Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

Latest Program: Pakar Sebut Waktu 3 Bulan Sangat Cukup untuk Transisi Implementasi B50

Elizabeth Moore - pusatkabar.com 3 mins baca

B50 Latest Program - JAKARTA – Ikatan Ahli Perminyakan Indonesia (IATMI) menilai durasi transisi selama tiga bulan sudah cukup memadai untuk mengosongkan stok

Latest Program: Pakar Sebut Waktu 3 Bulan Sangat Cukup untuk Transisi Implementasi B50

Pakar: Waktu 3 Bulan Cukup untuk Implementasi B50

Latest Program – JAKARTA – Ikatan Ahli Perminyakan Indonesia (IATMI) menilai durasi transisi selama tiga bulan sudah cukup memadai untuk mengosongkan stok bahan bakar B40 di berbagai kilang minyak. Hal ini diungkapkan dalam wawancara dengan Kontan.co.id, Senin (29/6/2026).

Penjelasan Hadi Ismoyo

Sekretaris Jenderal IATMI, Hadi Ismoyo, menjelaskan bahwa proses pencampuran B50 secara teknis lebih sederhana dibandingkan blending bahan bakar minyak di kilang komersial. Selain itu, PT Pertamina (Persero) sebagai operator utama memiliki banyak fasilitas pencampuran yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

“Pencampuran B50 untuk BBN lebih mudah dibandingkan blending basefuel di refinery. Pertamina memiliki banyak fasilitas seperti Plumplang DKI Jakarta, Tangjung Perak Surabaya, Tanjung Gerem Cilegon, Lembang Jawa Barat, serta beberapa lokasi di Sumatera dan Kalimantan,” tutur Hadi.

Dalam kalkulasinya, Hadi memastikan bahwa kapasitas penyimpanan kilang yang ada cukup untuk menampung pasokan baru secara bertahap selama periode transisi 90 hari.

Penyebaran Terminal Bahan Bakar

Karena distribusi terminal bahan bakar minyak (TBBM) yang merata, pergantian dari B40 ke B50 diperkirakan bisa berjalan lancar. Hadi menegaskan bahwa waktu tiga bulan memadai untuk mengosongkan stok lama.

“Dengan transisi 90 hari, asumsi permintaan BBM nasional sebesar 1,6 juta bpd, di mana 50% dari itu adalah diesel dan biodiesel. Dalam 90 hari, volume yang bisa dihabiskan mencapai 800.000 bpd atau setara 72 juta barrel space kosong. Karena lokasi tersebar, stok bisa terisi perlahan dengan B50,” jelasnya.

IATMI menilai kebijakan ini sebagai langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan energi nasional. Program tersebut juga diharapkan dapat mengurangi defisit neraca perdagangan akibat impor solar.

“Ini adalah program diversifikasi yang bagus, berbasis produksi lokal dari industri kelapa sawit, yang termasuk sumber energi terbarukan. Dengan demikian, ketergantungan pada impor jenis diesel bisa berkurang,” pungkas Hadi.

Pernyataan Eniya Listiani Dewi

Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa transisi tidak langsung berjalan penuh pada hari peluncuran. Ia menambahkan, konsep peralihan dilakukan secara bertahap.

“Proses dimulai mandatorinya per 1 Juli, lalu masa transisi ditetapkan selama tiga bulan,” ujar Eniya saat ditemui di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Eniya menyebutkan bahwa masa transisi memberikan ruang bagi badan usaha bahan bakar minyak (BU BBM) untuk menghabiskan sisa stok lama. Ia menjelaskan bahwa periode ini juga memungkinkan penyesuaian spesifikasi bahan bakar.

“Masa transisi itu untuk menghabiskan stok, serta mengizinkan blending B40 dengan B50 di kilang-kilang. Walaupun spesifikasinya sedikit berbeda, pasti di atas 40%,” kata Eniya.

Eniya menegaskan bahwa perusahaan telah berkomitmen untuk mempercepat penyerapan stok B40 agar target penggunaan bahan bakar nabati bisa tercapai optimal.

“Pertamina berjanji menghabiskan semua stok clear dalam dua bulan. Ada juga perusahaan lain yang melakukan blending biodiesel, bukan hanya Pertamina,” tambahnya.

Dalam struktur industri, Eniya mengungkapkan bahwa pasokan mandatori ini secara dominan dipegang oleh dua entitas besar, sementara porsi sisanya terbagi di antara puluhan perusahaan swasta menengah.

“Dari 30 perusahaan BU BBM, dua perusahaan terbesar mengalokasikan sekitar 70% dari total share, sementara yang lain hanya 30%,” jelas Eniya.

Ikut berdiskusi