Key Strategy: Cadangan Devisa Naik, Ekonom Ingatkan Tekanan Rupiah Belum Sepenuhnya Reda
Key Strategy: Rupiah Tekanan Belum Reda Meski Devisa Naik Key Strategy - Dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, ekonom dari PermataBank Josua
Key Strategy: Rupiah Tekanan Belum Reda Meski Devisa Naik
Key Strategy – Dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, ekonom dari PermataBank Josua Pardede menyoroti kenaikan kecil cadangan devisa Indonesia pada bulan Juni 2026, yang mencapai US$ 145,6 miliar. Meskipun ada peningkatan, Josua menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya reda, sehingga perlu diperhatikan dalam Key Strategy untuk menjaga keseimbangan ekonomi.
“Kenaikan cadangan devisa Juni menunjukkan tren positif, tetapi jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa tekanan sudah berakhir. Peningkatan ini hanya sekitar US$ 700 juta, yang merupakan pertama kalinya setelah lima bulan penurunan berturut-turut,” kata Josua kepada Kontan, Selasa (7/7/2026).
Menurut Josua, keadaan cadangan devisa saat ini masih jauh dari level Maret 2026 yang mencapai US$ 148,2 miliar. Ia menjelaskan bahwa kenaikan kecil ini lebih bersifat sementara, dan tidak menunjukkan pemulihan yang stabil. “Faktor-faktor seperti penerimaan pajak dan jasa pemerintah, aliran dana asing ke instrumen rupiah, serta penerbitan obligasi global Danantara menjadi penyumbang utama,” tambahnya.
Faktor Penentu dalam Key Strategy
Analisis Josua menunjukkan bahwa untuk memperkuat Key Strategy dalam mengurangi tekanan rupiah, tiga aspek utama perlu diperhatikan. Pertama, neraca perdagangan harus kembali menunjukkan surplus secara konsisten. Kedua, aliran modal asing tidak hanya terfokus pada surat berharga negara (SBN) dan surat berharga berjangka (SRBI), tetapi juga perlu memperkuat investasi langsung. Ketiga, kebutuhan intervensi Bank Indonesia (BI) harus berkurang akibat stabilitas rupiah yang tercipta.
Kenaikan suku bunga BI juga berkontribusi dalam Key Strategy untuk memperkuat rupiah. Namun, dampaknya lebih terasa melalui aliran dana portofolio ke SRBI dan SBN. “Meski BI Rate mendorong peningkatan nilai tukar, efeknya bersifat sementara karena ketergantungan pada sentimen global dan kebijakan moneter,” jelas Josua.
Pengaruh Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)
NPI di kuartal II 2026 tetap menjadi fokus dalam Key Strategy perekonomian. Josua mengungkapkan bahwa pelemahan neraca perdagangan pada Mei 2026 mengurangi kinerja transaksi berjalan, meski ada perbaikan di bulan Juni. “Kenaikan nilai tukar rupiah setelah BI menyesuaikan suku bunga menciptakan dampak positif, tetapi konsistensi kinerja NPI tetap menjadi penentu utama dalam Key Strategy,” katanya.
Peningkatan cadangan devisa pada Juni 2026, menurut Josua, didorong oleh peningkatan penerimaan pajak dan jasa pemerintah, serta aliran dana asing. Namun, kondisi ini masih rentan terhadap perubahan eksternal, seperti fluktuasi harga komoditas global atau perlambatan ekonomi Tiongkok. “Dengan Key Strategy yang tepat, kita bisa mengurangi risiko pelemahan rupiah yang terus berlangsung,” pungkasnya.
Sebagai bantalan ekonomi, cadangan devisa tetap penting dalam Key Strategy untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Meski ada peningkatan, Josua mengingatkan bahwa kinerja cadangan devisa harus dipertahankan agar tidak terjadi kenaikan tekanan yang signifikan. “Dengan cadangan devisa yang cukup, ekonomi bisa lebih fleksibel menghadapi tantangan di masa depan,” tutupnya.
