Investasi

IHSG Ambles 3,09% Sepekan, Simak Sentimennya di Pekan Depan

128947954-2

IHSG Tertekan Sepanjang Pekan, Pasar Menanti Arah Rupiah dan Yield Global

Pusatkabar.com – Perdagangan saham domestik menutup pekan terakhir September 2026 dengan tekanan yang cukup kuat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 25 September 2026, berakhir di level 6.241,89 setelah turun 56,71 poin atau 0,90%. Dalam akumulasi lima hari perdagangan, indeks terkoreksi 3,09%.

Tekanan jual terlihat luas di pasar. Sebanyak 118 saham berhasil menguat, sementara 558 saham melemah dan 117 saham bergerak tidak berubah. Komposisi tersebut menunjukkan sentimen negatif masih mendominasi pergerakan bursa pada pekan ini.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, melihat koreksi mingguan IHSG masih dipengaruhi oleh aksi jual. Sejumlah faktor global dan domestik secara bersamaan membebani minat pelaku pasar terhadap aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang.

Kenaikan Suku Bunga AS dan Yield Treasury

Faktor pertama yang menjadi perhatian pasar adalah kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve ke level 4%. Kebijakan tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat, dengan yield US Treasury tenor 10 tahun telah bergerak melampaui 5%.

“Hal ini turut menguatkan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan membuat aliran dana keluar dari emerging market,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).

Yield Treasury yang lebih tinggi sering menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan daya tarik instrumen pendapatan tetap di Amerika Serikat. Dalam situasi seperti ini, pasar negara berkembang dapat menghadapi risiko keluarnya dana, terutama ketika dolar AS juga menguat.

Bagi pasar saham Indonesia, perubahan arus dana global dapat memengaruhi sentimen harian. Investor juga perlu memperhatikan bahwa pergerakan indeks tidak hanya ditentukan oleh kondisi emiten, melainkan turut dipengaruhi arah kebijakan moneter serta preferensi risiko investor internasional.

Rupiah dan Harga Minyak Menambah Beban Sentimen

Nilai tukar rupiah menjadi perhatian kedua. Mata uang domestik berada di kisaran Rp17.942 per dolar AS, sebuah posisi yang meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap kemungkinan arus modal keluar serta tekanan pada surat berharga negara atau SBN.

Pelemahan rupiah dapat menjadi isu penting karena berkaitan dengan biaya impor, beban pihak yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, dan persepsi investor terhadap stabilitas pasar keuangan. Meski demikian, respons pasar tetap perlu dilihat bersama faktor lain, seperti langkah otoritas dan perkembangan ekonomi global.

Selain kurs, harga minyak mentah yang bertahan di atas US$100 per barel juga menjadi sumber kekhawatiran. Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar perhatian pasar terhadap inflasi global, yang pada akhirnya dapat memengaruhi arah suku bunga di berbagai negara.

“Saat ini, harganya berada di atas US$ 100 per barel dan akan meningkatkan kekhawatiran inflasi energi global,” paparnya.

Harga minyak memiliki dampak yang berbeda bagi tiap sektor. Karena itu, investor tidak cukup hanya melihat arah IHSG secara keseluruhan, tetapi juga perlu mencermati bagaimana perubahan harga komoditas memengaruhi prospek masing-masing emiten dan industrinya.

Proyeksi Perdagangan 28 September 2026

Untuk perdagangan Senin, 28 September 2026, IHSG diperkirakan masih berisiko melanjutkan pelemahan. Herditya menempatkan area support di 6.186, sedangkan resistance berada di 6.297. Level tersebut dapat menjadi acuan teknikal bagi pelaku pasar dalam mengamati kekuatan pergerakan indeks pada awal pekan.

Fokus pertama pasar adalah pergerakan rupiah yang mulai mendekati Rp18.000 per dolar AS. Pelaku pasar akan mencermati apakah Bank Indonesia akan melakukan intervensi dalam menghadapi tekanan nilai tukar tersebut. Perkembangan rupiah berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar saham maupun obligasi domestik.

Yield US Treasury tenor 10 tahun yang telah berada di atas 5% juga tetap menjadi agenda penting. Tingginya imbal hasil obligasi AS berpotensi menjadi hambatan bagi pasar berkembang, sehingga pergerakan aset global perlu diperhatikan selama perdagangan berlangsung.

Aturan Baru BEI Berpotensi Mendorong Volatilitas

Sentimen berikutnya datang dari implementasi kebijakan Bursa Efek Indonesia terkait batas minimum harga saham Rp1. Kebijakan ini dinilai dapat memberi dampak pada volatilitas saham-saham yang berada di harga Rp50.

“Kebijakan ini akan berpengaruh pada peningkatan volatilitas pada emiten-emiten dengan saham di Rp 50,” ungkapnya.

Volatilitas yang meningkat berarti perubahan harga dapat terjadi lebih cepat dan lebih lebar. Investor, khususnya yang memperhatikan saham berharga rendah, perlu disiplin mengelola risiko serta memahami karakter pergerakan saham sebelum mengambil keputusan transaksi.

Di tengah kondisi pasar yang masih sensitif, Herditya menyarankan perhatian pada saham COIN dengan target Rp915 hingga Rp965 per saham. Pilihan lain adalah INDF dengan target harga Rp7.000 sampai Rp7.225 per saham, serta HMSP di rentang Rp660 hingga Rp700 per saham.

Target harga tersebut dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan, bukan kepastian arah harga. Pelaku pasar tetap perlu memantau kondisi indeks, nilai tukar, perkembangan yield global, harga minyak, serta informasi terbaru dari masing-masing perusahaan sebelum menentukan strategi investasi.

Frequently Asked Questions

What is IHSG Ambles 3 09 Sepekan Simak?

IHSG Ambles 3 09 Sepekan Simak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does IHSG Ambles 3 09 Sepekan Simak matter?

IHSG Ambles 3 09 Sepekan Simak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *