Key Issue: Pengamat Sebut Harga Ideal Gas Industri dari Reservoir Seharusnya US$ 10,5 per MMBTU
Pengamat: Harga Ideal Gas Industri dari Reservoir Harusnya US$10,5 per MMBTU Key Issue - KONTAN.CO.ID – Jakarta.
Pengamat: Harga Ideal Gas Industri dari Reservoir Harusnya US$10,5 per MMBTU
Key Issue – KONTAN.CO.ID – Jakarta. Kenaikan harga gas industri dalam negeri yang mencapai level US$20 per MMBTU memicu perhatian pengamat. Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) menyatakan bahwa lonjakan ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh kelangkaan pasokan, melainkan oleh ketidakseimbangan infrastruktur. Key Issue dalam pengelolaan energi terletak pada kemampuan pemerintah untuk menyesuaikan tarif pasar sesuai potensi reservoir yang dimiliki.
Mengapa Harga Gas Industri Meningkat?
Key Issue dalam kenaikan biaya energi juga terkait dengan efisiensi rantai pasok. Hadi Ismoyo, Sekretaris Jenderal IATMI, menekankan bahwa keterlambatan pembangunan infrastruktur seperti terminal regas LNG berbasis FSRU dan jaringan pipa transmisi menjadi faktor utama. “Kurangnya akses ke fasilitas pendukung membuat biaya distribusi lebih tinggi, padahal Indonesia memiliki cadangan gas yang cukup,” jelasnya.
Harga Ideal Gas Berdasarkan Reservoir Lokal
Pengamat menyatakan bahwa jika gas industri berasal sepenuhnya dari reservoir di Pulau Jawa, harga idealnya bisa jauh lebih rendah dibandingkan tarif pasar. Dalam analisisnya, Hadi menunjukkan bahwa harga yang seharusnya adalah US$10,5 per MMBTU, yang dihitung berdasarkan rata-rata harga produksi (wellhead) US$9, ditambah biaya sewa pipa (tol fee) US$1, dan biaya distribusi sekitar US$0,5. Key Issue ini menunjukkan bahwa penyesuaian harga perlu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan sektor manufaktur.
Dalam konteks global, kenaikan harga minyak berdampak signifikan pada permintaan gas. Key Issue yang muncul adalah ketidakseimbangan antara peningkatan permintaan industri dan ketidakmampuan pasokan yang optimal. “Kenaikan harga minyak memaksa industri beralih ke gas, tetapi jika biaya energi tidak diatur secara tepat, keuntungan bisa tergerus,” tambah Hadi.
Indonesia memiliki sumber daya gas yang melimpah di berbagai reservoir seperti Tangguh, Kasuri, Bontang, dan Donggi Senoro. Potensi LNG di Masela dan Andaman juga belum sepenuhnya dieksploitasi secara maksimal. Key Issue dalam pengelolaan energi tidak hanya terletak pada ketersediaan cadangan, tetapi juga pada kebijakan yang memungkinkan akses efisien ke sumber daya tersebut. “Kita perlu mengoptimalkan penggunaan reservoir lokal agar biaya lebih terjangkau,” imbuhnya.
Secara ekonomi, harga gas yang terlalu tinggi dapat menghambat pertumbuhan industri. Key Issue ini terlihat dari peningkatan opex (operating expense) yang berdampak langsung pada margin keuntungan perusahaan. “Jika harga gas tidak ditekan, industri manufaktur bisa kehilangan daya saing di pasar internasional,” jelas Hadi. Dia menambahkan bahwa kenaikan biaya energi juga menimbulkan risiko inflasi yang bisa menyebar ke sektor-sektor lain.
Kebijakan pemerintah dianggap krusial dalam menyelesaikan Key Issue ini. Dengan menambahkan investasi pada infrastruktur gas, seperti pipa transmisi dan terminal regas, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada impor dan menstabilkan harga pasar. “Pemerintah harus aktif mempercepat proyek strategis agar harga energi tetap kompetitif,” tutup Hadi. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan biaya produksi yang wajar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
