Keuangan

Asing Masih Gencar Lepas Saham Big Banks, Cek yang Paling Banyak Dijual

1216179478

Asing Masih Gencar Lepas Saham Big Banks di Tengah IHSG Terkoreksi

Pusatkabar.com – Asing Masih Gencar Lepas Saham big banks pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Di tengah aksi jual tersebut, pergerakan saham perbankan berkapitalisasi besar berlangsung beragam, sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang melemah 0,17% ke posisi 5.925.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) ditutup di zona merah. Sebaliknya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bergerak stabil, sedangkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mampu mencatatkan penguatan pada akhir perdagangan.

Berdasarkan data Stockbit, BBCA yang sempat tertekan pada sesi pertama akhirnya ditutup tidak berubah di level Rp 5.950 per saham. Kondisi tersebut berbeda dengan BBRI yang terkoreksi 0,96% menjadi Rp 3.080 per saham dan BMRI yang turun 0,50% ke Rp 3.990 per saham.

Di sisi lain, BBNI menjadi saham bank besar yang mencatatkan kenaikan. Harga saham BBNI menguat 0,59% dan berakhir di level Rp 3.400 per saham.

BMRI Catat Net Foreign Sell Terbesar

Aksi asing masih gencar lepas saham terlihat dari transaksi jual bersih pada sejumlah emiten bank besar. BMRI mencatatkan net foreign sell paling besar, yakni senilai Rp 120,07 miliar. Tekanan jual dari investor asing ini menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar dalam membaca arah saham perbankan.

BBRI menyusul sebagai saham dengan jual bersih asing terbesar ketiga, dengan nilai mencapai Rp 65,31 miliar. Sementara itu, BBNI berada di urutan ketujuh setelah mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 14,36 miliar.

Berbeda dari tiga saham tersebut, BBCA justru masuk daftar net foreign buy. Saham BBCA berada pada posisi keempat dengan nilai beli bersih investor asing sebesar Rp 30,11 miliar. Perbedaan arah transaksi ini menunjukkan bahwa minat investor asing terhadap saham bank besar tidak bergerak seragam.

Rebalancing Portofolio dan Profit Taking Jadi Pendorong

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai penjualan saham big banks terutama dipengaruhi aktivitas rebalancing portofolio serta profit taking setelah periode akumulasi sebelumnya. Ketidakpastian arah suku bunga global dan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury juga berpotensi mendorong arus modal keluar sementara dari pasar berkembang.

Tekanan aliran dana asing dinilai dapat membuka peluang bagi investor domestik untuk mencermati area support teknikal dan melakukan akumulasi secara bertahap atau buy on weakness.

Menurut Nafan, fundamental industri perbankan nasional tetap kuat untuk jangka panjang. Karena itu, pelemahan harga saham tidak serta-merta mengubah pandangan terhadap prospek sektor perbankan, meski investor tetap perlu memperhatikan kondisi pasar dan risiko volatilitas.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan juga memperkirakan tekanan jual asing pada saham big banks masih berpotensi berlanjut. Namun, ia belum melihat kondisi tersebut sebagai tanda bahwa arus dana asing telah berbalik sepenuhnya. Peluang technical rebound pada pekan ini masih terbuka, walaupun pergerakan saham diperkirakan tetap volatil.

Sentimen Rupiah, US Treasury, dan Kinerja Bank

Asing Masih Gencar Lepas Saham karena pasar masih mencermati sejumlah sentimen eksternal, mulai dari pergerakan nilai tukar rupiah, yield US Treasury, arah suku bunga global, hingga perkembangan geopolitik. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi selera risiko investor terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada rilis kinerja perbankan kuartal III. Investor akan mencermati pertumbuhan kredit, net interest margin atau NIM, cost of fund atau CoF, serta kualitas aset sebagai indikator penting kesehatan bank.

Khusus BMRI, isu gadai saham JARR dan PGUN kepada Bank Mandiri dinilai memberi sentimen negatif dalam jangka pendek. Meski demikian, isu tersebut belum tentu memberikan dampak besar terhadap fundamental BMRI. Arah saham BMRI secara keseluruhan masih lebih banyak ditentukan oleh foreign flow dan kondisi pasar.

Secara fundamental, BMRI dinilai masih solid. Pertumbuhan kredit hingga Agustus mencapai 17,6% secara tahunan, sedangkan rasio kredit bermasalah atau NPL tetap terjaga pada level 1%.

FAQ Saham Big Banks

Apa arti net foreign sell?

Net foreign sell berarti nilai jual saham oleh investor asing lebih besar daripada nilai belinya dalam periode perdagangan tertentu. Kondisi ini dapat memberi tekanan pada harga saham, tetapi tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental perusahaan.

Apakah aksi jual asing berarti saham bank harus dihindari?

Tidak selalu. Investor perlu melihat alasan di balik aksi jual, kondisi pasar, valuasi saham, serta fundamental emiten. Dalam situasi volatil, strategi akumulasi bertahap pada area yang sesuai dengan profil risiko dapat menjadi pertimbangan.

Faktor apa yang perlu dipantau investor?

Investor dapat memantau pergerakan rupiah, yield US Treasury, kebijakan suku bunga global, arus dana asing, serta laporan kinerja bank. Pertumbuhan kredit, NIM, CoF, dan kualitas aset menjadi sejumlah indikator penting bagi sektor perbankan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *