Key Issue: Investasi Asing ke RI Naik 17,3% Capai Rp 507,6 T, Singapura dan Hongkong Terbesar
T, Singapura dan Hongkong Masih Dominan Key Issue ini menyoroti kenaikan signifikan aliran investasi langsung asing (FDI) ke Indonesia pada semester pertama
Investasi Asing RI Tumbuh 17,3% Capai Rp 507,6 T, Singapura dan Hongkong Masih Dominan
Key Issue ini menyoroti kenaikan signifikan aliran investasi langsung asing (FDI) ke Indonesia pada semester pertama tahun 2026, yang mencapai Rp 507,6 triliun. Angka ini naik 17,3% dibandingkan periode yang sama tahun 2025, ketika realisasi FDI sebesar Rp 432,6 triliun. Pertumbuhan ini mencerminkan kepercayaan investor internasional terhadap peluang ekonomi Indonesia, meski kondisi global terus dinamis.
Key Issue lainnya adalah kontribusi FDI terhadap total investasi nasional yang mencapai Rp 1.010,6 triliun selama semester I-2026. Dengan presentase 50,2%, aliran modal asing menjadi salah satu pilar utama dalam meningkatkan ekonomi Indonesia. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap stabil, sejalan dengan target Presiden dalam menciptakan iklim investasi yang lebih baik.
“Meski tantangan geopolitik dan geoekonomi masih mengemuka, komitmen investor asing terhadap Indonesia terus berjalan baik. Key Issue ini menunjukkan bahwa perekonomian nasional tetap menjadi destinasi yang menarik bagi modal luar,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Istana, Kamis (16/7/2026).
Sektor yang Mendominasi
Key Issue dalam distribusi FDI terlihat dari sektor-sektor yang menjadi penyerap investasi terbesar. Industri logam dasar dan barang logam bukan mesin mendapat Rp 135 triliun atau 26,6% dari total aliran investasi. Sektor jasa lainnya menyumbang Rp 56,2 triliun (11,1%), sedangkan pertambangan mengumpulkan Rp 34,9 triliun (6,9%). Perumahan, kawasan industri, dan perkantoran juga menjadi bagian penting, dengan nilai Rp 30,5 triliun (6%).
Key Issue dalam aliran investasi asing juga mencakup pergeseran dominasi negara-negara pemasok. Singapura tetap menjadi pemain utama, dengan kontribusi US$ 8,8 miliar. Namun, pada kuartal II-2026, Hongkong menduduki posisi pertama, menyumbang US$ 5 miliar. Di sisi lain, China, Jepang, dan Amerika Serikat masing-masing memberikan kontribusi US$ 3,9 miliar, US$ 1,9 miliar, serta US$ 1,7 miliar.
Negara Penanam Modal Terbesar
Kelima negara utama tersebut berhasil mengumpulkan 77,8% dari total investasi asing yang masuk ke Indonesia. Key Issue dalam peningkatan ini adalah keberlanjutan aliran modal dari Singapura dan Hongkong, yang terus menjadi sumber utama. Rosan menekankan bahwa keberhasilan ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang mendukung pertumbuhan ekonomi.
Key Issue yang muncul selama semester pertama 2026 juga menunjukkan perubahan pola investasi. Pada kuartal II-2026, aliran investasi dari Hongkong meningkat menjadi US$ 5 miliar, melebihi Singapura yang hanya mencapai US$ 4,2 miliar. Sementara itu, China, Jepang, dan Malaysia tetap berkontribusi, dengan jumlah masing-masing US$ 1,7 miliar, US$ 0,9 miliar, serta US$ 0,7 miliar.
Dalam konteks Key Issue ini, pemerintah Indonesia terus berupaya memperkuat hubungan ekonomi dengan negara-negara penanam modal. Program seperti ‘Mitra Kerja’ dan inisiatif digitalisasi menjadi faktor penunjang dalam menjaga daya tarik investasi asing. Rosan juga mengungkapkan bahwa dukungan dari Badan Koordinasi Investasi Indonesia (BKPM) menjadi kunci dalam mempercepat realisasi proyek strategis.
Key Issue yang diharapkan selama tahun 2026 adalah peningkatan investasi di sektor high-tech dan energi terbarukan. Rosan menyebutkan bahwa pemerintah sedang mendorong pengembangan bidang ini melalui insentif pajak dan fasilitas khusus. Dengan keberhasilan FDI semester I-2026, perekonomian Indonesia dinilai lebih siap menghadapi tantangan global dan memperkuat daya saing di tingkat internasional.
