New Policy: RI-India Jajaki Rencana Investasi Migas, IATMI Ingatkan Karakteristik Investor
RI dan India Jajaki New Policy Investasi Migas, IATMI Ingatkan Karakteristik Investor New Policy - KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
RI dan India Jajaki New Policy Investasi Migas, IATMI Ingatkan Karakteristik Investor
New Policy – KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) menjadi salah satu lembaga yang memberikan masukan mengenai kebijakan baru investasi migas yang tengah dijajaki oleh pemerintah Indonesia dan India. Kebijakan ini diharapkan bisa meningkatkan daya saing sektor energi nasional melalui kerja sama dengan negara tetangga yang memiliki potensi besar dalam pengembangan sumber daya energi. IATMI menekankan pentingnya pemahaman mendalam tentang karakteristik investor asing sebelum memulai implementasi kebijakan yang diusulkan.
Kebijakan New Policy ini merupakan bagian dari strategi pemerintah Indonesia untuk menarik investasi asing di sektor hulu migas. Dalam pernyataannya, Sekretaris Jenderal IATMI, Hadi Ismoyo, menyoroti bahwa negara mitra harus dianalisis secara menyeluruh, terutama dari segi kinerja finansial dan pengalaman dalam manajemen proyek energi. “New Policy ini memungkinkan pemerintah untuk menyesuaikan kerangka kerja hukum dengan kebutuhan investor, tetapi kita juga harus memastikan bahwa proyek yang diusung memiliki dampak jangka panjang bagi sektor migas,” tambah Hadi.
“New Policy ini tidak hanya tentang menarik investasi, tetapi juga tentang menciptakan kesetaraan dalam hubungan bisnis dengan investor India. Dengan memahami karakteristik mereka, kita bisa meminimalkan risiko dan meningkatkan keberlanjutan kegiatan eksplorasi migas,” jelas Hadi Ismoyo dalam wawancara dengan Kontan.co.id, Rabu (8/7/2026).
Menurut IATMI, sistem kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/ PSC) yang sudah berlaku bisa menjadi dasar untuk mengadaptasi New Policy. “Kebijakan ini bisa mengakomodir variasi karakteristik investor, seperti kekhususan dalam pengembangan proyek tertentu atau preferensi dalam pengelolaan risiko. Jika dibutuhkan, pemerintah bisa menambahkan split khusus berdasarkan lokasi dan kompleksitas proyek,” ujar Hadi. IATMI juga menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan kerangka hukum yang fleksibel untuk memastikan keberlanjutan investasi.
Kemitraan RI-India di Sektor Energi
Kolaborasi antara Indonesia dan India di sektor energi dianggap sebagai langkah strategis dalam menunjang kebutuhan energi yang terus meningkat. India, sebagai negara dengan populasi mencapai 1,5 miliar orang, menjadi pasar energi global yang dinamis. New Policy ini diharapkan bisa menjembatani kebutuhan energi RI dengan kemampuan India dalam investasi infrastruktur dan teknologi migas.
Dalam konteks geopolitik, kebijakan New Policy menjadi peluang untuk memperkuat hubungan ekonomi bilateral. Hadi Ismoyo menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi geologi yang melimpah, terutama di daerah perbatasan laut seperti kawasan Andaman. “New Policy ini bisa menjadi basis untuk pengembangan wilayah eksplorasi bersama, dengan memanfaatkan data geologi yang lengkap dan akses ke teknologi terkini,” tutur Hadi. IATMI juga memprediksi bahwa kebijakan ini akan mendorong kegiatan eksplorasi yang lebih intensif di beberapa provinsi seperti Kalimantan dan Sumatra.
Dalam proses implementasi New Policy, pemerintah perlu memastikan bahwa kerangka kerja hukum selaras dengan kondisi pasar dan kebutuhan investor. “Kebijakan ini harus dirancang secara holistik, mencakup aspek regulasi, kemitraan, dan pengawasan. Jika dilakukan dengan tepat, New Policy bisa menjadi model investasi yang berkelanjutan untuk sektor migas,” kata Hadi Ismoyo. IATMI juga menyarankan agar pemerintah melibatkan lembaga penelitian dan lembaga eksekusi untuk memastikan keberhasilan kebijakan ini.
Kebijakan New Policy ini menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk memperkuat daya saing dalam sektor energi. Dengan memperhatikan karakteristik investor, pemerintah bisa menyesuaikan perjanjian kerja sama agar lebih sesuai dengan kondisi pasar dan proyek. “New Policy juga memungkinkan pemerintah mengantisipasi perubahan dinamika global dalam bidang energi, termasuk persaingan dengan negara-negara lain,” kata Hadi. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Indonesia sudah melakukan beberapa diskusi dengan investor India mengenai penambangan migas di wilayah terpencil.
Meningkatkan investasi migas melalui New Policy diharapkan bisa memberikan dampak signifikan pada perekonomian nasional. Dengan mendorong peningkatan produksi minyak dan gas, kebijakan ini bisa mengurangi ketergantungan pada impor energi. Selain itu, kehadiran investor asing bisa membawa teknologi baru dan menciptakan lapangan kerja. “New Policy ini adalah titik balik untuk membangun sektor migas Indonesia secara lebih cepat dan berkelanjutan,” jelas Hadi. IATMI juga mengingatkan bahwa pemerintah harus tetap memantau keberlanjutan proyek dan memastikan keuntungan bagi masyarakat lokal.
Kebijakan New Policy ini akan menjadi referensi dalam peningkatan investasi migas di masa depan. Dengan memadukan faktor geopolitik, geografis, dan ekonomi, kebijakan ini bisa menjadi pilar utama dalam mencapai target energi nasional. “New Policy ini tidak hanya berdampak pada sektor migas, tetapi juga pada pembangunan berkelanjutan di seluruh Indonesia,” pungkas Hadi. IATMI berharap kebijakan ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas, baik untuk industri maupun masyarakat luas.
