Orang Super Kaya Melejit – Tapi Kelas Menengah Indonesia Kian Menyusut
Tapi Kelas Menengah Indonesia Kian Menyusut Orang Super Kaya Melejit - Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diprediksi menjadi negara dengan laju pertumbuhan
Orang Super Kaya Melejit – Tapi Kelas Menengah Indonesia Kian Menyusut
Orang Super Kaya Melejit – Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diprediksi menjadi negara dengan laju pertumbuhan Orang Super Kaya Melejit tercepat di dunia. Namun, di balik peningkatan jumlah individu dengan kekayaan besar, ekonom menyebut adanya tren yang cukup mengkhawatirkan: jumlah kelas menengah Indonesia mulai berkurang secara signifikan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang keseimbangan ekonomi nasional dan daya tahan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Analisis Yusuf Rendy Manilet
Menurut Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (Core), pertumbuhan Orang Super Kaya Melejit dan penyusutan kelas menengah menunjukkan dinamika berbeda dalam distribusi kekayaan. “Data menunjukkan bahwa kekayaan yang terkumpul oleh kelompok atas tumbuh lebih cepat dibandingkan peningkatan pendapatan masyarakat menengah,” kata Yusuf dalam wawancara dengan Kontan, Minggu (28/6). Hal ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi belum dirasakan secara merata oleh semua lapisan masyarakat.
“Dari 2016 hingga 2024, jumlah kelas menengah turun sekitar 5,6 juta orang. Pada 2025, mereka akan mencapai 46,7 juta, turun dari 47,9 juta di 2024. Jika tren ini berlanjut, kekayaan masyarakat menengah bisa tergerus oleh momentum pertumbuhan Orang Super Kaya Melejit,” ujarnya.
Yusuf menjelaskan bahwa perbedaan ini bukan hanya karena perpindahan kekayaan dari kelas menengah ke kelompok terkaya, tetapi juga dipengaruhi oleh perubahan struktur ekonomi. Misalnya, kenaikan nilai saham, kepemilikan properti, dan keuntungan dari investasi jangka pendek menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan Orang Super Kaya Melejit. Sementara itu, pendapatan pekerja tetap mengalami peningkatan yang relatif lambat.
Pertumbuhan Pendapatan yang Berbeda
Perbedaan sumber pertumbuhan pendapatan antara kelompok atas dan menengah menjadi kunci dalam memahami fenomena ini. Yusuf menyatakan bahwa keuntungan dari aset modal seperti saham dan properti mengalami apresiasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan peningkatan pendapatan tenaga kerja. “Rata-rata upah riil di Indonesia turun 1,1% per tahun sejak 2018, sementara keuntungan investasi justru meningkat, yang berdampak pada perlebaran kesenjangan ekonomi,” jelasnya.
“Ketika imbal hasil modal lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan, masyarakat menengah semakin kesulitan menambah kekayaan. Ini bisa memicu penurunan daya beli dan mengurangi peran mereka sebagai pendorong utama konsumsi domestik,” kata Yusuf.
Menurutnya, fenomena ini sejalan dengan teori Thomas Piketty, yang menyatakan bahwa kekayaan cenderung menumpuk pada kelompok tertentu jika tingkat pengembalian modal melebihi pertumbuhan ekonomi. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa pertumbuhan Orang Super Kaya Melejit akan terus berlanjut, sementara kelas menengah berada dalam posisi rentan.
Risiko yang Muncul
Pertumbuhan Orang Super Kaya Melejit yang pesat bisa menimbulkan risiko bagi struktur ekonomi Indonesia. Salah satu dampaknya adalah melemahnya konsumsi domestik, karena kelas menengah menjadi motor penggerak utama permintaan pasar. “Masyarakat menengah adalah kelompok yang paling aktif dalam belanja, tetapi mereka kini mulai kehilangan kemampuan untuk mempertahankan daya beli,” tambah Yusuf.
Sementara kelompok super kaya lebih memilih menanamkan dana ke aset atau investasi, konsumsi mereka tidak seberat yang diharapkan. “Kenaikan kekayaan mereka berdampak pada peningkatan permintaan di sektor jasa dan properti, tetapi kurang terlihat dalam belanja konsumsi masyarakat umum,” jelasnya. Hal ini memperkuat teori bahwa ketimpangan ekonomi bisa menghambat pertumbuhan yang sehat.
“Jika tidak ada kebijakan redistribusi yang tepat, Indonesia bisa terjebak dalam middle income trap. Ketika jumlah Orang Super Kaya Melejit meningkat, tetapi daya tahan kelas menengah turun, kualitas pertumbuhan ekonomi akan terganggu,” kata Yusuf.
Kelas Menengah yang Semakin Rentan
Kelas menengah Indonesia yang semakin menyusut bukan hanya karena pendapatan mereka stagnan, tetapi juga karena kenaikan biaya hidup yang lebih cepat. Yusuf menyoroti bahwa jumlah calon kelas menengah atau aspiring middle class meningkat, mencapai sekitar 142 juta orang pada 2025. Namun, kekayaan mereka belum memadai untuk bertahan sebagai lapisan menengah yang stabil.
“Masyarakat dalam kategori ini keluar dari kemiskinan, tetapi mereka belum memiliki pendapatan yang cukup untuk menjaga kualitas hidup. Daya tahan konsumsi mereka pun mulai berkurang, terlihat dari peningkatan pinjaman online dan penggunaan uang tunai dalam transaksi sehari-hari,” jelas Yusuf.
Dengan meningkatnya utang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kelas menengah menjadi lebih rentan terhadap risiko ekonomi. Yusuf menegaskan bahwa pertumbuhan Orang Super Kaya Melejit harus disertai dengan strategi yang mampu menjaga keseimbangan antara kekayaan dan kemampuan masyarakat menengah untuk berkontribusi pada perekonomian. Tanpa langkah-langkah ini, kekayaan akan terus berpindah dari lapisan menengah ke kelompok terkaya, yang berpotensi memperparah ketimpangan sosial.
