Skip to content
Fresh Desk
Juni 20, 2026
Nasional

Main Agenda: Rosan Tegaskan Tak Ada Arahan Presiden Soal Menahan Suku Bunga Kredit Himbara

Matthew Moore 2 mins baca

Main Agenda: Rosan Tegaskan Tidak Ada Instruksi Presiden Soal Suku Bunga Kredit Himbara Main Agenda - Dalam wawancara terbaru di Istana Kepresidenan, Rosan

Main Agenda: Rosan Tegaskan Tak Ada Arahan Presiden Soal Menahan Suku Bunga Kredit Himbara

Main Agenda: Rosan Tegaskan Tidak Ada Instruksi Presiden Soal Suku Bunga Kredit Himbara

Main Agenda – Dalam wawancara terbaru di Istana Kepresidenan, Rosan Roeslani, seorang eksekutif utama di Danantara, mengklarifikasi bahwa Main Agenda tidak terkait dengan instruksi presiden untuk menjaga suku bunga kredit Himbara. Menurut Rosan, kebijakan suku bunga lebih berada dalam tanggung jawab Bank Indonesia (BI) dan konsensus antarbank, bukan arahan langsung dari pemerintah.

Penjelasan Rosan tentang Kebijakan Suku Bunga

“Tidak ada, tidak ada,” kata Rosan saat diwawancara pada Kamis (18/6/2026). Ia menegaskan bahwa perbankan saat ini harus lebih fokus pada peningkatan efisiensi dan produktivitas, bukan hanya menahan suku bunga.

Respons Rosan muncul sebagai jawaban atas pertanyaan tentang kemungkinan perintah dari pemerintah untuk mempertahankan suku bunga kredit Himbara dalam kondisi kenaikan BI Rate yang mencapai 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juni. Meskipun kenaikan suku bunga mengakibatkan peningkatan biaya dana, Rosan menilai perbankan tetap bisa menjaga stabilitas penyaluran kredit melalui pengelolaan yang lebih baik.

Konteks Ekonomi dan Pertumbuhan Kredit

Menurut Rosan, Main Agenda perbankan saat ini tidak hanya tentang suku bunga, tetapi juga tentang pertumbuhan kredit yang tetap sehat. Data menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2025 hingga 2026, rata-rata peningkatan kredit atau lending mencapai 15% per tahun. Dukungan ini mencerminkan upaya bank-bank Himbara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor produktif, terutama UMKM.

Di sisi likuiditas, Rosan menyatakan bahwa dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh dua digit. Ini menunjukkan bahwa perbankan nasional tetap memiliki kemampuan untuk menyalurkan dana ke sektor riil, meskipun terjadi penyesuaian suku bunga. “Kita harus berfokus pada efisiensi dan produktivitas,” jelasnya, menekankan bahwa Main Agenda perbankan adalah menjaga keseimbangan antara kualitas aset dan keberlanjutan operasional.

Kualitas Aset dan NPL yang Terkendali

Rosan menambahkan bahwa kondisi perbankan nasional tetap sehat, terbukti dari tingkat non-performing loan (NPL) yang relatif rendah. Contohnya, Bank Mandiri mencatatkan NPL sebesar 0,9%, sementara rata-rata NPL bank-bank Himbara berada dalam rentang 0,9% hingga 1,8%. Ia menilai keberhasilan ini terkait dengan strategi yang diterapkan selama ini, termasuk pengawasan yang ketat terhadap kualitas kredit.

Di tengah kenaikan suku bunga, Rosan memastikan bahwa perbankan BUMN tetap bisa mempertahankan akses pembiayaan ke sektor produktif. “Main Agenda adalah menjaga efisiensi operasional dan kualitas aset,” katanya. Hal ini diperkuat oleh data bahwa penyaluran dana ke UMKM tetap stabil meskipun ada tekanan dari kenaikan BI Rate.

Di sisi lain, Rosan menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan kredit. Ia mengatakan bahwa perbankan harus bisa menunjukkan keberhasilan mereka dalam mengurangi risiko kredit yang tidak terbayar, terutama dalam kondisi ekonomi yang dinamis. Dengan demikian, Main Agenda perbankan tidak hanya tentang pertumbuhan kredit, tetapi juga tentang kehati-hatian dalam menghadapi tekanan inflasi dan ketidakpastian pasar.

Ikut berdiskusi