Special Plan: Porsi Deposito Berbunga Khusus Naik, Persaingan Perebutan Dana Diperkirakan Berlanjut
Dana Perbankan Masih Berlanjut Special Plan - Dalam kondisi suku bunga acuan dan pasar keuangan yang terus bergerak, Special Plan atau porsi deposito berbunga
Special Plan Meningkat, Persaingan Dana Perbankan Masih Berlanjut
Special Plan – Dalam kondisi suku bunga acuan dan pasar keuangan yang terus bergerak, Special Plan atau porsi deposito berbunga khusus menunjukkan peningkatan signifikan. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat bahwa tren ini dipicu oleh respons bank terhadap perubahan ekonomi, termasuk peningkatan suku bunga yang berdampak pada keputusan penyimpanan dana pihak ketiga. Dengan tingkat bunga deposito yang naik, persaingan dalam industri perbankan untuk menarik simpanan diperkirakan akan terus berlanjut, terutama di segmen deposan besar yang cenderung lebih sensitif terhadap imbal hasil.
Faktor Penyebab Kenaikan Suku Bunga Deposito
Kenaikan bunga deposito tidak terlepas dari kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan, serta dinamika pasar keuangan yang memengaruhi imbal hasil instrumen keuangan lainnya. Anggota Dewan Komisioner LPS, Doddy Zulverdi, menjelaskan bahwa pergeseran suku bunga di pasar uang, pelemahan rupiah, dan peningkatan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) menjadi penyebab utama kenaikan bunga deposito. Tren ini juga dipicu oleh permintaan pelanggan yang semakin bergerak ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi.
“Berdasarkan kondisi pasar, bank terpaksa menyesuaikan penawaran bunga deposito agar tetap kompetitif. Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan biaya dana (cost of fund) meningkat, sehingga menyebabkan peningkatan suku bunga yang ditawarkan,” kata Doddy dalam konferensi pers pada 25 Juni 2026.
Perubahan Porsi Simpanan di Atas Tingkat Bunga Penjaminan
Menurut Doddy, hingga Mei 2026, proporsi simpanan yang menerima bunga di atas Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) telah mencapai 32,92%. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, April 2026, yang menunjukkan bahwa Special Plan menjadi pilihan utama bagi pelanggan yang ingin mendapatkan imbal hasil lebih tinggi. Meski TBP tetap dipertahankan, kenaikan bunga deposito membuat simpanan di atas TBP lebih dominan.
“Kenaikan bunga deposito sejalan dengan peningkatan suku bunga pasar. Dengan TBP yang stabil, bank terus meningkatkan penawaran bunga khusus untuk menarik dana, terutama dari segmen besar yang memprioritaskan keuntungan maksimal,” tambah Doddy.
Respons LPS Terhadap Dinamika Pasar
Dalam rangka mengimbangi tekanan dari kenaikan suku bunga, LPS memutuskan menaikkan TBP simpanan rupiah. Kenaikan ini berlaku dari 1 Juli hingga 30 September 2026, dengan tingkat bunga penjaminan untuk bank umum mencapai 3,75%, sementara BPR naik ke 6,25%. Meski demikian, tingkat bunga penjaminan untuk simpanan valuta asing di bank umum tetap dipertahankan sebesar 2%.
“Penyesuaian TBP bertujuan untuk menyeimbangkan keuntungan yang diterima pelanggan dan kestabilan sistem keuangan. Namun, kenaikan bunga deposito yang terus berlangsung menunjukkan bahwa Special Plan tetap menjadi strategi dominan dalam perebutan dana,” jelas Doddy.
Impact Special Plan pada Industri Perbankan
Analisis Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menunjukkan bahwa kenaikan Special Plan berdampak signifikan pada struktur biaya dana perbankan. Data Bank Indonesia mencatat bahwa porsi dana pihak ketiga yang diberi Special Plan mencapai 26,64% pada Mei 2026, menandakan pergeseran preferensi deposan besar. Josua menegaskan bahwa tekanan biaya dana tidak hanya berasal dari peningkatan Special Plan, tetapi juga dari dinamika pasar keuangan yang memperkuat permintaan dana.
“Dengan kenaikan BI Rate hingga 5,75% dan imbal hasil SRBI yang menarik, bank terus meningkatkan penawaran bunga khusus. Ini menyebabkan persaingan dana menjadi lebih ketat, terutama di kalangan deposan besar yang cenderung responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi,” ujar Josua.
Potensi Tren Kenaikan Special Rate di Semester II 2026
Josua memperkirakan bahwa tren kenaikan Special Rate akan terus berlanjut di semester II 2026, terutama dalam konteks stabilitas rupiah dan kebutuhan perbankan untuk menarik dana. Ia menyoroti bahwa kenaikan bunga deposito sulit berkurang karena BI telah menetapkan suku bunga acuan yang tinggi, serta imbal hasil SBN jangka pendek tetap menjadi daya tarik utama bagi pelanggan.
Menurut Josua, kenaikan Special Rate juga memengaruhi suku bunga kredit baru yang meningkat dari 8,95% menjadi 9,31% pada Mei 2026. Perubahan ini menunjukkan bahwa tekanan biaya dana berdampak langsung pada kebijakan kredit, yang akhirnya memperkuat persaingan dalam industri perbankan.
