikasi masih berlangsung dengan sejumlah calon mitra lain yang berpotensi menggunakan produk baterai domestik.

“Saat ini sudah ada pabrikan yang menjalin kerjasama dengan CATIB dan kami terus berkomunikasi dengan mitra potensial lainnya,” ujarnya.

Meski demikian, perusahaan belum mengungkap jumlah agen pemegang merek atau APM yang telah didekati. Kapasitas pasokan baterai yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik pada 2027 juga belum dirinci.

Persaingan Harga dengan Produk Impor

Selain ketersediaan pasokan, faktor biaya akan menjadi salah satu pertimbangan utama bagi produsen kendaraan listrik dalam memilih baterai. Aditya menilai produk yang diproduksi di Indonesia telah memiliki posisi harga yang kompetitif apabila dibandingkan dengan baterai impor memakai teknologi atau kimia katoda yang setara.

“Dari sisi harga, untuk cathode chemistry yang sama, baterai buatan Indonesia secara umum kompetitif,” katanya.

Kimia katoda merupakan salah satu unsur penting dalam teknologi baterai karena berkaitan dengan karakteristik dan biaya produksi baterai. Karena itu, perbandingan harga perlu dilakukan pada jenis teknologi yang sebanding agar penilaian daya saing dapat menggambarkan kondisi yang relevan.

IBC juga melihat ruang penguatan daya saing bagi produk dalam negeri apabila baterai yang didatangkan langsung dari luar negeri tidak memperoleh kelonggaran bea impor. Dalam skenario tersebut, baterai lokal dapat mempunyai posisi yang lebih menarik bagi pelaku industri.

“Dan akan menjadi lebih kompetitif lagi apabila baterai yang diimpor langsung tidak diberi kelonggaran bea impor,” lanjut Aditya.

Baterai Sel Menjadi Komponen Kunci TKDN

Kementerian Perindustrian menempatkan baterai sel sebagai salah satu bagian utama dalam penghitungan pencapaian TKDN kendaraan listrik. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika atau ILMATE Kemenperin, Setia Diarta, sebelumnya menekankan pentingnya komponen tersebut dalam mengejar target kandungan lokal.

Ketika ambang TKDN naik menjadi 60% pada 2027, penggunaan baterai dan berbagai komponen kendaraan listrik yang dibuat di Indonesia akan menjadi unsur penting untuk memperdalam rantai pasok otomotif nasional. Bagi pabrikan, tersedianya komponen lokal dapat membantu penyusunan strategi produksi agar kendaraan yang dipasarkan tetap memenuhi ketentuan yang berlaku.

Bagi industri pendukung, kenaikan target ini memberi sinyal kebutuhan pasar yang lebih jelas. Produsen baterai, pemasok material, serta perusahaan yang terlibat dalam rantai produksi kendaraan listrik akan menghadapi tuntutan untuk memastikan kesiapan produk, kapasitas, dan kerja sama dengan manufaktur kendaraan.

Peluang Kerja Sama Industri Domestik

IBC memandang peningkatan TKDN sebagai peluang sejalan dengan tumbuhnya minat produsen kendaraan listrik terhadap baterai buatan dalam negeri. Penjajakan yang dilakukan sejumlah pabrikan dengan CATIB menunjukkan bahwa penggunaan komponen lokal mulai menjadi bagian dari pertimbangan rantai pasok mereka.

Keberadaan pasokan baterai domestik berpotensi memberi pilihan tambahan bagi industri E4W yang beroperasi di Indonesia. Namun, pemanfaatan baterai lokal pada akhirnya akan dipengaruhi oleh kebutuhan teknis kendaraan, kesesuaian teknologi, kapasitas produksi, harga, serta keputusan bisnis masing-masing pabrikan.

Dengan jadwal kenaikan TKDN yang telah ditetapkan hingga 2030, industri baterai nasional memiliki waktu untuk memperluas kolaborasi dan mempersiapkan pemenuhan kebutuhan kendaraan listrik. Kesiapan CATIB yang disampaikan IBC menjadi salah satu bagian dari upaya membangun ekosistem kendaraan listrik yang semakin terintegrasi di dalam negeri.

Frequently Asked Questions

What is IBC Klaim Baterai Lokal Sudah Kompetitif?

IBC Klaim Baterai Lokal Sudah Kompetitif is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does IBC Klaim Baterai Lokal Sudah Kompetitif matter?

IBC Klaim Baterai Lokal Sudah Kompetitif matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Ikut berdiskusi