Rupiah Melemah 8 Hari Beruntun, Ditutup di Rp 17.847 per Dolar AS
Pusatkabar.com – Rupiah melemah 8 hari beruntun terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga penutupan perdagangan Senin (21/9/2026). Di pasar spot, mata uang Garuda berakhir pada Rp 17.847 per dolar AS, turun 0,50% dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya yang berada di Rp 17.758 per dolar AS.
Rangkaian pelemahan tersebut mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik. Pergerakan rupiah terjadi saat imbal hasil obligasi global meningkat dan pelaku pasar menilai suku bunga tinggi di sejumlah negara utama dapat bertahan lebih lama.
Mengacu pada data Bloomberg, pelemahan di pasar spot juga diikuti oleh kurs referensi Bank Indonesia. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor turun 0,38% menjadi Rp 17.813 per dolar AS pada Senin.
Tekanan Global dan Sinyal Suku Bunga BI
Meski rupiah telah menguat lebih dari 2% dari level terendah sepanjang masa yang tercapai pada Juni 2026, kinerjanya masih termasuk yang paling lemah di Asia sepanjang tahun ini. Kondisi pasar global menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan mata uang Indonesia.
Indeks dolar AS pada Senin bergerak relatif stabil setelah menguat lebih dari 1% sepanjang pekan sebelumnya. Dolar mendapat dukungan setelah Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga serta memberi sinyal bahwa kenaikan lanjutan masih mungkin dilakukan.
Situasi tersebut membuat investor memperhitungkan kembali daya tarik aset berdenominasi rupiah. Ketika imbal hasil obligasi global naik, investor cenderung mencari instrumen dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dan risiko yang dianggap lebih terukur.
"Rupiah menjadi pengecualian, tetap berada di bawah tekanan karena para pedagang memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga kebijakannya tidak berubah pekan ini," kata Analis Doo Financial Futures Lukman Leong.
Menurut Lukman Leong, pasar masih menanti sikap Bank Indonesia mengenai arah suku bunga kebijakan. Keputusan BI akan diperhatikan karena bank sentral perlu menjaga stabilitas nilai tukar, sambil tetap mempertimbangkan kebutuhan pertumbuhan ekonomi domestik.
Pergantian Kepemimpinan Bank Indonesia Jadi Perhatian Pasar
Selain kebijakan suku bunga, pasar juga mencermati perkembangan kepemimpinan Bank Indonesia. Pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI pada Juli lalu sempat memicu kekhawatiran investor terhadap kesinambungan kebijakan moneter.
Namun, penunjukan Destry Damayanti sebagai gubernur BI membantu meredakan sebagian kekhawatiran tersebut dan mendukung pemulihan rupiah dari level terendahnya. Meski begitu, sentimen global dan keputusan suku bunga tetap menjadi faktor utama bagi pergerakan nilai tukar dalam waktu dekat.
Jika selisih imbal hasil aset Indonesia dan AS belum cukup menarik bagi investor, arus modal masuk berpotensi terbatas. Kondisi itu dapat membuat rupiah tetap rentan terhadap penguatan dolar AS maupun perubahan sentimen di pasar obligasi global.
FAQ: Apa Arti Pelemahan Rupiah bagi Masyarakat?
Mengapa rupiah melemah terhadap dolar AS?
Pelemahan rupiah dapat dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi global, serta ekspektasi bahwa suku bunga di negara-negara utama akan tetap tinggi. Faktor-faktor tersebut dapat mengurangi minat investor terhadap aset di negara berkembang.
Apakah pelemahan rupiah langsung menaikkan harga barang?
Dampaknya tidak selalu langsung terasa, tetapi pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya barang impor, bahan baku, dan pembayaran utang dalam dolar AS. Besarnya pengaruh terhadap harga konsumen bergantung pada jenis barang, kebijakan perusahaan, serta kondisi permintaan di dalam negeri.
Apa yang dinantikan pasar dari Bank Indonesia?
Pasar menunggu keputusan suku bunga dan pandangan Bank Indonesia mengenai inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta stabilitas rupiah. Sinyal kebijakan yang jelas dapat membantu investor menilai arah pasar keuangan Indonesia berikutnya.

