Skip to content
Fresh Desk
Juli 21, 2026
Nasional

Main Agenda: Mirae Asset Sekuritas Proyeksi BI Kerek Suku Bunga Acuan Jadi 6%

Sandra Brown 3 mins baca

Proyeksi Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Menjadi 6% oleh Mirae Asset Sekuritas Main Agenda - **Main Agenda** menjadi sorotan utama dalam pembahasan terbaru dari

Main Agenda: Mirae Asset Sekuritas Proyeksi BI Kerek Suku Bunga Acuan Jadi 6%

Proyeksi Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Menjadi 6% oleh Mirae Asset Sekuritas

Main Agenda – **Main Agenda** menjadi sorotan utama dalam pembahasan terbaru dari Mirae Asset Sekuritas, yang memproyeksikan kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan hingga 6%. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 21 hingga 22 Juli 2026, analisis menyebutkan bahwa langkah ini bertujuan untuk mengatasi inflasi yang meningkat serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Proyeksi **Main Agenda** ini sejalan dengan dinamika ekonomi yang semakin kompleks, di mana BI terus memantau risiko perekonomian nasional dan global.

Analisis Rully Arya Wisnubroto: Perubahan Pola Kebijakan Moneter

Rully Arya Wisnubroto, analis dari Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa **Main Agenda** kebijakan BI mencakup peningkatan suku bunga acuan dalam jangka panjang sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang terus meningkat. Ia menambahkan bahwa hasil imbal obligasi 10 tahun belum sepenuhnya sejalan dengan perubahan ini, sehingga BI memutuskan untuk melakukan langkah lebih agresif. Kebijakan moneter yang lebih ketat ini diharapkan dapat mengurangi defisit fiskal dan memperkuat daya beli masyarakat.

“BI telah menaikkan suku bunga sebanyak 100 bps pada Mei dan Juni 2026, dan kami memperkirakan langkah tambahan ke 6,0% untuk menstabilkan nilai tukar. Perubahan ini menjadi bagian dari **Main Agenda** yang lebih fokus pada pengendalian inflasi, meskipun berdampak pada pasar keuangan,” kata Rully dalam risetnya pada Senin (20/7/2026).

Kondisi Pasar dan Faktor Pengaruh

Kenaikan suku bunga acuan juga memengaruhi kondisi pasar keuangan, dengan hasil imbal obligasi 10 tahun yang naik hampir 270 bps sejak Februari 2026. Dalam **Main Agenda** ini, Rully menyoroti bahwa BI memegang 30,1% dari total obligasi SBN yang beredar, yang menjadi indikasi kuat bahwa bank sentral terus aktif dalam intervensi pasar. Kenaikan suku bunga yang diprediksi ke 6% akan memberikan dampak signifikan terhadap investasi, kredit konsumsi, dan pergerakan IHSG.

Menurut Rully, IHSG telah mengalami koreksi sebesar 28,6% sejak awal tahun, mengikuti tekanan dari beberapa faktor, seperti risiko rekomendasi MSCI Frontier, perspektif negatif dari Moody’s dan Fitch, serta ketidakpastian kebijakan pemerintah dalam berbagai program seperti makanan bergizi gratis, koperasi desa, dan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Dengan **Main Agenda** peningkatan suku bunga, diperkirakan akan terjadi penyesuaian lebih lanjut dalam pergerakan indeks saham.

Proyeksi Pemulihan IHSG dan Skenario Jangka Panjang

Dalam **Main Agenda** jangka panjang, Mirae Asset Sekuritas menurunkan target IHSG akhir tahun menjadi 6.800, karena pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dan bunga bebas risiko yang meningkat. Meski demikian, diperkirakan akan terjadi pemulihan bertahap, didorong oleh peningkatan kepastian fiskal serta kebijakan BI yang terus stabil. Proyeksi ini memperlihatkan bahwa investor mulai mengubah strategi mereka, mengingat **Main Agenda** kenaikan suku bunga sebagai sinyal kebijakan yang lebih ketat.

Rully menambahkan bahwa rupiah diharapkan tetap stabil meskipun dalam **Main Agenda** ini, nilai tukar masih berada di level yang lemah pada semester kedua 2026. Arus masuk asing diperkirakan akan moderat hingga MSCI menyelesaikan tinjauan bulan November, yang menjadi katalis utama bagi peningkatan kepercayaan pasar. Dengan **Main Agenda** BI menaikkan suku bunga, pemerintah dan bank sentral harus siap menghadapi tantangan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang berubah.

Kebijakan Global dan Dampak pada Ekonomi Indonesia

Peningkatan suku bunga acuan ke 6% dalam **Main Agenda** BI juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter global, terutama dari negara-negara seperti Amerika Serikat dan Eropa. Dengan suku bunga AS yang terus bergerak naik, BI mempercepat normalisasi kebijakan untuk menjaga daya saing rupiah di pasar internasional. Rully menegaskan bahwa **Main Agenda** ini akan berdampak pada inflasi, dengan prediksi penurunan pertumbuhan PDB hingga 4,8% untuk tahun 2026.

Analisis dari Mirae Asset Sekuritas menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat bisa mengurangi defisit fiskal dan meningkatkan kepercayaan investor. Namun, perlu dipertimbangkan dampak terhadap sektor-sektor yang rentan, seperti properti dan perbankan. Dalam **Main Agenda** ini, BI tetap menjadi sentral dalam pengaturan stabilitas makroekonomi, dengan proyeksi peningkatan suku bunga sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

**Main Agenda** kenaikan suku bunga acuan ke 6% juga menjadi sinyal bahwa BI akan terus memantau indikator ekonomi secara ketat. Dengan peningkatan inflasi dan tekanan dari luar, kebijakan ini diharapkan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi yang seimbang. Mirae Asset Sekuritas memprediksi bahwa keputusan BI ini akan menjadi titik balik dalam pergerakan pasar keuangan dan penyesuaian ekonomi Indonesia pada tahun 2026.

Ikut berdiskusi