Internasional

Kisah Prajurit Ukraina Amputasi Kakinya Sendiri demi Bertahan Hidup

155689316

Prajurit Ukraina Bertahan Berbulan-bulan Setelah Mengamputasi Kakinya Sendiri

Pusatkabar.com – Kostiantyn Vlasenko, prajurit infanteri Ukraina berusia 49 tahun, menghadapi kondisi ekstrem di garis depan wilayah Kharkiv setelah serangan drone Rusia menghancurkan salah satu kakinya dan melukai kaki lainnya secara parah. Dalam situasi tanpa akses evakuasi medis, ia akhirnya mengambil keputusan mengamputasi kaki kanannya sendiri agar tetap hidup.

Setelah berbulan-bulan bersembunyi di bangunan sekolah yang telah rusak akibat pertempuran, Vlasenko akhirnya dievakuasi pada 4 Oktober 2026. Proses penyelamatan itu dilakukan dengan drone angkut berat, sebuah metode yang dipilih setelah berbagai upaya evakuasi darat tidak berhasil.

Ia kini menjalani perawatan di rumah sakit di Kharkiv, Ukraina timur laut. Dari tempat tidurnya, Vlasenko menggambarkan masa-masa ketika ia merasa peluang selamatnya telah habis.

“Saya sudah mengubur diri saya sendiri. Saya tahu tidak ada harapan lagi,” kata Vlasenko.

Penugasan Panjang di Garis Depan

Vlasenko merupakan personel Brigade Mekanis ke-30 Ukraina. Ia telah menghabiskan 491 hari di garis depan, menjadikannya salah satu prajurit dengan masa penugasan terpanjang dalam perang Ukraina-Rusia.

Penugasannya dimulai pada Mei 2025. Saat itu, ia ditempatkan bersama seorang rekan yang menggunakan nama sandi Basky. Keduanya bertahan di sebuah posisi perlindungan bawah tanah selama kurang lebih 10 bulan.

Rencana rotasi pasukan pada musim gugur 2025 tidak pernah terlaksana. Dua tentara yang dikirim untuk menggantikan mereka tewas sebelum tiba di posisi tersebut. Setelah itu, dua personel lain yang ditugaskan mengambil jasad rekan-rekan mereka juga tidak kembali.

Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan betapa sulitnya pergerakan di kawasan garis depan. Ancaman drone membuat jalur suplai, perpindahan pasukan, serta evakuasi korban luka menjadi jauh lebih berbahaya.

Serangan yang Mengubah Segalanya

Pada pertengahan Februari 2026, tempat perlindungan Vlasenko dan Basky terendam banjir. Mereka kemudian meninggalkan lubang perlindungan tersebut dan mencari tempat berlindung di gedung sekolah yang sebelumnya telah rusak akibat serangan.

Saat keluar untuk mengambil pakaian kering dan makanan yang dikirimkan, keduanya terlihat oleh drone pengintai Rusia. Serangan drone berikutnya menewaskan Basky, yang saat itu tepat berulang tahun ke-50.

Ledakan yang sama menghancurkan kaki kiri Vlasenko. Kaki kanannya patah serta mengalami luka berat, membuatnya hampir tidak bisa bergerak. Dalam keadaan terluka, ia menemukan perlindungan di lubang kecil berukuran sekitar 80 sentimeter kali 60 sentimeter, tepat di bawah ketel logam bekas pemanas bangunan sekolah.

Tempat itu menjadi perlindungannya selama berbulan-bulan. Ruang yang sempit dan kondisi luka yang terus memburuk membuat kehidupannya bergantung pada bantuan logistik yang dikirim lewat drone.

Keputusan Amputasi untuk Bertahan Hidup

Kaki kiri Vlasenko perlahan membusuk akibat cedera yang sangat parah. Pada kaki kanan, tulang yang patah semakin menonjol dari luka. Kondisi tersebut membuatnya tidak hanya kesakitan, tetapi juga kesulitan berpindah tempat meski hanya dalam jarak pendek.

Dalam keadaan tanpa bantuan medis langsung, Vlasenko memotong kaki kanannya dengan pisau. Setelah itu, ia menggunakan torniket untuk membatasi pendarahan. Tindakan tersebut menjadi satu-satunya cara yang ia nilai memungkinkan untuk memperpanjang peluang hidupnya.

“Saya harus mengamputasinya karena kaki itu terus terseret di belakang saya. Tulangnya semakin lama semakin mencuat,” ujarnya.

Setelah kehilangan kedua kaki, Vlasenko tetap harus bertahan sendirian di area tempur. Pasokan makanan dan kebutuhan dasar datang melalui drone, sementara jalur evakuasi konvensional praktis tidak dapat digunakan.

Kendaraan pikap maupun kendaraan lapis baja menghadapi risiko tinggi karena mudah menjadi sasaran drone di sepanjang jalur menuju garis depan. Upaya memakai kendaraan darat tanpa awak juga tidak membuahkan hasil. Dua kendaraan yang dikirim untuk mengangkut Vlasenko dihancurkan drone Rusia sebelum dapat menyelesaikan misi.

Drone Angkut Berat Menjadi Jalan Keluar

Pilihan evakuasi akhirnya muncul melalui kerja sama sejumlah unit militer Ukraina, termasuk Brigade Serbu ke-92. Mereka menemukan kemungkinan menggunakan drone angkut berat buatan perusahaan lokal Gurzuf Defence.

Drone tersebut bernama Ayudag-6. Dengan enam rotor, perangkat ini dirancang untuk membawa muatan hingga 90 kilogram dalam jarak maksimal 25 kilometer. Berat Vlasenko diperkirakan sekitar 70 kilogram setelah lebih dari setahun berada di garis depan, sehingga drone itu dianggap mampu membawanya sekitar 15 kilometer ke titik yang lebih aman.

Sehari menjelang operasi penyelamatan, sebuah drone lebih dahulu mengirim sabuk pengaman berbentuk segitiga kepada Vlasenko. Bersama perlengkapan itu, ia menerima telepon genggam yang memuat video panduan untuk memasang sabuk pengaman tersebut.

Evakuasi Vlasenko menggambarkan perubahan besar dalam perang modern, ketika drone bukan hanya dipakai untuk pengintaian dan serangan, tetapi juga untuk memasok kebutuhan serta menyelamatkan korban dari lokasi yang tidak dapat dijangkau kendaraan biasa. Bagi Vlasenko, teknologi itu menjadi perbedaan antara tetap terjebak di reruntuhan dan akhirnya memperoleh perawatan medis.

Frequently Asked Questions

What is Kisah Prajurit Ukraina Amputasi Kakinya Sendiri?

Kisah Prajurit Ukraina Amputasi Kakinya Sendiri is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kisah Prajurit Ukraina Amputasi Kakinya Sendiri matter?

Kisah Prajurit Ukraina Amputasi Kakinya Sendiri matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *