Main Agenda: Uang Beredar (M2) Menguat per Mei 2026, Ekonom: Belum Jadi Bukti Permintaan Pulih
Main Agenda: M2 Uang Beredar Menguat di Mei 2026, Ekonom Peringatkan Permintaan Ekonomi Masih Lambat Main Agenda - Menurut data terbaru, tingkat uang beredar
Main Agenda: M2 Uang Beredar Menguat di Mei 2026, Ekonom Peringatkan Permintaan Ekonomi Masih Lambat
Main Agenda – Menurut data terbaru, tingkat uang beredar (M2) Indonesia meningkat 10,8% pada bulan Mei 2026, menunjukkan kemungkinan kekuatan dalam sistem likuiditas. Namun, ekonom Josua Pardede dari PermataBank menegaskan bahwa kenaikan M2 belum bisa menjadi bukti pasti bahwa permintaan ekonomi secara keseluruhan telah pulih. Hal ini menekankan pentingnya memahami dinamika ekonomi secara menyeluruh, terutama dalam konteks situasi yang masih dipengaruhi oleh ketidakpastian global.
Pertumbuhan M2 dan Komponen Utamanya
Kenaikan M2 yang signifikan terutama didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 15,3% dan uang kuasi yang naik 6,0%. Peningkatan M1 mencerminkan dinamika permintaan riil yang lebih aktif, seperti transaksi giro dan uang kartal, sementara uang kuasi melibatkan tabungan yang kian diperluas. Josua mengatakan, meski ada pertumbuhan likuiditas, hal ini belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan permintaan dari masyarakat luas.
“Peningkatan M2 bisa menjadi indikator yang positif, tetapi tidak secara langsung menunjukkan aktivitas ekonomi yang kuat. Data ini perlu dipadukan dengan indikator lain untuk melihat kekuatan permintaan ekonomi secara utuh,” ujar Josua dalam wawancara dengan Kontan.
Analisis Komposisi Kenaikan Likuiditas
M1 tumbuh tajam karena kenaikan giro rupiah 23,9% dan uang kartal di luar bank naik 16,6%. Pertumbuhan ini mencerminkan kenaikan likuiditas dalam bentuk dana yang siap digunakan, meski Josua mengingatkan bahwa mungkin ada sementara pelaku ekonomi yang memilih menyimpan dana sebagai antisipasi risiko inflasi, fluktuasi harga energi, atau perubahan suku bunga.
Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 10,8%, dengan peningkatan giro 20,4% dan tabungan 10,2%. Namun, simpanan berjangka hanya naik 3,5%, sedangkan pertumbuhan dana korporasi mencapai 18,6%, yang jauh lebih tinggi dari dana perorangan. Hal ini menunjukkan bahwa sektor korporasi masih memegang likuiditas besar, tetapi belum sepenuhnya memanfaatkannya untuk berinvestasi atau menambah produksi.
“Sementara M2 tumbuh stabil, perputaran dana ke sektor produktif justru masih terbatas. Maka, Main Agenda harus memperhatikan kebijakan keuangan yang mendukung pergerakan dana tersebut,” lanjut Josua.
Indikator Permintaan Ekonomi yang Masih Lemah
Beberapa indikator ekonomi pada Mei 2026 masih menunjukkan tanda-tanda permintaan yang belum pulih. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik menjadi 120,9, tetapi turun dari 123,0 di bulan sebelumnya. Sementara Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini melemah menjadi 112,2 dibandingkan 116,5 di April. Kenaikan penjualan eceran yang mencapai 0,3% juga belum cukup untuk mengatasi kontraksi tahunan 3,2%, yang menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat belum sepenuhnya stabil.
Pertumbuhan M2 dianggap sebagai sinyal bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki fleksibilitas likuiditas, tetapi Josua menekankan bahwa kenaikan ini tidak sepenuhnya mencerminkan kenaikan permintaan riil. “Main Agenda harus melihat ke dalam perputaran dana, bukan hanya jumlahnya,” tambahnya. Ekonom mengingatkan bahwa sektor produktif, seperti investasi dan produksi, belum menunjukkan respons yang kuat.
Peran Bank Indonesia dalam Mengelola Likuiditas
Bank Indonesia (BI) terus menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pasokan likuiditas, terutama setelah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur Juni 2026. Meski kenaikan suku bunga bisa mengurangi akses ke dana bergerak, BI tetap memastikan pasokan likuiditas melalui instrumen pasar uang. Pertumbuhan M2 sebesar 10,8% dianggap sebagai bukti keberhasilan BI dalam menjaga ketersediaan dana untuk perekonomian nasional.
Seiring itu, Main Agenda perlu memantau peran BI dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Kebijakan moneter yang diambil oleh BI sejauh ini dinilai efektif dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, tetapi ekonom menekankan bahwa efektivitasnya bergantung pada respons sektor produktif terhadap kenaikan suku bunga dan pasar yang terus bergerak.
Ketidakpastian Global dan Tantangan Mendatang
Kenaikan M2 di Mei 2026 juga dipengaruhi oleh kondisi eksternal seperti kenaikan harga minyak, volatilitas pasar keuangan internasional, dan kebijakan moneter di negara-negara lain. Josua memperingatkan bahwa kecenderungan pelaku ekonomi untuk menunda pengambilan keputusan investasi atau konsumsi bisa memperlambat pulihnya permintaan ekonomi. “Main Agenda perlu mengantisipasi bahwa kekuatan permintaan masih bergantung pada faktor eksternal yang tidak pasti,” tuturnya.
Ekonom menambahkan, jika pertumbuhan M2 tidak diikuti oleh peningkatan permintaan riil, maka kebijakan moneter BI bisa menjadi bukti bahwa perekonomian Indonesia masih dalam proses pemulihan. Pertumbuhan M2 yang sehat tetapi tidak kuat menunjukkan bahwa sektor riil belum benar-benar aktif, sehingga Main Agenda harus terus memantau indikator ekonomi lain seperti inflasi, pertumbuhan investasi, dan kinerja sektor manufaktur.
