Latest Program: Bapanas Klaim Stok Beras Aman, Indonesia Surplus Beras 3 Juta Ton
n Ketersediaan Beras Nasional Stabil, Indonesia Swasembada Beras Latest Program - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan produksi beras nasional cukup
Bapanas Pastikan Ketersediaan Beras Nasional Stabil, Indonesia Swasembada Beras
Latest Program – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan produksi beras nasional cukup untuk menjawab kebutuhan masyarakat tahun ini. Dengan produksi diperkirakan mencapai sekitar 34 juta ton dan konsumsi domestik sekitar 31 juta ton, pemerintah mengklaim adanya surplus produksi sekitar 3 juta ton. Hal ini membuat negara tidak perlu mengimpor beras konsumsi sekarang ini.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bapanas, Maino Dwi Hartono, menegaskan bahwa kondisi perberasan nasional masih berada dalam posisi aman. “Produksi beras kita mencapai sekitar 34 juta ton dan kebutuhan kita 31 juta ton. Artinya secara nasional agregat cukup,” ujar Maino dalam keterangan tertulis, Kamis (16/7/2026).
Surplus Produksi Menjadi Penopang Stok Cadangan Beras
Surplus produksi tersebut juga berperan sebagai penopang stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP), yang saat ini disimpan di Perum Bulog. “Stok di Bulog sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan semua stoknya siap digunakan,” tambah Maino, menyoroti koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memaksimalkan operasi pasar atau Gerakan Pangan Murah.
Penggunaan Instrumen Stabilisasi Terus Dilakukan
Menurut Maino, pemerintah tetap mengoptimalkan berbagai alat stabilisasi harga beras. Selain SPHP, bantuan pangan dan subsidi transportasi untuk wilayah kepulauan serta daerah terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP) menjadi strategi tambahan.
Data Bapanas menunjukkan distribusi beras SPHP sejak Maret hingga 14 Juli 2026 telah mencapai 472.560 ton, atau 57,07% dari target. Jika digabungkan dengan distribusi Januari-Februari sebesar 221.050 ton, total penyaluran SPHP selama tahun ini mencapai 693.610 ton. Angka ini meningkat 282,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 181.320 ton.
Di sisi lain, pemerintah telah menyalurkan 662.880 ton beras melalui program bantuan pangan tahap pertama. Dengan demikian, total stok CBP yang telah dilepaskan melalui dua program tersebut mencapai sekitar 1,35 juta ton hingga pertengahan Juli.
Kebutuhan Impor Belum Terlihat
Secara stok, pemerintah menyebut persediaan beras di Perum Bulog mencapai 5,22 juta ton. Angka tersebut didukung oleh serapan beras produksi dalam negeri yang sudah mencapai setara 3,4 juta ton, menyejajarkan total serapan sepanjang 2025.
Maino menegaskan bahwa pemerintah belum melihat adanya kebutuhan untuk membuka impor beras konsumsi. “Semua stok CBP siap diakses dan tersebar rata di berbagai wilayah,” ujarnya.
Swasembada Beras Ditegaskan oleh Menteri Pertanian
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras. “Kita sudah swasembada. Beras tidak lagi bergantung pada impor,” ujar Amran. Ia menambahkan bahwa harga beras stabil karena produksi surplus dan stok yang cukup.
Kenaikan Harga Global Tidak Mengganggu Kondisi Domestik
Pernyataan ini disampaikan di tengah tren kenaikan harga beras global. Data dari Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan FAO All Rice Price Index (FARPI) naik 3,2% pada Juni 2026, mencapai level tertinggi dalam setengah tahun terakhir.
Di dalam negeri, tekanan harga beras dinilai masih terkendali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi beras secara tahunan pada Juni 2026 mencapai 3,98%, lebih rendah dari Mei yang mencapai 4,55%. Sementara secara bulanan, inflasi beras tercatat 0,45%, atau masih di bawah 1%.
Realisasi penyaluran beras SPHP sejak Maret hingga 14 Juli 2026 mencapai 472.560 ton, atau 57,07% dari target. Jika digabungkan dengan Januari-Februari yang sebesar 221.050 ton, total penyaluran SPHP mencapai 693.610 ton. Volume ini melonjak 282,5% dibandingkan 181.320 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ia menambahkan pemerintah daerah juga didorong memberikan subsidi biaya distribusi, terutama bagi daerah kepulauan dan wilayah 3TP, untuk menekan biaya logistik yang bisa mendorong kenaikan harga beras.
