Internasional

Harga Minyak Acuan Ditutup Bervariasi: Brent Turun, WTI Melonjak 2%

700565384

Minyak Bergerak Berlawanan di Tengah Ketegangan Hormuz dan Serangan Houthi

Pusatkabar.com – Pasar minyak dunia menutup perdagangan dengan arah yang tidak seragam pada Senin, 19 Oktober 2026, ketika pelaku pasar mencermati eskalasi keamanan di Timur Tengah. Kontrak Brent melemah, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) justru mencatat kenaikan tajam setelah berbagai insiden yang melibatkan fasilitas energi, jalur pelayaran, dan target militer meningkatkan perhatian terhadap risiko pasokan.

Kontrak Brent untuk pengiriman Desember 2026 berakhir di US$109,55 per barel. Nilainya turun 31 sen atau 0,3%. Dalam sesi sebelumnya, Brent sempat tertekan lebih dari US$3 per barel karena investor merealisasikan keuntungan setelah reli pekan lalu yang membawa harga ke posisi tertinggi dalam lima bulan.

Sebaliknya, WTI pengiriman November 2026 menguat US$2,25 atau 2,2% menjadi US$103,66 per barel. Angka ini menjadi penutupan tertinggi sejak 15 September. Namun, transaksi pada kontrak November berlangsung relatif terbatas karena masa berlakunya akan berakhir pada 20 Oktober.

Fokus Perdagangan Bergeser ke Kontrak Desember

Likuiditas pasar lebih banyak terkumpul pada kontrak WTI Desember 2026. Lebih dari 195.000 lot diperdagangkan pada kontrak tersebut, jauh melampaui sekitar 26.000 lot di kontrak November yang mendekati jatuh tempo. WTI untuk pengiriman Desember ditutup di US$98,54 per barel, turun 0,5%.

Perbedaan pergerakan antara Brent dan WTI menggambarkan bagaimana pasar dapat menilai risiko secara berbeda pada setiap kontrak. Kontrak yang segera berakhir sering dipengaruhi kebutuhan penyelesaian posisi dan volume yang lebih tipis, sedangkan kontrak dengan perdagangan lebih aktif cenderung menjadi rujukan yang lebih luas bagi pelaku pasar.

Harga minyak sangat sensitif terhadap gangguan di kawasan penghasil energi utama. Ketika ancaman terhadap transportasi laut atau infrastruktur meningkat, pasar biasanya memasukkan premi risiko ke dalam harga. Namun, aksi ambil untung dan kekhawatiran mengenai kecukupan pasokan juga dapat menahan kenaikan pada kontrak tertentu.

Serangan di Yaman dan Arab Saudi Menambah Risiko Energi

Kelompok Houthi di Yaman menyatakan telah menyerang sejumlah sasaran di Arab Saudi, meliputi fasilitas energi, bandara, serta instalasi militer. Sasaran yang disebut mencakup fasilitas Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, dan bandara Abha.

Pihak berwenang Arab Saudi belum segera mengonfirmasi klaim tersebut. Verifikasi independen atas pernyataan itu juga belum tersedia. Meski demikian, setiap dugaan serangan terhadap aset energi Saudi mendapat perhatian besar karena negara tersebut merupakan salah satu produsen minyak terpenting di dunia.

Di Yaman, serangan Houthi terhadap kamp pelatihan pasukan keamanan pemerintah di Provinsi Shabwa pada hari yang sama menewaskan 53 orang dan melukai 200 lainnya. Shabwa berada di wilayah pesisir selatan-tengah Yaman dan dikenal sebagai salah satu provinsi penghasil energi.

Mesir menyatakan kesiapan mendukung Arab Saudi dalam menghadapi Houthi. Akan tetapi, parlemen Mesir menunda pemungutan suara hingga 26 Oktober terkait pemberian wewenang kepada angkatan bersenjata untuk membantu kerajaan apabila diminta.

Hormuz Menjadi Titik Kekhawatiran Utama

Tekanan terbesar terhadap sentimen pasokan datang dari Selat Hormuz, jalur laut vital bagi perdagangan minyak global. Pada Minggu, sebuah kapal tanker minyak terbakar dan meledak setelah menghantam ranjau laut di bagian selatan selat tersebut. Garda Revolusi Iran menyampaikan informasi itu melalui media Iran.

Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan rata-rata aliran minyak mentah selama tujuh hari melalui kawasan itu turun menjadi sekitar 8,5 juta barel per hari pada pekan lalu. Jumlah tersebut merosot dari lebih dari 20 juta barel per hari pada pekan sebelumnya. Kpler juga mencatat sedikitnya 10 insiden terkonfirmasi yang melibatkan kapal komersial dalam periode tersebut.

Penurunan lalu lintas minyak di Hormuz penting diperhatikan karena selat ini menghubungkan produsen Teluk dengan pasar internasional. Hambatan di rute tersebut dapat memperpanjang waktu pengiriman, meningkatkan biaya pelayaran dan asuransi, serta membuat pembeli mencari pasokan alternatif. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat pada harga ritel, tetapi gejolak harga acuan dapat memengaruhi biaya energi dan transportasi secara lebih luas.

Analis SEB Bjarne Schieldrop menilai kenaikan volume ekspor melalui Hormuz berpotensi hanya sementara. Ia melihat kemungkinan Iran meningkatkan serangan menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November.

Sanksi Rusia dan Ketersediaan Pasokan Global

Di tengah risiko fisik di Timur Tengah, kebijakan energi Amerika Serikat turut membentuk perhitungan pasar. Presiden Donald Trump pada Jumat menandatangani perintah eksekutif untuk mencabut sebagian sanksi dan tarif yang berkaitan dengan ekspor energi Rusia. Langkah itu memicu kritik dari lawan politik maupun sejumlah sekutu, saat pemerintah berupaya menurunkan harga energi menjelang pemilu November.

“Pencabutan sanksi ini meningkatkan prospek ekspor bahan bakar Rusia tambahan, tetapi ketidakpastian atas implementasi dan durasinya membatasi kepercayaan pada peningkatan pasokan yang berkelanjutan,” tulis Gelber and Associates dalam sebuah catatan.

Priyanka Sachdeva, kepala wawasan pasar di Phillip Nova, menilai pelonggaran tersebut belum banyak menjawab gangguan pasokan nyata di Selat Hormuz, tempat serangan terhadap kapal tanker masih berlanjut. Artinya, tambahan ekspor dari satu wilayah tidak otomatis menghapus risiko logistik dari wilayah lain.

Iran dan Rusia tetap menyalurkan bahan bakar meskipun terdapat upaya internasional untuk membatasi arus energi dari kedua negara. Keberlanjutan ekspor itu membantu membatasi dampak gangguan pasokan terhadap pasar global, meski ketegangan geopolitik tetap menjaga volatilitas harga.

Di sisi produksi, survei Reuters memperlihatkan output Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC meningkat pada September. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh tambahan produksi dari Arab Saudi dan Irak. Bagi pasar, perkembangan ini menjadi salah satu penyeimbang terhadap ancaman pasokan yang muncul dari konflik dan gangguan pelayaran.

Dalam waktu dekat, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada keamanan Selat Hormuz, perkembangan serangan regional, serta kepastian pelaksanaan kebijakan Amerika Serikat terhadap ekspor energi Rusia. Kombinasi faktor-faktor itu berpotensi membuat harga minyak tetap berfluktuasi, terutama ketika perdagangan kontrak November memasuki masa berakhirnya.

Frequently Asked Questions

What is Harga Minyak Acuan Ditutup Bervariasi?

Harga Minyak Acuan Ditutup Bervariasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Harga Minyak Acuan Ditutup Bervariasi matter?

Harga Minyak Acuan Ditutup Bervariasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *