PFII Masuki Masa Transisi 2–3 Tahun, Operasional Awal Digelar di Jakarta
Pusat Finansial Internasional Indonesia atau PFII Masuki Masa Transisi 2 3 Tahun ke depan untuk memastikan kesiapan penuh sebagai pusat keuangan global
PFII Dimulai Operasional Sementara di Jakarta Selama Periode Transisi
Pusatkabar.com – Pusat Finansial Internasional Indonesia atau PFII Masuki Masa Transisi 2 3 Tahun ke depan untuk memastikan kesiapan penuh sebagai pusat keuangan global. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Rosan Roeslani, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), serta CEO Danantara. Fase persiapan ini resmi dimulai setelah pengesahan Undang-Undang PFII oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia.
Selama periode persiapan yang berlangsung dua hingga tiga tahun, seluruh aktivitas operasional pusat keuangan akan dilaksanakan dari Jakarta. Setelah seluruh aspek pendukung dinilai memadai, pengembangan akan dilanjutkan di kawasan utama yang telah ditentukan pemerintah, yaitu Bali. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa infrastruktur dan kelembagaan sudah siap sebelum pemindahan ke lokasi permanen.
Langkah-Langkah Persiapan yang Ditempuh
Pemerintah segera menindaklanjuti persetujuan DPR terhadap UU PFII dengan fokus utama menyiapkan kelembagaan, regulasi, dan infrastruktur yang diperlukan agar PFII dapat berfungsi sebagai pusat keuangan internasional. Jakarta akan menjadi basis operasional sementara selama masa persiapan berlangsung. Setelah ekosistem pendukung, kelembagaan, dan infrastruktur siap, pengembangan pusat keuangan internasional tersebut akan dilanjutkan di Bali sesuai rencana pemerintah.
“Tadi kan sudah disampaikan juga, undang-undangnya sudah disetujui DPR. Memang rencananya akan ada masa persiapan sekitar dua sampai tiga tahun sampai ini menjadi financial center yang bertaraf internasional,” ujar Rosan di Istana Kepresidenan, Kamis (23/7/2026).
Respons Positif dari Investor Global
Selain mempersiapkan infrastruktur, pemerintah juga mulai menjajaki minat investor global terhadap pembentukan PFII. Rosan menyebut respons yang diterima sejauh ini cukup positif dari berbagai kalangan. Ia mengaku telah melakukan pertemuan dengan sekitar 11 calon investor internasional, termasuk pengelola family office, yang menunjukkan ketertarikan terhadap rencana Indonesia membangun pusat keuangan bertaraf global.
“Saya juga bertemu dengan 11 investor, termasuk dari family office dan lainnya. Responsnya sangat-sangat positif mengenai keberadaan financial center yang akan ada di Indonesia ini,” ujarnya.
Strategi Infrastruktur dan Pengelolaan
Untuk mendukung operasional awal PFII di Jakarta, pemerintah memastikan tidak akan membangun gedung baru. Sebagai gantinya, salah satu gedung yang telah dimiliki pemerintah akan dimanfaatkan sebagai kantor sementara selama masa transisi berlangsung. Strategi ini dinilai efisien untuk menghemat anggaran negara sekaligus mempercepat proses operasional.
“Kalau di Jakarta kita akan mempergunakan salah satu gedung yang sudah ada sebagai financial center. Jadi tidak membangun gedung baru,” jelasnya.
Sementara itu, pengembangan kawasan utama PFII di Bali nantinya akan dikelola oleh badan pengelola kawasan yang didukung berbagai perangkat kelembagaan agar pusat keuangan internasional tersebut dapat beroperasi secara optimal. Nanti akan dipimpin oleh pengelola kawasan dan didukung seluruh perangkat yang dibutuhkan agar financial center itu bisa berfungsi dengan baik dan benar, pungkas Rosan.
“Nanti akan dipimpin oleh pengelola kawasan dan didukung seluruh perangkat yang dibutuhkan agar financial center itu bisa berfungsi dengan baik dan benar,” pungkas Rosan.
