Skip to content
Fresh Desk
Juli 22, 2026
Nasional

Latest Program: Pengetatan Threshold Valas Bisa Perkuat Stabilitas, Tapi Kedalaman Pasar Diuji

Karen Brown 2 mins baca

Latest Program: Pengetatan Threshold Valas Perkuat Stabilitas dan Uji Kedalaman Pasar Latest Program, yang diterapkan Bank Indonesia (BI), memperketat ambang

Latest Program: Pengetatan Threshold Valas Bisa Perkuat Stabilitas, Tapi Kedalaman Pasar Diuji

Latest Program: Pengetatan Threshold Valas Perkuat Stabilitas dan Uji Kedalaman Pasar

Latest Program, yang diterapkan Bank Indonesia (BI), memperketat ambang batas transaksi valuta asing (valas) tanpa dasar transaksi, bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Meski kebijakan ini menjanjikan efisiensi pasar, implementasinya juga memerlukan evaluasi mendalam mengenai kedalaman pasar dan daya tahan sistem keuangan.

Mekanisme Penegakan Threshold Valas

Dalam kebijakan Latest Program, BI menurunkan ambang batas transaksi valas ke luar negeri dari US$ 50.000 menjadi US$ 25.000. Simultaneously, batas transaksi tanpa dasar ekonomi nyata diperketat menjadi US$ 10.000 per individu per bulan, mulai 1 Juli 2026. Perubahan ini diharapkan mencegah aliran dana yang tidak diperlukan, sehingga meningkatkan efisiensi pasar.

“BI sedang memperketat ruang transaksi valas yang tidak jelas kebutuhan ekonominya, sambil tetap menjaga transaksi yang memiliki dasar nyata berjalan,” ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank, kepada Kontan, Minggu (21/6/2026).

Analisis dan Dampak Kebijakan

Josua menjelaskan bahwa Latest Program bukan sekadar pembatasan administratif. Kebijakan ini mencerminkan upaya BI untuk menyaring transaksi valas yang tidak berdasar, seperti spekulasi atau pembelian impulsif, sekaligus menjaga kelancaran transaksi ekonomi riil. Dengan penerapan ambang batas lebih rendah, BI berharap mengurangi tekanan pada rupiah, terutama dari permintaan valas yang tidak terdokumentasi.

Penurunan ambang batas transaksi valas ini juga mencerminkan respons BI terhadap volatilitas pasar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Josua menekankan bahwa kebijakan Latest Program berdampak signifikan pada dinamika permintaan valas, baik dalam skala besar maupun kecil.

“Kesimpulan yang lebih tepat adalah kebijakan ini berhasil menyaring permintaan valas yang tidak mendesak dan tidak terdokumentasi,” katanya.

Respons Perekonomian dan Risiko

Kebijakan Latest Program dinilai positif karena mengurangi risiko penggunaan valas yang tidak diperlukan. Namun, Josua memperingatkan bahwa efek jangka pendek dari pengetatan ini bisa mengurangi likuiditas pasar, meningkatkan biaya transaksi, serta mendorong pelaku usaha kecil ke jalur informal. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan harus diimbangi dengan kebijakan pendorong lain, seperti penyederhanaan proses transaksi.

Dalam jangka menengah, BI perlu memastikan pasar valas tetap dalam dan likuid melalui instrumen lindung nilai yang mudah diakses, cadangan devisa yang cukup, serta komunikasi yang jelas. Josua menegaskan bahwa stabilisasi rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan threshold, tetapi juga pada faktor makroekonomi seperti BI-Rate, imbal hasil aset rupiah, dan sentimen global.

Keseimbangan antara Kontrol dan Fleksibilitas

Lembaga internasional seperti MSCI menyoroti bahwa penerapan threshold dalam Latest Program memerlukan keseimbangan antara kontrol dan kebebasan transaksi. Jika ambang batas terlalu ketat, mungkin menghambat pertumbuhan ekonomi. Namun, jika terlalu longgar, efek stabilisasi nilai tukar rupiah bisa berkurang.

“Dalam kondisi rupiah sensitif terhadap sentimen global, langkah ini bisa mengurangi gejolak harian dan memperkuat kepercayaan bahwa otoritas menjaga stabilitas pasar,” ujarnya.

Josua berharap BI dapat mempertahankan kebijakan Latest Program sebagai langkah sementara, sambil terus memantau respons pasar. Kebijakan ini juga menjadi ujian untuk kemampuan BI dalam mengelola keuangan domestik secara efisien.

Ikut berdiskusi