Skip to content
Fresh Desk
Juli 11, 2026
Nasional

Latest Program: Pemerintah Minta Tambang Pakai B50, Zubay Mining: Info Harga B50 Rp 16.000/Liter

Karen Brown 4 mins baca

Pemerintah Dorong Penggunaan B50 di Sektor Tambang, Zubay Mining: Harga Rp16.000/Liter Latest Program - Sebagai bagian dari Latest Program pemerintah dalam

Latest Program: Pemerintah Minta Tambang Pakai B50, Zubay Mining: Info Harga B50 Rp 16.000/Liter

Pemerintah Dorong Penggunaan B50 di Sektor Tambang, Zubay Mining: Harga Rp16.000/Liter

Latest Program – Sebagai bagian dari Latest Program pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah meminta sektor pertambangan untuk beralih ke bahan bakar nabati B50. Kebijakan ini bertujuan untuk mendukung transisi energi yang lebih ramah lingkungan, sekaligus mendorong pengurangan emisi karbon. PT Zubay Mining Indonesia, salah satu perusahaan tambang yang terkena dampak langsung, telah memberikan penjelasan mengenai harga B50 dan kesiapan implementasinya.

PT Zubay Mining Tunggu Kesiapan Regulasi dan Infrastruktur

PT Zubay Mining Indonesia mengungkapkan bahwa meskipun Latest Program penggunaan B50 sudah diumumkan, perusahaan masih menunggu kejelasan mengenai kebijakan pemerintah terkait standar teknis dan ketersediaan pasokan bahan bakar. “Kami berharap ada penjelasan yang lebih detail mengenai peralihan ke B50, termasuk kompatibilitas dengan mesin alat berat yang kami gunakan,” kata Emil, Direktur PT Zubay Mining, dalam wawancara eksklusif dengan Kontan.co.id. Menurutnya, harga B50 saat ini berkisar antara Rp16.000 hingga Rp16.500 per liter, sementara solar industri yang digunakan sebelumnya memiliki harga Rp30.500 per liter.

“Peralihan ke B50 akan memerlukan evaluasi mendalam, terutama dari segi biaya operasional dan efisiensi produksi. Kami sedang menyiapkan rencana untuk menguji penggunaan B50 dalam skala kecil sebelum menerapkan secara penuh,” jelas Emil. Ia menekankan bahwa keberhasilan Latest Program ini tergantung pada kesiapan infrastruktur dan kebijakan pendukung yang konsisten.

Infrastruktur B50 oleh Pertamina Sudah Siap

Pertamina Patra Niaga, perusahaan penyedia bahan bakar nasional, telah memastikan bahwa sistem distribusi B50 sudah siap digunakan. “Infrastruktur penyaluran B50 telah diperkuat sejak beberapa bulan lalu. Kami telah menyiapkan jalur distribusi dari Terminal BBM hingga ke SPBU dan APMS, serta melakukan uji coba pada unit pengisian,” tutur Kitty Andhora, Vice President Corporate Communication Pertamina, dalam wawancara dengan Kontan.co.id.

“Pada 1 Juli 2026, kami akan menyalurkan B50 secara serentak ke 29 terminal yang telah terverifikasi. Jumlah ini akan diperluas secara bertahap sesuai dengan progres Latest Program yang ditargetkan oleh pemerintah,” imbuhnya. Kitty juga menyoroti bahwa Pertamina telah bekerja sama dengan produsen bahan bakar nabati untuk memastikan kualitas B50 tetap sesuai standar.

Perusahaan ini memperkirakan bahwa setidaknya 37,92 juta liter B50 akan tersedia di pasar dalam waktu dekat. “Kami berkomitmen untuk menjaga stabilitas pasokan selama masa transisi, agar sektor tambang tidak mengalami gangguan operasional,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa Latest Program pemerintah tidak hanya fokus pada regulasi, tetapi juga pada kesiapan ekosistem pendukung.

Manfaat dan Tantangan Implementasi B50

Implementasi B50 dalam sektor tambang diharapkan memberikan manfaat signifikan, baik secara ekonomi maupun lingkungan. B50 mengandung 50% bahan bakar nabati (bioetanol) dan 50% bensin, sehingga dapat mengurangi emisi CO2 sebesar 6-10% dibandingkan bahan bakar fosil konvensional. Selain itu, harga B50 yang lebih terjangkau bisa membantu menekan biaya produksi perusahaan tambang.

“B50 memiliki potensi untuk menurunkan biaya bahan bakar sebesar 30-40% jika digunakan secara optimal. Kami sedang menghitung dampak ekonomi dari Latest Program ini,” ujar Emil. Namun, tantangan utama terletak pada biaya adaptasi teknis dan peralihan infrastruktur. Beberapa perusahaan tambang masih membutuhkan waktu untuk menguji kinerja B50 pada mesin-mesin berat mereka.

Tantangan lainnya adalah ketersediaan pasokan bahan bakar nabati. Meski Pertamina telah menyiapkan sistem distribusi, produksi bioetanol nasional masih terbatas. “Pemerintah perlu memastikan kebijakan Latest Program ini dapat mendukung pertumbuhan produksi bahan bakar nabati secara berkelanjutan,” tambah Emil. Ia berharap pemerintah bisa memberikan insentif tambahan untuk mempercepat adopsi B50.

Langkah Lain dalam Latest Program Energi Terbarukan

Dalam rangka mendukung Latest Program pengurangan emisi karbon, pemerintah juga menargetkan peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif di sektor transportasi dan industri. Sejumlah perusahaan besar mulai mengadopsi B50, tetapi sektor tambang masih menjadi fokus utama dalam Latest Program ini.

“Selain bahan bakar nabati, pemerintah juga sedang mengembangkan kebijakan untuk menstimulasi penggunaan energi terbarukan, seperti listrik dari sumber terbarukan dan gas alam terbakar,” kata sumber pemerintah. Namun, keberhasilan transisi ini sangat bergantung pada keterlibatan sektor swasta, termasuk perusahaan tambang.

Kebijakan Latest Program ini menjadi bagian dari strategi nasional Indonesia dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Dengan mengganti solar industri dengan B50, pemerintah mencoba menciptakan pola penggunaan energi yang lebih hijau. Namun, implementasi yang optimal membutuhkan kerja sama antara pemerintah, produsen, dan pelaku usaha. PT Zubay Mining menilai bahwa Latest Program ini merupakan langkah penting, meski perlu penyesuaian dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Ikut berdiskusi