Produksi dan Ekspansi Topang Prospek Pertamina Geothermal
Pusatkabar.com – Produksi Ekspansi Jadi Penopang Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dalam menjaga peluang pertumbuhan hingga 2029. Produksi yang stabil, keandalan pembangkit yang tinggi, serta pengembangan sejumlah proyek panas bumi menjadi faktor utama yang diperhatikan pasar terhadap prospek perseroan.
PGEO berupaya mempertahankan kinerja aset yang sudah beroperasi sambil menjalankan ekspansi kapasitas. Penambahan daya tidak hanya berasal dari proyek pembangkit baru, tetapi juga dari optimalisasi lapangan eksisting melalui proyek co-generation dan pemanfaatan uap bertekanan rendah.
Produksi hingga Juli Mendukung Target Tahunan
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, menilai capaian operasional PGEO hingga Juli 2026 masih berada dalam kondisi solid. Produksi energi tercatat mencapai 3.222 GWh dari target tahunan sebesar 5.255 GWh, dengan availability factor sekitar 99,5%.
“Sampai Juli, produksi sudah mencapai 3.222 GWh dari target setahun 5.255 GWh, sementara availability factor masih berada di sekitar 99,5%. Jadi secara operasional posisinya masih cukup kuat dan target produksi tahun ini masih cukup realistis selama tidak ada gangguan besar,” kata Kevin kepada Kontan, Selasa (6/10/2026).
Availability factor menunjukkan tingkat kesiapan pembangkit untuk beroperasi. Rasio yang tinggi mencerminkan kemampuan aset untuk tetap tersedia menghasilkan listrik dalam waktu yang panjang, yang menjadi unsur penting bagi bisnis panas bumi karena pendapatan bergantung pada kesinambungan produksi energi.
Meski demikian, pertumbuhan produksi pada semester kedua 2026 diperkirakan lebih moderat. Salah satu penyebabnya adalah basis pembanding yang lebih tinggi, mengingat Lumut Balai Unit 2 telah beroperasi penuh sejak akhir Juni 2025.
Pendapatan dan Laba PGEO Bertumbuh
Pada semester I-2026, PGEO membukukan pendapatan US$235,03 juta atau naik 14,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan juga tumbuh 15,48% menjadi US$79,61 juta.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa Produksi Ekspansi Jadi Penopang Pertamina melalui kombinasi pengelolaan aset yang berjalan dan persiapan proyek baru. Kinerja keuangan tetap sangat dipengaruhi oleh kemampuan perseroan menjaga volume produksi, keandalan pembangkit, dan efisiensi operasional.
Bagi investor, aset yang telah beroperasi masih menjadi fondasi bisnis utama PGEO. Sementara ekspansi memberikan potensi pertumbuhan jangka panjang, kontribusi proyek baru akan bergantung pada progres pengeboran, konstruksi, pengujian sumur, serta pengendalian biaya proyek.
Ekspansi Kapasitas Menuju 2029
Kontribusi langsung Lumut Balai Unit 3 dan Unit 4 belum diperkirakan masuk sebelum 2029. Berdasarkan peta jalan terbaru, kedua proyek tersebut ditargetkan beroperasi komersial pada 2030 dan 2032.
“Kalau bicara pertumbuhan sampai 2029, kontribusi langsungnya justru belum datang dari Lumut Balai Unit 3 dan 4 karena roadmap terbaru menargetkan keduanya baru beroperasi pada 2030 dan 2032,” ujarnya.
Sebelum proyek tersebut berjalan, tambahan kapasitas PGEO diharapkan berasal dari Hululais, proyek co-generation, proyek low pressure, serta Gunung Tiga. Gunung Tiga ditargetkan mulai beroperasi pada 2029.
Co-generation merupakan upaya memanfaatkan sumber panas bumi dari aset yang telah tersedia untuk menghasilkan tambahan listrik. Sementara proyek low pressure mengolah uap bertekanan rendah menjadi energi listrik. Kedua pendekatan ini berpotensi mendukung pertumbuhan dengan risiko eksplorasi yang relatif lebih rendah dibandingkan proyek greenfield.
Jika seluruh rencana berjalan sesuai jadwal, kapasitas terpasang PGEO berpotensi meningkat dari 727 MW pada 2026 menjadi sekitar 1.027 MW pada 2029. Artinya, terdapat potensi penambahan sekitar 300 MW dalam tiga tahun. Namun, realisasi target tersebut tetap bergantung pada keberhasilan pelaksanaan proyek di lapangan.
Katalis dan Risiko yang Perlu Diperhatikan
Pasar akan mencermati perkembangan pengeboran di Lumut Balai, hasil pengujian sumur Gunung Tiga, serta progres proyek co-generation. Perkembangan tersebut dapat menjadi indikator penting mengenai kecepatan penambahan kapasitas dan potensi produksi baru PGEO.
Di sisi lain, risiko utama mencakup potensi gangguan operasi, keterlambatan konstruksi, hasil pengeboran yang tidak sesuai harapan, serta kenaikan biaya proyek. Karena itu, Produksi Ekspansi Jadi Penopang Pertamina bukan hanya bergantung pada rencana pengembangan, melainkan juga pada disiplin eksekusi dan konsistensi kinerja aset yang ada.
FAQ Produksi dan Ekspansi PGEO
Berapa produksi energi PGEO hingga Juli 2026?
PGEO mencatat produksi energi sebesar 3.222 GWh hingga Juli 2026, dari target produksi tahunan sebesar 5.255 GWh.
Apa arti availability factor 99,5% bagi PGEO?
Availability factor sekitar 99,5% menunjukkan pembangkit PGEO berada dalam kondisi sangat siap untuk beroperasi. Tingkat kesiapan ini penting untuk menjaga kontinuitas produksi dan pendapatan perusahaan.
Proyek mana yang diharapkan mendukung pertumbuhan hingga 2029?
Penambahan kapasitas hingga 2029 diharapkan berasal dari Hululais, co-generation, low pressure, dan Gunung Tiga. Lumut Balai Unit 3 dan Unit 4 ditargetkan beroperasi setelah periode tersebut, yakni pada 2030 dan 2032.

