Keuangan

Menelisik Potensi Pembiayaan Data Center oleh Perbankan

1673972309

Pusatkabar.com – KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pusat data alias data center menjadi bisnis baru yang santer dibahas belakangan ini. Perbankan pun mulai membidik potensi bisnis ini.

Teranyar, Bank Negara Indonesia (BNI) diketahui menyalurkan kredit Rp 10,75 triliun ke PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) yang digunakan untuk pengambilalihan serta pengembangan data center di Jababeka dan pembangunan data center di Batang.

Kredit tersebut berlaku hingga enam tahun dengan bunga mengambang berbasis compounded IndONIA 90 hari ditambah 1,9%. Manajemen BNI memastikan proses pembiayaan ini telah melalui analisis dan evaluasi.

Yang mana, dalam prosesnya, bank mempertimbangkan kondisi keuangan, kelayakan proyek, prospek usaha, sumber pembayaran, struktur pembiayaan, hingga kemampuan pemenuhan kewajiban debitur.

Sekretaris Perusahaan BNI, Okki Rushartomo menyebut, pada dasarnya pengembangan data center sejalan dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital, termasuk kebutuhan komputasi dan pemanfaatan akal imitasi (AI). Ini membuat pembiayaan data center menjadi salah satu kredit sektor produktif yang strategis.

Dari situ BNI melihat sektor ini memiliki prospek jangka panjang yang kuat. Toh, pemerintah juga terus mendorong pengembangan infrastruktur komputasi dan AI, salah satunya melalui proyek AI Factory 1 GW.

Senada, Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan memandang data center sebagai salah satu bisnis yang potensial. “Kelihatannya memang ada arah baru, salah satunya data center,” tutur Lani kepada Kontan, Senin (12/10/2026).

Pun ia bilang CIMB Niaga telah melayani nasabah di segmen bisnis ini, termasuk memfasilitasi investor asing melalui kerja sama dengan nasabah. Namun, ia tak merinci bentuk dukungan perbankan yang telah diberikan, termasuk apakah dukungan tersebut telah mencakup penyaluran kredit langsung untuk pembangunan maupun ekspansi fasilitas data center.

Bank Danamon di sisi lain bahkan sudah mulai menyalurkan pembiayaan sejumlah pembangunan data center di Indonesia. Enterprise Banking & Financial Institution Director Danamon Thomas Sudarma bilang industri ini memang punya prospek pertumbuhan yang menarik, kendati ia tak memberikan rincian lebih lanjut soal proyek yang dibiayai bank.

Secara umum, Thomas memastikan pihaknya terbuka terhadap berbagai peluang pembiayaan, termasuk di sektor data center. Dalam pelaksanaannya, ia memastikan tiap pembiayaan sesuai dengan strategi bisnis, kebutuhan nasabah, serta profil risiko yang dapat diterima.

Mengingat industri ini terbilang baru, Bank Danamon menerapkan prinsip prudential banking termasuk dengan memperhatikan kualitas rekam jejak sponsor pendukung proyek yang dibiayai, di luar fundamental proyek dan prospek bisnisnya.

“Kami melihat proyek data center yang didukung oleh sponsor yang kuat dan memiliki reputasi yang baik berpotensi sejalan dengan perkembangan ekosistem digital Indonesia yang terus bertumbuh,” jelas Thomas.

Lagipula, lanjut Thomas, Bank Danamon punya dukungan kuat dari jaringan global MUFG yang memiliki pengalaman dan pemahaman luas, termasuk di sektor infrastruktur digital macam data center. Itu bakal dimanfaatkan untuk menangkap peluang pertumbuhan di berbagai sektor potensial.

Dari sudut pandang bank multinasional, Indonesia Country Executive Bank of America, Mira Arifin mengaku belum ada permintaan pembiayaan untuk proyek data center di Indonesia yang masuk melalui jaringan bank.

Ia bilang transaksi data center yang melibatkan aset di Indonesia biasanya merupakan bagian dari skema investasi yang lebih besar di regional, dengan Singapura berpotensi sebagai pusat keuangan untuk mendukung investasi data center di kawasan Asia Tenggara dan investasi di Indonesia masuk melalui penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI).

“Skala proyek di sana mungkin belum cukup besar untuk mendorong penghimpunan dana secara langsung di Indonesia,” sebut Mira.

BofA memandang kebutuhan data center yang dibangun di suatu negara tak selalu berasal dari permintaan domestik. Maka, daya tarik investasinya dipengaruhi oleh ketersediaan energi, khususnya yang terbarukan, serta air, yang dibutuhkan dalam kapasitas besar.

Bank juga menyoroti besarnya kebutuhan impor berbagai komponen penting untuk pembangunan data center. Hal itu membuat besaran nilai investasi yang masuk tak serta-merta mencerminkan nilai tambah yang dinikmati perekonomian domestik.

Dalam pandangan SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, sejatinya bisnis data center memiliki karakteristik padat modal yang sangat bergantung dengan ketersediaan listrik, teknologi, serta kepastian penyewa.

Risiko dari bisnis ini utamanya ada pada tahap konstruksi ketika arus kas belum terlihat, meski risikonya dapat menurun setelah proyek beroperasi dengan tingkat okupansi dan kontrak pendapatan yang stabil.

Bagi bank, Trioksa bilang risiko itu juga tak otomatis menjadi peluang memperoleh bunga tinggi karena penetapan bunga tetap harus mempertimbangkan biaya dana, kualitas debitur, risiko proyek, dan kecukupan imbal hasil setelah memperhitungkan risiko.

Bank tetap perlu menghitung risiko lain seperti kegagalan konstruksi, keterbatasan listrik, serta dampak lingkungan dan penggunaan air.

“Itu tidak cukup dikompensasi hanya dengan bunga tinggi. Saya melihat ke depan bank akan semakin selektif dan cenderung mengutamakan pembiayaan sindikasi, proyek dengan sponsor kuat, serta kontrak penyewa jangka panjang,” jelas Trioksa.

Namun di luar itu, menurutnya peluang bank masuk ke bisnis ini cukup besar melalui layanan treasury, transaksi valuta asing, cash management, bank garansi, dan jasa arranger pembiayaan.

Trioksa menegaskan keberhasilan bank di sektor ini tak cuman ditentukan oleh besarnya kredit yang disalurkan, tetapi juga kemampuan memperoleh pendapatan yang sebanding dengan risiko yang ditanggung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Frequently Asked Questions

What is Menelisik Potensi Pembiayaan Data Center?

Menelisik Potensi Pembiayaan Data Center is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menelisik Potensi Pembiayaan Data Center matter?

Menelisik Potensi Pembiayaan Data Center matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *