Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Keuangan

Key Strategy: Bank KBMI 2 Incar Naik Kelas ke KBMI 3, Butuh Modal Jumbo

John Johnson - pusatkabar.com 3 mins baca

Bank KBMI 2 Ambisi Naik Kelas ke KBMI 3, Tunggu Tambahan Modal Key Strategy adalah strategi utama yang diusung oleh sejumlah bank dengan klasifikasi KBMI 2

Key Strategy: Bank KBMI 2 Incar Naik Kelas ke KBMI 3, Butuh Modal Jumbo

Bank KBMI 2 Ambisi Naik Kelas ke KBMI 3, Tunggu Tambahan Modal

Key Strategy adalah strategi utama yang diusung oleh sejumlah bank dengan klasifikasi KBMI 2 untuk meraih kenaikan status ke KBMI 3. Dalam upaya ini, Bank KB Indonesia Tbk, atau KB Bank, menjadi salah satu perusahaan yang aktif mengejar ambisi tersebut. Penambahan modal jumbo, yang menjadi faktor kritis dalam proses kenaikan kelas, dinilai sebagai kunci untuk memperkuat kapasitas operasional dan ekspansi bisnis.

Proses Kenaikan Kelas dan Target Modal

Menurut Kunardy Darma Lie, Direktur Utama KB Bank, kenaikan kelas ke KBMI 3 memerlukan penambahan modal hingga mencapai Rp 14 triliun hingga Rp 70 triliun. Saat ini, modal inti konsolidasi KB Bank berada di angka Rp 7,48 triliun hingga kuartal I-2026. “Kunci utama untuk memperoleh klasifikasi KBMI 3 adalah penambahan modal. Selain itu, untuk mengembangkan sektor kredit korporasi serta bisnis lainnya, tambahan modal juga sangat dibutuhkan,” jelas Kunardy dalam wawancara beberapa waktu lalu.

Kenaikan kelas bukan hanya tentang jumlah modal, tetapi juga tentang efisiensi pengelolaan sumber daya dan kemampuan menarik investasi. Kami berharap proses penambahan modal bisa segera terwujud, sehingga KB Bank dapat memenuhi syarat untuk KBMI 3 dalam waktu dekat,” tambahnya.

Transformasi Internal dan Key Strategy

Dalam rangka mendukung Key Strategy, KB Bank juga sedang memperkuat transformasi internal, seperti peningkatan manajemen tata kelola, penguatan SDM, dan penyempurnaan proses bisnis. Efisiensi organisasi yang dilakukan sebelumnya dianggap sebagai bagian dari upaya mempercepat produktivitas perusahaan. Selain itu, perusahaan menekankan pentingnya konsistensi dalam penerapan strategi jangka panjang untuk menunjukkan keberlanjutan bisnis.

Kebutuhan modal jumbo memang menjadi tantangan utama, tetapi juga peluang untuk meningkatkan skala operasi. “Jika dibandingkan dengan sistem BUKU sebelumnya, klasifikasi KBMI tidak lagi membatasi jenis produk dan layanan. Ini membuka ruang lebih luas untuk inovasi,” kata Ganda Raharja Rusli, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, yang sebelumnya menyebutkan bahwa perusahaan tersebut belum memprioritaskan kenaikan kelas dalam jangka pendek.

Meski begitu, Key Strategy untuk kenaikan kelas tetap menjadi fokus utama bagi banyak bank. Kami percaya bahwa modal yang lebih besar akan mempercepat keberhasilan transformasi dan mendorong pertumbuhan yang lebih signifikan,” tambah Ganda.

Kenaikan Kelas yang Disasar Bank Mandiri Taspen

Sementara itu, Bank Mandiri Taspen juga telah merumuskan target naik kelas ke KBMI 3 pada 2028. Direktur Utama Bank Mandiri Taspen, Panji Irawan, menyebut bahwa transformasi yang dijalani perusahaan bertujuan memperkuat layanan bagi klien pensiunan dan mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang. Menurut Agus Syaiful Anwar, Kepala Divisi Pengembangan Strategi Bisnis Bank Mandiri Taspen, perusahaan optimis mencapai KBMI 3 tanpa harus mengandalkan aksi korporasi.

“Dalam tiga tahun ke depan, kami memperkirakan laba bersih berkisar Rp 1,6 triliun. Hal ini cukup untuk membawa Bank Mandiri Taspen ke KBMI 3 pada 2028,” ujar Agus. Ini menunjukkan bahwa Key Strategy tidak hanya tentang modal, tetapi juga kinerja operasional yang stabil dan berkelanjutan.

Tantangan dan Peluang dalam Implementasi Key Strategy

Di sisi lain, Allo Bank Indonesia Tbk mengungkapkan belum memiliki rencana serius untuk naik kelas ke KBMI 3. Perusahaan ini lebih fokus pada peningkatan kapasitas penyaluran kredit serta akses pendanaan, meski tidak memandang kenaikan status sebagai prioritas utama. Ganda Raharja Rusli menjelaskan bahwa kenaikan kelas bukan jaminan untuk keberhasilan bisnis, tetapi bisa menjadi pengukur kinerja yang objektif.

“Setiap penambahan modal harus dipertimbangkan dari sisi pengembalian kepada pemegang saham. Jika modal besar tetapi belum mampu dikonversi menjadi pendapatan, hal ini bisa menurunkan tingkat ROE,” kata Ganda. Dengan demikian, Key Strategy perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko yang matang dan visi jangka panjang.

Kenaikan kelas ke KBMI 3 juga menjadi indikator penting dalam menarik investasi dari calon pemegang saham. Bagi bank-bank yang berada di kategori KBMI 2, ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan daya saing di pasar perbankan Indonesia. Selain itu, proyeksi pertumbuhan laba bersih dan peningkatan kapitalisasi pasar menjadi faktor pendukung dalam mewujudkan Key Strategy tersebut.

Ikut berdiskusi