Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

Key Strategy: Tenor Tapera 40 Tahun Ringankan Cicilan MBR, Tapi Risiko Masa Kerja Jadi Ancaman

Matthew Smith - pusatkabar.com 3 mins baca

hun Ringankan Cicilan MBR, Tapi Risiko Masa Kerja Jadi Ancaman Key Strategy menjadi salah satu kebijakan utama pemerintah dalam meningkatkan akses perumahan

Key Strategy: Tenor Tapera 40 Tahun Ringankan Cicilan MBR, Tapi Risiko Masa Kerja Jadi Ancaman

Key Strategy: Tapera 40 Tahun Ringankan Cicilan MBR, Tapi Risiko Masa Kerja Jadi Ancaman

Key Strategy menjadi salah satu kebijakan utama pemerintah dalam meningkatkan akses perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Dengan memperpanjang tenor pembiayaan rumah subsidi melalui skema Tapera hingga 40 tahun, kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi beban cicilan bulanan, menjadikannya lebih terjangkau bagi kelompok MBR yang seringkali mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan perumahan. Kebijakan ini diperkenalkan sebagai bagian dari strategi nasional untuk memastikan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Manfaat Pemanfaatan Tenor 40 Tahun

Pemanjangkan jangka waktu kredit Tapera hingga 40 tahun merupakan key strategy yang diharapkan bisa memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan permintaan rumah subsidi. Dengan durasi yang lebih panjang, cicilan bulanan yang diperlukan untuk membiayai pembelian rumah bisa dikurangi, sehingga membuat biaya pembiayaan lebih ringan. David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), mengatakan bahwa kebijakan ini menawarkan solusi praktis bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah tanpa merasa terbebani secara finansial.

“Semakin panjang tenor, semakin ringan cicilan per bulan untuk debitur,” ujar David kepada KONTAN, Rabu (24/6/2026). “Ini memberi keleluasaan bagi MBR untuk membeli rumah tanpa harus mengorbankan kebutuhan pokok sehari-hari.”

Risiko yang Diharapkan Diperhatikan

Sementara itu, key strategy ini juga menimbulkan pertimbangan kritis. David Sumual menyoroti potensi ketidaksesuaian antara masa kredit dan usia produktif masyarakat. Ia menjelaskan bahwa rata-rata pegawai Indonesia memasuki usia pensiun sekitar 55 tahun, dengan durasi kerja maksimal 35 tahun. Artinya, sebagian besar debitur yang mengambil kredit Tapera mungkin tidak memiliki masa kerja yang cukup untuk menutupi cicilan selama 40 tahun.

“Risikonya terkait rata-rata masa kerja pegawai Indonesia yang umumnya maksimum 35 tahun dan pensiun di usia 55 tahun,” tambah David. “Jika tenor kredit mencapai 40 tahun, mereka mungkin akan mengalami kesulitan saat masa kerja berakhir.”

Menurut David, kebijakan ini memerlukan penyesuaian kebijakan bunga dan pengawasan kualitas rumah subsidi. Ia menekankan bahwa meskipun cicilan bulanan lebih ringan, biaya bunga total bisa meningkat karena durasi kredit yang lebih panjang. Hal ini perlu diperhitungkan secara matang agar tidak berdampak negatif pada kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Impact pada Sektor Properti dan Ekonomi

Keputusan pemerintah untuk memperpanjang tenor Tapera menjadi key strategy dalam mendukung sektor properti. Kebijakan ini diperkirakan bisa meningkatkan permintaan rumah subsidi, sehingga memicu aktivitas ekonomi di berbagai subsektor seperti industri semen, baja, furnitur, hingga jasa konstruksi. Maruarar Sirait, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari upaya mendorong pertumbuhan perumahan rakyat sebagai prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Kami kemarin enggak minta, (tapi) dinaikin sama Pak Menko (Airlangga) dari Rp 36 triliun menjadi Rp 50 triliun karena penyerapannya KUR perumahan besar sekali,” ujar Maruarar.

Maruarar juga menyebutkan bahwa pemerintah menyiapkan kuota pembiayaan rumah subsidi sebanyak 350.000 unit tahun ini. Untuk meningkatkan daya tarik, pihaknya memberikan insentif seperti pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) serta Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) gratis. Kebijakan ini diharapkan bisa mempercepat pembangunan perumahan sekaligus mendorong pertumbuhan sektor properti dan industri pendukungnya.

Di samping itu, key strategy ini juga memperhatikan kebutuhan masyarakat. KUR Perumahan diberikan dengan bunga subsidi 5% dan plafon pinjaman hingga Rp 20 miliar. Sementara masyarakat yang membutuhkan dana di bawah Rp 100 juta bisa memanfaatkan skema kredit bunga 0,5% per bulan tanpa agunan. Pemerintah berharap kebijakan ini bisa memastikan akses perumahan yang lebih luas, khususnya bagi kelompok MBR yang seringkali kesulitan mendapatkan pembiayaan.

Kebijakan Tapera 40 tahun ini menjadi key strategy yang diharapkan bisa mengurangi beban keuangan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, keberhasilannya bergantung pada keseimbangan antara manfaat yang diberikan dan risiko yang mungkin muncul. Dengan durasi kredit yang lebih panjang, ada kemungkinan biaya bunga menjadi lebih tinggi, tetapi ini justru bisa menjadi key strategy untuk memperluas jangkauan kebijakan perumahan rakyat.

Ikut berdiskusi