Key Discussion: Ketimbang Bali, Batam Dinilai Lebih Pas Jadi Kawasan PFII, Ini Alasannya
Ketimbang Bali, Batam Dinilai Lebih Pas Jadi Kawasan PFII, Ini Alasannya Key Discussion - KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Ketimbang Bali, Batam Dinilai Lebih Pas Jadi Kawasan PFII, Ini Alasannya
Key Discussion – KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Berbagai pakar dan akademisi mengusulkan agar pemerintah tidak mengandalkan Bali sebagai satu-satunya lokasi untuk Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).
Rapat dengar pendapat Komisi XI DPR bersama para akademisi, Senin (6/7/2026), menghasilkan saran untuk mempertimbangkan Batam sebagai alternatif lokasi PFII. Menurut mereka, Batam memiliki keunggulan strategis yang dapat mendukung pengembangan kawasan tersebut.
Analisis Benchmarking Sebagai Dasar Penetapan Lokasi
Ekonom dan Guru Besar Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menekankan perlunya evaluasi mendalam terhadap lokasi PFII. Ia menyarankan agar pemerintah membandingkan standar terbaik dari pusat keuangan internasional di berbagai negara.
“Di Bali itu ada peraturan mengenai tinggi gedung, sedangkan pusat finansial internasional seperti Dubai dan Hong Kong justru memiliki gedung-gedung tinggi untuk mendukung efisiensi dan kegiatan yang terintegrasi,” ujar Telisa dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR, Senin (6/7/2026).
Telisa menjelaskan bahwa pusat keuangan internasional biasanya memerlukan area yang mampu memfasilitasi efisiensi, pengelompokan aktivitas ekonomi, serta fleksibilitas pengembangan infrastruktur. Karena itu, menetapkan PFII hanya di satu wilayah dianggap kurang optimal.
Menurutnya, PFII sebaiknya dikembangkan di beberapa kawasan dengan karakteristik berbeda, mirip dengan strategi yang diterapkan negara lain. “Di beberapa negara seperti Tiongkok, pusat keuangan tidak hanya berada di satu lokasi. Jadi tidak apa-apa jika PFII memiliki lebih dari satu lokasi,” katanya.
Kontribusi Batam dalam Pengembangan Ekosistem Finansial
Menurut Telisa, meski Bali memiliki kelebihan dari segi pariwisata dan kesiapan ekosistem ekspatriat, Batam dinilai memiliki potensi kuat sebagai kawasan finansial internasional. Ia menyebut beberapa faktor yang memperkuat penilaian ini.
“Misalnya Batam karena punya kontribusi terkait digital dan data center yang kuat, serta posisi strategis dekat dengan Singapura,” ujarnya.
Para ahli menegaskan bahwa masing-masing lokasi bisa memiliki fokus atau tema pengembangan berbeda, sehingga tidak terjadi tumpang tindih fungsi antarwilayah. Aspek biaya dan manfaat pembentukan PFII juga menjadi perhatian utama.
“Kalau secara cost benefit analysis, manfaatnya akan jauh lebih besar dibandingkan biaya, selama risiko-risikonya bisa dikendalikan,” ujar Telisa.
Saat ini, pemerintah bersama DPR sedang mengeksplorasi RUU pembentukan PFII sebagai upaya meningkatkan daya saing Indonesia, menarik investasi global, serta memperdalam sektor jasa keuangan nasional.
