Penjualan Rokok Masih Tertekan, Cermati Rekomendasi Saham GGRM dan HMSP
Industri rokok nasional mencatat kenaikan produksi yang cukup besar sepanjang semester pertama 2026. Meski demikian, peningkatan jumlah batang yang diproduksi
Produksi Rokok Naik, Permintaan Pasar Belum Pulih
Pusatkabar.com – Industri rokok nasional mencatat kenaikan produksi yang cukup besar sepanjang semester pertama 2026. Meski demikian, peningkatan jumlah batang yang diproduksi belum menjadi tanda bahwa konsumsi rokok di dalam negeri telah kembali menguat.
Tekanan pada volume penjualan masih terlihat di pasar. Kondisi ini menggambarkan bahwa konsumen tetap berhati-hati dalam berbelanja, sementara sebagian permintaan bergeser ke produk dengan harga yang lebih terjangkau. Bagi emiten rokok, tingginya produksi belum serta-merta menjamin perbaikan pendapatan maupun laba.
Data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menunjukkan produksi rokok nasional pada Januari hingga Juni 2026 mencapai 157,4 miliar batang. Angka tersebut meningkat 9,76% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi capaian produksi tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, sejak 2019.
Namun, perkembangan produksi perlu dibaca secara lebih hati-hati. Persediaan, strategi distribusi, komposisi produk, serta langkah produsen menyiapkan kebutuhan pasar dapat memengaruhi angka produksi. Karena itu, pergerakan volume penjualan dan kemampuan perusahaan menjaga margin tetap menjadi indikator penting bagi investor.
Emiten Tier I Masih Menghadapi Perlambatan
Kinerja perusahaan rokok besar belum menunjukkan arah yang seragam dengan kenaikan produksi industri. Emiten tier I, termasuk PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), masih menghadapi pertumbuhan pendapatan yang terbatas.
Penjualan Gudang Garam selama enam bulan pertama 2026 tercatat Rp41,2 triliun, turun 7,19% secara tahunan. Sementara itu, HM Sampoerna membukukan penjualan Rp56,49 triliun, atau hanya naik 2,39% dibandingkan semester pertama 2025.
Berbeda dari dua pemain besar tersebut, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) mencatatkan pertumbuhan penjualan yang lebih kuat. Pendapatan penjualan WIIM pada periode Januari-Juni 2026 naik 12,28% menjadi Rp3,23 triliun.
Perbedaan capaian ini menegaskan bahwa kondisi industri tidak dirasakan secara sama oleh seluruh pelaku usaha. Posisi merek, segmen harga, bauran produk, dan kemampuan menjangkau perubahan preferensi konsumen menjadi faktor yang dapat membedakan hasil tiap emiten.
Analis Panin Sekuritas Sarkia Adelia menilai lonjakan produksi belum sepenuhnya dapat diterjemahkan sebagai kenaikan permintaan maupun pertumbuhan volume penjualan rokok secara nasional. Situasi tersebut juga memperlihatkan kontras antara pemain tier I dan tier II.
Dalam membaca saham sektor ini, pertumbuhan pendapatan saja belum cukup. Investor juga perlu memperhatikan perubahan volume, harga jual rata-rata, biaya cukai, komposisi produk yang terjual, serta kemampuan perusahaan mempertahankan profitabilitas saat konsumen lebih sensitif terhadap harga.
Volume Penjualan Industri Tetap Menurun
Tekanan permintaan terlihat dari perkembangan volume penjualan industri. Data Nielsen memperlihatkan bahwa volume penjualan rokok masih bergerak turun pada semester I-2026, meski laju penurunannya lebih ringan dibandingkan setahun sebelumnya.
Direktur Gudang Garam Heru Budiman menyampaikan volume industri rokok turun 6,8% pada semester pertama tahun ini. Pada periode yang sama pada 2025, penurunannya mencapai 7,9%. Artinya, pelemahan memang tidak sedalam tahun lalu, tetapi pemulihan permintaan belum benar-benar terjadi.
“Sigaret Kretek Mesin (SKM), sebagai segmen terbesar, mencatat penurunan sebesar 8,8%,” kata Heru dalam paparan publik, Kamis (10/9/2026).
SKM menyumbang 62,2% dari total volume industri, sehingga penurunan pada segmen ini sangat berpengaruh terhadap gambaran keseluruhan pasar rokok. Segmen tersebut menjadi area penting bagi produsen besar, khususnya perusahaan yang memiliki eksposur kuat pada produk mesin.
Penurunan pada SKM juga menjelaskan mengapa kenaikan total produksi tidak otomatis meningkatkan kinerja seluruh emiten. Perusahaan perlu menghadapi pasar yang semakin mempertimbangkan harga, sedangkan produk dengan struktur biaya dan cukai tertentu dapat kehilangan daya tarik ketika daya beli konsumen melemah.
Peralihan Konsumsi ke Produk Lebih Terjangkau
Di tengah kontraksi SKM, segmen Sigaret Kretek Tangan atau SKT justru memperbesar pangsa pasarnya. SKT memiliki harga yang relatif lebih rendah karena beban cukainya lebih ringan, sehingga menjadi pilihan bagi sebagian konsumen yang menyesuaikan pengeluaran.
Pangsa pasar SKT meningkat dari 27,1% pada Desember 2023 menjadi 33,4% pada Juni 2026. Kenaikan ini menunjukkan perubahan pola konsumsi yang cukup jelas dalam beberapa tahun terakhir.
Pergeseran tersebut berkaitan dengan akumulasi kenaikan tarif cukai yang signifikan sepanjang 2020 hingga 2024. Dampaknya lebih terasa bagi produsen SKM tier I, termasuk Gudang Garam, terutama ketika masyarakat menghadapi tekanan daya beli dalam jangka panjang.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menekankan bahwa kenaikan produksi tidak dapat langsung dipandang sebagai katalis positif bagi emiten rokok.
“Tetap bergantung pada volume penjualan, harga jual, product mix, dan margin,” ujar Azis kepada media pada Kamis (10/9/2026).
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa angka produksi hanya satu bagian dari keseluruhan evaluasi bisnis. Jika volume masih tertekan atau pertumbuhan penjualan lebih banyak datang dari kenaikan harga, dampaknya terhadap laba dapat berbeda pada setiap perusahaan.
Bagi pasar saham, GGRM dan HMSP masih perlu dicermati melalui perkembangan penjualan berikutnya, khususnya kemampuan kedua emiten merespons pergeseran konsumen menuju produk yang lebih ekonomis. Di sisi lain, pertumbuhan WIIM menunjukkan bahwa peluang tetap tersedia bagi pemain yang memiliki posisi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini.
Industri rokok memasuki fase ketika efisiensi, pengelolaan portofolio produk, serta strategi harga menjadi semakin menentukan. Kenaikan produksi nasional memberikan sinyal adanya aktivitas manufaktur yang kuat, tetapi pemulihan kinerja emiten tetap akan sangat bergantung pada apakah permintaan konsumen benar-benar kembali tumbuh.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Penjualan Rokok Masih Tertekan Cermati Rekomendasi?
Penjualan Rokok Masih Tertekan Cermati Rekomendasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Penjualan Rokok Masih Tertekan Cermati Rekomendasi matter?
Penjualan Rokok Masih Tertekan Cermati Rekomendasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
