IFG Lakukan Penyederhanaan 12 Entitas di Sektor Asuransi dan Penjaminan
Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara kini tengah melaksanakan proses penggabungan sejumlah perusahaan asuransi serta penjaminan yang berada di
IFG Memadukan 12 Perusahaan dalam Rangka Transformasi Sektor Asuransi dan Penjaminan
Pusatkabar.com – Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara kini tengah melaksanakan proses penggabungan sejumlah perusahaan asuransi serta penjaminan yang berada di bawah naungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah ini merupakan bagian dari upaya Indonesia Financial Group (IFG) untuk menyederhanakan 12 entitas guna mendukung transformasi ekosistem BUMN secara menyeluruh.
Pertemuan Strategis dengan Direksi IFG
Dony Oskaria, yang menjabat sebagai Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, baru-baru ini mengadakan pertemuan dengan jajaran Direksi IFG. Dalam sesi tersebut, mereka membahas percepatan program streamlining, kemajuan transformasi holding, serta upaya penguatan tata kelola dan efisiensi pada perusahaan asuransi BUMN.
Menurut Dony, keberhasilan transformasi tidak hanya diukur dari penyederhanaan struktur perusahaan, tetapi juga dari perbaikan kualitas pengelolaan investasi. Dia menjelaskan bahwa berbagai persoalan yang selama ini terjadi di industri asuransi berakar pada penempatan investasi yang tidak seimbang dengan kewajiban (liabilities), sehingga meningkatkan eksposur risiko perusahaan.
“Kami belajar dan memetakan persoalan-persoalan yang terjadi sebelumnya. Salah satu yang paling banyak terjadi adalah misinvestment. Banyak persoalan muncul karena tidak seimbang antara liabilities dan investasinya. Hal itu yang menyebabkan terekspos dengan risiko yang cukup besar,” ujar Dony dalam keterangan resmi, Kamis (23/7/2026).
Ketidakseimbangan Portofolio Investasi
Dony juga menyoroti adanya ketidakseimbangan portofolio investasi yang perlu segera diselesaikan. Dia menerangkan bahwa pertumbuhan kewajiban yang tidak diimbangi dengan kinerja aset investasi, khususnya pada portofolio properti, berpotensi memperlebar kesenjangan keuangan perusahaan apabila tidak segera ditangani.
“Saya khawatir gap-nya justru makin besar karena liabilities terus meningkat, sedangkan ada portofolio di sisi properti yang belum menghasilkan margin yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut. Hal itu harus diselesaikan dengan cepat,” ucapnya.
Langkah ke Depan untuk Keberlanjutan Industri
Melalui transformasi holding dan program streamlining, Dony menyampaikan IFG diarahkan untuk membangun sistem pengelolaan investasi yang lebih disiplin, memperkuat manajemen risiko, serta memastikan pengembangan produk asuransi dilakukan berdasarkan analisis risiko yang sehat. Dia berharap langkah tersebut mampu meningkatkan keberlanjutan industri asuransi BUMN, sekaligus mencegah terulangnya kesalahan investasi di masa mendatang.
Hingga Juli 2026, pemerintah menyampaikan program streamlining telah memangkas sekitar 250 entitas BUMN dan menghasilkan efisiensi biaya mencapai Rp 50 triliun.
