Rp 84 Triliun Dana Investor Asing Keluar dari Bursa Indonesia
Pusatkabar.com – Arus jual bersih investor asing di pasar saham Indonesia terus berlanjut. Sepanjang 2026 hingga penutupan perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, nilai Rp 84 Triliun Dana Investor asing yang tercatat keluar dari pasar saham Indonesia bahkan mencapai Rp 84,99 triliun. Angka tersebut menunjukkan besarnya kehati-hatian investor global terhadap aset ekuitas domestik.
Nilai jual bersih asing tahun ini melampaui periode tekanan pasar pada masa pandemi. Sepanjang 2020, net sell asing tercatat Rp 53,84 triliun, sedangkan pada 2008 mencapai Rp 50,17 triliun. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali menyoroti arah dana asing setelah meninggalkan bursa saham Indonesia.
Tujuan Dana Asing Setelah Keluar dari Pasar Saham Indonesia
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Nico Demus mengatakan investor global umumnya memilih negara yang menawarkan fundamental ekonomi kuat, regulasi yang jelas, serta stabilitas politik. Indonesia tetap masuk dalam pertimbangan investor, tetapi terdapat sejumlah aspek yang menurutnya perlu diperbaiki, terutama terkait regulasi dan stabilitas politik.
“Sebenarnya, pasar saham Indonesia masih masuk dalam pertimbangan, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dari sisi regulasi dan stabilitas politik,” ujar Nico kepada Kontan, Minggu, 11 Oktober 2026.
China menjadi salah satu tujuan arus dana besar dengan dana masuk ke pasar ekuitas senilai US$ 166,06 miliar hingga 30 Juni 2026. Di Asia, pasar saham Jepang juga menarik dana asing sebesar US$ 96,44 miliar per 2 Oktober 2026. Menurut Nico, Vietnam, Korea Selatan, dan Taiwan turut menjadi pilihan alternatif bagi investor global.
Vietnam dinilai menarik karena kemudahan berbisnis dan dukungan regulasi. Sementara itu, Korea Selatan dan Taiwan memiliki daya tarik melalui sektor teknologi dan semikonduktor. Perpindahan Rp 84 Triliun Dana Investor dari pasar saham Indonesia perlu dilihat dalam konteks persaingan antarpasar, karena investor global kini memiliki semakin banyak pilihan penempatan modal.
Faktor yang Membuat Bursa Indonesia Kurang Menarik
Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai arus keluar asing pada 2026 terjadi karena gabungan faktor eksternal dan perhatian khusus investor global terhadap pasar saham Indonesia. Di tengah banyaknya pilihan pasar, tema investasi teknologi dan kecerdasan buatan menjadi salah satu magnet bagi modal internasional.
Taiwan dan Korea Selatan, misalnya, menawarkan eksposur terhadap kecerdasan buatan dan teknologi. Vietnam menawarkan pertumbuhan ekonomi tinggi serta reformasi akses bagi investor asing. Sebaliknya, pasar saham Indonesia masih relatif terkonsentrasi pada sektor perbankan dan komoditas.
Meski demikian, arus dana asing tidak selalu masuk ke seluruh pasar regional. Investor asing tercatat keluar dari pasar saham Vietnam sebesar US$ 4,29 miliar hingga 9 Oktober 2026. Dana asing juga keluar dari pasar Taiwan senilai US$ 36,97 miliar. Artinya, pergerakan dana global tetap dipengaruhi kondisi dan peluang di masing-masing negara.
Obligasi Menjadi Alternatif Penempatan Dana
Selain berpindah antar pasar saham, sebagian dana investor dapat mengarah ke instrumen surat utang. Di pasar obligasi Korea Selatan, arus dana masuk mencapai US$ 40,53 miliar sejak awal tahun hingga 8 Oktober 2026. Tren masuknya dana juga terjadi di Indonesia, dengan inflow ke pasar obligasi domestik sebesar US$ 1,86 miliar sampai 8 Oktober 2026.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keluarnya Rp 84 Triliun Dana Investor asing dari saham tidak serta-merta berarti seluruh minat terhadap aset Indonesia menghilang. Pasar obligasi masih menjadi salah satu pilihan, terutama bagi investor yang mencari tingkat kepastian lebih tinggi dibandingkan saham saat volatilitas meningkat.
Budi menyebut terdapat empat indikator penting yang dapat mendorong asing kembali ke pasar saham Indonesia: stabilitas rupiah, pelemahan yield US Treasury atau dolar AS, revisi naik laba emiten, serta kebijakan fiskal yang mendukung masyarakat. Perbaikan faktor-faktor tersebut dapat memperkuat daya saing pasar ekuitas Indonesia.
Nico memperkirakan arus dana asing yang kembali ke saham hingga akhir tahun belum akan besar karena fondasi pasar dan stabilitas politik masih menjadi tantangan. Namun, saham dengan fundamental kuat dan valuasi menarik untuk jangka panjang tetap layak dicermati. Investor yang tidak siap menghadapi gejolak saham dapat mempertimbangkan obligasi ritel.
Pemerintah menawarkan Savings Bond Ritel seri SBR015 dengan kupon 6,75% untuk tenor dua tahun dan 6,85% untuk tenor empat tahun. Instrumen tersebut menggunakan skema kupon mengambang dengan batas bawah atau floating with floor. Data Pefindo juga menunjukkan yield obligasi pemerintah tenor tiga tahun sekitar 6,95% per 30 September 2026, naik 33,5% dibandingkan September 2025.
FAQ Rp 84 Triliun Dana Investor
Apa arti net sell asing di pasar saham?
Net sell asing berarti nilai penjualan saham oleh investor asing lebih besar daripada nilai pembeliannya dalam periode tertentu. Pada 2026, net sell asing di pasar saham Indonesia mencapai Rp 84,99 triliun hingga 9 Oktober 2026.
Apakah dana asing sepenuhnya keluar dari Indonesia?
Tidak selalu. Di tengah penjualan saham, pasar obligasi Indonesia justru mencatat arus dana masuk US$ 1,86 miliar hingga 8 Oktober 2026. Hal ini menunjukkan investor dapat mengalihkan penempatan dana dari saham ke surat utang.
Faktor apa yang dapat menarik investor asing kembali?
Stabilitas rupiah, pelemahan yield US Treasury atau dolar AS, peningkatan proyeksi laba emiten, dan kebijakan fiskal yang mendukung masyarakat menjadi sejumlah faktor yang dinilai penting untuk menarik kembali minat investor asing.

