Internasional

AS Tarik Pasukan dari Irak, Pengaruh Iran dan Ancaman Islamic State Menguat

2001642167

Penarikan Militer AS dari Irak Picu Kekhawatiran Baru

Pusatkabar.com – Amerika Serikat resmi menarik pasukannya dari pangkalan-pangkalan terakhir di Irak pada Rabu, 30 September 2026. Langkah ini menutup bab kehadiran militer AS di negara tersebut setelah lebih dari dua dekade konflik, pendudukan, operasi kontra-terorisme, dan kerja sama keamanan.

Berakhirnya misi itu dinilai dapat mengubah keseimbangan kekuatan di Irak. Dua risiko yang paling banyak dibicarakan adalah bertambah kuatnya kelompok bersenjata yang dekat dengan Iran serta kemungkinan Islamic State kembali memanfaatkan celah keamanan untuk membangun jaringan.

Kesepakatan mengenai penarikan pasukan sebenarnya telah dicapai pada 2024, ketika Joe Biden masih menjabat sebagai presiden AS. Namun pelaksanaannya berlangsung di era Presiden Donald Trump, pada saat hubungan Washington dan Teheran berada dalam situasi perang. Irak sendiri selama ini menjadi salah satu arena penting pengaruh Iran melalui kelompok-kelompok sekutunya.

Akhir dari Kehadiran yang Dimulai pada 2003

Penarikan ini terjadi 23 tahun setelah invasi pimpinan AS menggulingkan Presiden Irak Saddam Hussein pada 2003. Setelah itu, Irak mengalami masa penuh gejolak: pemerintahan baru dibentuk dengan dominasi kelompok Syiah, pemberontakan meluas, dan kekerasan sektarian berkepanjangan mengguncang banyak wilayah.

Pasukan AS sempat menghadapi loyalis Saddam Hussein dan jaringan Al Qaeda sebelum akhirnya meninggalkan Irak pada penghujung 2011. Kepergian tersebut tidak menghasilkan stabilitas yang bertahan lama. Kurang dari tiga tahun kemudian, AS kembali mengerahkan kekuatan untuk membantu Irak menghadapi Islamic State dalam perang besar pada 2014 hingga 2017.

Konflik selama lebih dari dua dekade menimbulkan biaya manusia yang besar. Sekitar 4.500 anggota militer AS tewas dalam perang di Irak. Angka itu hampir dua kali lipat dibandingkan korban pasukan AS dalam perang Afghanistan, yang berakhir dengan penarikan mendadak pada 2021.

Tahun ini, Irak juga menjadi salah satu lokasi korban dalam konflik AS dengan Iran. Tujuh dari 18 anggota militer AS yang dilaporkan tewas berada di Irak. Korban paling baru adalah seorang sersan Angkatan Darat AS yang meninggal pada Juli saat melakukan peledakan terkendali terhadap drone di sebuah pangkalan dekat Erbil.

Kekosongan Keamanan Menjadi Sorotan

Secara umum, penarikan pasukan AS memperoleh dukungan di tengah masyarakat Irak. Meski begitu, pertanyaan besar muncul tentang kesiapan aparat keamanan nasional menjaga stabilitas tanpa dukungan langsung militer AS.

“Pelajaran dari dua dekade terakhir adalah bahwa kekosongan keamanan bisa sangat berbahaya,” kata analis Irak yang menjadi penasihat pasukan keamanan, Jassim al-Bahadli.

Kekhawatiran itu berkaitan dengan pengalaman Irak sendiri. Ketika institusi negara melemah, ruang gerak kelompok bersenjata dan jaringan ekstremis dapat meluas. Stabilitas tidak hanya bergantung pada kemampuan tempur pasukan keamanan, tetapi juga pada koordinasi antarlembaga, kendali wilayah, intelijen, dan kemampuan mencegah kelompok bersenjata mengambil peran di luar otoritas negara.

Selama ini, pasukan AS mendukung Irak melalui informasi intelijen mengenai pergerakan Islamic State, pengawasan dari udara, serta kemampuan pengintaian. Hilangnya dukungan tersebut membuat kemampuan pasukan keamanan Irak akan diuji, khususnya dalam mendeteksi ancaman sebelum berubah menjadi serangan.

“Pertanyaan terpenting sekarang adalah apakah institusi keamanan Irak telah menyiapkan rencana alternatif yang layak untuk fase setelah koalisi,” kata pensiunan Jenderal Angkatan Darat Irak Mohammed al-Jubouri, yang pernah memimpin sebuah brigade dalam perang melawan Islamic State.

Jubouri menilai salah satu kemungkinan terburuk adalah Islamic State mendapatkan drone bersenjata atau drone yang dipasangi bahan peledak. Ancaman semacam itu dapat memperluas kemampuan kelompok tersebut untuk menyerang tanpa harus menguasai wilayah secara terbuka seperti pada masa puncak kekuasaannya.

Pengaruh Iran Berpotensi Meningkat

Iran menyambut kepergian pasukan AS sebagai kemenangan bagi apa yang disebut Teheran sebagai “poros perlawanan”, jaringan kelompok bersenjata sekutu Iran di sejumlah negara Timur Tengah. Selama bertahun-tahun, Iran menyatakan ambisinya adalah mendorong militer AS keluar dari kawasan tersebut.

Namun kekhawatiran di Irak tidak semata berkisar pada kemungkinan campur tangan langsung Teheran. Berkurangnya kehadiran militer Barat dapat meningkatkan rasa percaya diri kelompok-kelompok yang didukung Iran untuk memperbesar pengaruhnya di dalam negeri.

“Yang lebih mengkhawatirkan bukan semata intervensi langsung Iran, tetapi kemungkinan bahwa kelompok-kelompok yang menjadi proksi Iran akan merasa semakin kuat tanpa kehadiran militer Barat,” ujar Ahmed Younis, analis politik yang berbasis di Baghdad.

Kelompok-kelompok tersebut dinilai dapat memperluas peran dalam pembentukan kebijakan pemerintah dan memperkuat posisi mereka di sejumlah lembaga penting. Hal ini menjadikan persoalan keamanan Irak berkaitan erat dengan arah politik nasional, kewenangan institusi negara, serta hubungan Baghdad dengan kekuatan regional.

Ancaman Islamic State Belum Hilang

Pejabat keamanan dari pemerintah federal Irak dan wilayah Kurdistan di utara, yang memiliki status otonomi, turut mengingatkan bahwa Islamic State belum sepenuhnya lenyap. Kelompok itu memang kehilangan wilayah kekuasaannya hampir satu dekade lalu, tetapi keberadaan sel-sel tidur masih menjadi perhatian.

Pada masa kejayaannya, Islamic State menguasai sekitar sepertiga wilayah Irak dan menewaskan ribuan orang. Kelompok tersebut juga merekam sejumlah eksekusi di sebuah bekas pangkalan militer AS. Pengalaman itu menunjukkan bahwa hilangnya penguasaan wilayah tidak otomatis berarti sebuah organisasi ekstremis kehilangan kemampuan untuk mengancam keamanan.

Bagi Irak, periode setelah penarikan AS akan menjadi ujian penting bagi institusi keamanan dan politiknya. Pemerintah perlu memastikan bahwa kekosongan yang ditinggalkan pasukan asing tidak berubah menjadi peluang bagi kelompok bersenjata, konflik kepentingan, atau kebangkitan jaringan teror. Masa depan stabilitas Irak kini semakin bergantung pada kemampuan negara menjaga kendali keamanan secara mandiri.

Frequently Asked Questions

What is AS Tarik Pasukan dari Irak Pengaruh?

AS Tarik Pasukan dari Irak Pengaruh is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does AS Tarik Pasukan dari Irak Pengaruh matter?

AS Tarik Pasukan dari Irak Pengaruh matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *