Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Keuangan

Saham Big Banks Melemah Usai BI Tahan Suku Bunga, Simak Rekomendasi Analis

Matthew Moore - pusatkabar.com 3 mins baca

Pasar saham Indonesia mencatat penutupan negatif pada sektor perbankan berkapitalisasi besar setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tidak mengubah suku

Saham Big Banks Melemah Usai BI Tahan Suku Bunga, Simak Rekomendasi Analis

Reaksi Pasar Terhadap Keputusan BI: Saham Bank Besar Tertekan

Pusatkabar.com – Pasar saham Indonesia mencatat penutupan negatif pada sektor perbankan berkapitalisasi besar setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga acuan. Dalam Rapat Dewan Gubernur yang diselenggarakan pada Rabu, 22 Juli 2026, BI memilih mempertahankan BI Rate di posisi 5,75%. Keputusan ini turut disertai penetapan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% serta Lending Facility pada level 6,50%.

Walaupun keputusan tersebut diharapkan oleh sebagian besar pelaku pasar, respons harga saham-saham bank justru menunjukkan tekanan jual. Pada sesi perdagangan hari yang sama, empat emiten perbankan utama ditutup dalam zona merah. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) semuanya mencatatkan penurunan.

Performa Saham Big Four Perbankan

Secara detail, pergerakan harga saham-saham tersebut tercatat sebagai berikut:

BBCA mengalami penurunan sebesar 0,38% dan ditutup pada level Rp6.500 per lembar saham, turun dari harga pembukaan Rp6.525. Jika dihitung sejak awal tahun (year to date), saham ini masih terkoreksi hingga 19,50%.

Sementara itu, BMRI melemah lebih dalam dengan penurunan 1,34% ke posisi Rp4.420 per saham. Saham ini sempat dibuka menguat di level Rp4.490 sebelum akhirnya ditutup melemah. Secara kumulatif sejak awal tahun, BMRI telah turun 13,33%.

BBNI juga mencatatkan penurunan sebesar 0,28% menjadi Rp3.610 per saham dari pembukaan di Rp3.640. Secara YTD, saham ini melemah 17,39%. Adapun BBRI ditutup turun 1,63% ke level Rp3.020 per saham setelah dibuka di Rp3.080. Sejak awal tahun, saham BBRI telah terkoreksi 17,49%.

Analisis: Profit Taking Dominasi Penurunan

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa faktor utama pelemahan saham perbankan bukan berasal dari keputusan BI, melainkan aksi ambil untung. Ia menilai reli yang cukup kuat dalam beberapa sesi perdagangan terakhir memicu investor untuk mencatatkan keuntungan.

“Pelemahan saham-saham perbankan lebih dipengaruhi oleh aksi profit taking setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa sesi sebelumnya. Di sisi lain, keputusan BI mempertahankan suku bunga memang sesuai ekspektasi pasar sehingga tidak memberikan katalis baru,” ujar Nafan.

Menurutnya, karena keputusan BI sudah sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi, tidak ada kejutan bagi investor. Hal ini menyebabkan respons harga saham yang terbatas dalam jangka pendek.

Prospek dan Rekomendasi Investasi

Nafan menambahkan bahwa fokus investor kini mulai bergeser ke berbagai aspek fundamental perbankan. Hal-hal yang menjadi perhatian meliputi prospek pertumbuhan kredit, perkembangan biaya dana, kualitas aset, serta kinerja keuangan pada semester II tahun 2026.

Secara keseluruhan, keputusan BI mempertahankan BI Rate dinilai sebagai sentimen netral hingga positif bagi sektor perbankan. Stabilnya suku bunga memberikan kepastian bagi pelaku pasar dan menjaga stabilitas sektor keuangan.

Dalam hal ini, bank-bank besar seperti BBCA dan BMRI dinilai relatif lebih diuntungkan karena memiliki komposisi dana murah atau current account saving account (CASA) yang tinggi. Hal ini membuat tekanan biaya dana pada kedua bank tersebut lebih terkendali. Sementara itu, BBRI tetap menarik karena ditopang oleh segmen mikro yang memiliki net interest margin (NIM) relatif tinggi, meskipun kualitas kredit perlu terus dicermati. BBNI juga dinilai berpotensi memperoleh manfaat apabila pertumbuhan kredit korporasi tetap solid.

“Likuiditas yang tinggi, fundamental yang solid, profitabilitas yang konsisten, serta bobot yang besar dalam indeks menjadikan sektor perbankan sebagai pilihan utama ketika arus dana asing kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Meski demikian, dalam jangka pendek tetap dapat terjadi rotasi sektor maupun aksi ambil untung,” ujarnya.

Nafan merekomendasikan strategi accumulative buy untuk saham BBCA dengan target harga sebesar Rp7.900 per saham. Ia juga menyebutkan bahwa saham-saham bank besar masih menjadi salah satu tujuan utama investor asing ketika arus modal kembali masuk ke pasar saham Indonesia.

Ikut berdiskusi