Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

Inflasi Inti Juni Naik Jadi 2,76% YoY dan 0,23% MtM – Ini Pemicunya

Karen Williams - pusatkabar.com 3 mins baca

Inflasi Inti Juni Naik Jadi 2,76% YoY dan 0,23% MtM, Ini Pemicunya Inflasi Inti Juni Naik Jadi 2 76 - KONTAN.CO.ID – JAKARTA.

Inflasi Inti Juni Naik Jadi 2,76% YoY dan 0,23% MtM – Ini Pemicunya

Inflasi Inti Juni Naik Jadi 2,76% YoY dan 0,23% MtM, Ini Pemicunya

Inflasi Inti Juni Naik Jadi 2 76 – KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menurut data yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi inti atau core inflation pada bulan Juni 2026 mengalami kenaikan yang signifikan, baik secara tahunan maupun bulanan. Angka inflasi inti mencapai 2,76% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan kenaikan inflasi bulanan mencapai 0,23%. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan harga pada sektor-sektor inti tetap mengalami peningkatan dalam kondisi pasar yang dinamis.

Kenaikan Inflasi Tahunan: 2,76% yang Menjadi Perhatian

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa inflasi inti Juni 2026 mencapai 2,76%, dengan kontribusi sebesar 1,77% terhadap inflasi tahunan sebesar 3,34%. Ini menjadi indikator penting dalam memahami pergerakan harga yang terjadi di sektor nonmakanan dan layanan, yang umumnya lebih stabil dibandingkan sektor makanan yang lebih rentan terhadap fluktuasi pasokan.

“Komponen inti mengalami inflasi year on year sebesar 2,76% dan memberikan andil inflasi terbesar sebesar 1,77%,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).

Kenaikan tersebut terjadi setelah inflasi inti Mei 2026 mencapai 2,59%. Perbedaan angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga yang lebih tajam pada beberapa komoditas kunci. Terutama, sektor-sektor seperti perumahan, transportasi, dan layanan jasa menjadi penggerak utama. Misalnya, biaya pendidikan tinggi dan harga bahan bakar yang terus meningkat memberikan dampak signifikan terhadap perhitungan inflasi inti.

Analisis Komponen Pendorong Inflasi Inti Juni 2026

Menurut data yang dihimpun, inflasi inti Juni 2026 terutama didorong oleh sejumlah komoditas yang menunjukkan tren peningkatan harga. Salah satu faktor utama adalah kenaikan harga minyak goreng, yang menjadi bagian dari komponen pengeluaran rumah tangga. Selain itu, biaya perawatan kendaraan bermotor dan pelumas mesin juga berkontribusi signifikan.

Ateng menyoroti bahwa inflasi inti bulan Juni juga mencatat kenaikan sebesar 0,23% dibandingkan bulan Mei, dengan kontribusi sebesar 0,15% terhadap inflasi bulanan yang mencapai 0,44%. Angka ini lebih tinggi dari inflasi inti Mei yang hanya 0,22%. Perubahan ini mencerminkan tekanan harga yang lebih kuat dalam beberapa kategori seperti energi, telepon seluler, dan layanan jasa pendidikan.

“Pada komponen inti secara bulanan, inflasi sebesar 0,23% dengan andil 0,15%, terutama didorong oleh pelumas atau oli mesin, telepon seluler, dan minyak goreng,” jelasnya.

BPS menyatakan bahwa pergerakan inflasi inti mencerminkan tekanan harga yang cukup signifikan dari sektor nonvolatile food dan harga yang ditentukan pasar, terutama dalam kategori jasa pendidikan, energi, serta kebutuhan rumah tangga. Inflasi inti, yang berbeda dari inflasi umum, lebih memperhatikan kebutuhan pokok dan komponen yang tidak terlalu rentan terhadap perubahan musiman.

Kenaikan inflasi inti tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi, seperti kenaikan permintaan terhadap layanan jasa, kenaikan biaya produksi, dan perubahan nilai tukar mata uang. Selain itu, ekspektasi masyarakat tentang kenaikan harga di masa depan juga berkontribusi pada inflasi inti yang tercatat. Perluasan kebutuhan rumah tangga dan peningkatan konsumsi layanan jasa, seperti internet dan transportasi, menjadi area yang perlu dipantau lebih teliti.

Dalam konteks ekonomi nasional, inflasi inti Juni 2026 berdampak pada kebijakan pemerintah dalam mengatur pertumbuhan ekonomi. Inflasi inti yang tinggi menunjukkan bahwa tekanan harga di sektor nonmakanan masih berlangsung, sehingga pemerintah perlu memastikan stabilitas pasar dengan berbagai kebijakan seperti subsidi, pengendalian harga, dan pengaturan produksi. Selain itu, faktor-faktor seperti permintaan terhadap komoditas tertentu dan kebijakan moneter juga berperan dalam menentukan arah inflasi inti.

Ikut berdiskusi