Skip to content
Fresh Desk
September 12, 2026
Keuangan

Bank Swasta Gencar Gelar Buyback Saham, Cek Prospeknya

Elizabeth Moore - pusatkabar.com 4 mins baca

Sejumlah bank swasta menyiapkan pembelian kembali saham atau buyback sebagai langkah menjaga sentimen pasar, menstabilkan harga, dan mengoptimalkan struktur

Bank Swasta Gencar Gelar Buyback Saham, Cek Prospeknya

Buyback Bank Swasta Jadi Sorotan di Tengah Volatilitas Pasar

Pusatkabar.com – Sejumlah bank swasta menyiapkan pembelian kembali saham atau buyback sebagai langkah menjaga sentimen pasar, menstabilkan harga, dan mengoptimalkan struktur modal. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), serta PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) telah menyampaikan rencana aksi dengan nilai dan periode pelaksanaan yang berbeda.

Buyback pada dasarnya memungkinkan emiten membeli sahamnya sendiri dari pasar. Saham tersebut dapat menjadi saham treasuri, mengurangi jumlah saham beredar secara efektif, atau dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu seperti program remunerasi karyawan. Meski berpotensi mendukung harga saham dalam jangka pendek, pasar tetap akan menguji kekuatan bisnis setiap bank melalui pertumbuhan kredit, margin, kualitas aset, serta laba.

BBCA Menyiapkan Dana Hingga Rp5 Triliun

BBCA menyiapkan buyback dengan nilai paling besar, maksimal Rp5 triliun, yang dapat berlangsung sampai Maret 2027. Jumlah saham yang dibeli kembali dibatasi tidak lebih dari 10% dari modal disetor perusahaan.

Dana internal akan digunakan untuk menjalankan aksi tersebut. Saham hasil pembelian dicatat sebagai saham treasuri sehingga pada akhirnya menjadi faktor pengurang ekuitas. Dengan ilustrasi posisi keuangan per Desember 2025, ekuitas BBCA diproyeksikan turun dari Rp281,5 triliun menjadi Rp275,3 triliun.

Total aset juga diperkirakan bergerak dari Rp1.586,8 triliun menjadi Rp1.581,8 triliun. Laba bersih tahun berjalan berpotensi turun tipis, dari Rp57,5 triliun menjadi Rp57,3 triliun. Rasio kecukupan modal atau CAR diperkirakan berubah dari 29,76% menjadi 29,18%.

Di sisi lain, pengurangan basis ekuitas berpotensi mendorong imbal hasil ekuitas. ROE BBCA diproyeksikan naik dari 23,28% menjadi 23,67% setelah pelaksanaan buyback.

Corporate Secretary BCA Rudy Budiaryo menyampaikan bahwa pelaksanaan aksi ini akan mempertimbangkan dinamika pasar.

“Tujuannya adalah apabila market terlalu volatile, perusahaan akan masuk untuk menunjukkan bahwa kita confident terhadap fundamental kita,” kata Rudy dalam paparan publik belum lama ini.

Allo Bank Mengalokasikan Maksimal Rp300 Miliar

BBHI juga merancang buyback dengan nilai maksimal Rp300 miliar. Periode yang disiapkan berlangsung dari 3 September hingga 2 Desember 2026. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga saham agar lebih sejalan dengan kinerja perusahaan.

Saldo laba ditahan akan menjadi sumber pendanaan buyback Allo Bank. Pada gambaran posisi keuangan 30 Juni 2026, aset dan ekuitas masing-masing dapat berkurang Rp300 miliar, menjadi Rp15,27 triliun untuk aset dan Rp7,04 triliun untuk ekuitas.

Laba bersih diproyeksikan berubah dari Rp227,66 miliar menjadi Rp227,66 miliar setelah dampak Rp6,00 miliar diperhitungkan. ROA diperkirakan turun sedikit dari 4% menjadi 3,98%, sedangkan ROE berpeluang meningkat dari 6,31% menjadi 6,41%.

Bagi bank yang tengah mengembangkan bisnis digital, kecukupan modal tidak hanya dinilai dari kemampuan mendanai buyback. Kebutuhan pendanaan untuk ekspansi dan pengembangan layanan juga menjadi perhatian penting dalam membaca dampak aksi korporasi tersebut.

BTPS Menargetkan Buyback Maksimal Rp1 Triliun

BTPS turut mengajukan pembelian kembali saham hingga Rp1 triliun. Durasi pelaksanaannya direncanakan selama 12 bulan sejak Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 13 Oktober 2026.

Aksi ini diharapkan membantu meningkatkan likuiditas perdagangan saham BTPS sehingga harga di pasar dapat lebih mencerminkan nilai fundamental perusahaan. Seluruh dana buyback akan berasal dari ekuitas BTPS.

Dengan mengacu pada posisi keuangan 30 Juni 2026, aset BTPS diproyeksikan berkurang Rp1 triliun menjadi Rp22,30 triliun. Ekuitasnya juga dapat turun Rp1 triliun menjadi Rp9,25 triliun. Laba bersih diperkirakan berkurang Rp5,32 miliar menjadi Rp650,16 miliar.

Meski demikian, laba per saham dasar berpotensi naik dari Rp85,09 menjadi Rp94,54. Kenaikan ini terjadi karena jumlah saham yang menjadi dasar pembagian laba dapat menyusut setelah buyback.

Dampak Buyback Tidak Selalu Bersifat Permanen

Managing Director Research Samuel Sekuritas Harry Su mengingatkan bahwa pengumuman buyback tidak selalu berakhir dengan pembelian saham secara penuh. Rencana tersebut juga dapat berperan sebagai penunjang persepsi pasar.

“Sekadar rencana. Untuk membantu sentimen saham,” sebutnya.

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya melihat buyback dapat memberi penopang dalam jangka pendek. Pasokan saham di pasar berkurang dan sentimen investor bisa menguat. Bila jumlah saham beredar turun secara efektif, laba per saham juga dapat meningkat secara mekanis.

Namun, dorongan tersebut tidak serta-merta menjamin perubahan kinerja operasional. Pergerakan harga saham dalam jangka lebih panjang tetap berkaitan dengan kemampuan bank memperluas kredit, menjaga margin, mengendalikan kualitas aset, dan membukukan profitabilitas.

Buyback dapat digunakan untuk beberapa tujuan: meredam fluktuasi harga, meningkatkan efisiensi penggunaan modal, hingga menyediakan saham treasuri bagi skema kompensasi pegawai. Karena itu, aksi pembelian kembali tidak otomatis menjadi tanda bahwa kinerja jangka pendek akan segera membaik.

Secara teori, pembelian saham sendiri dapat menekan rasio permodalan. Dampaknya cenderung terbatas apabila nilainya kecil dibandingkan modal yang tersedia dan persyaratan regulator tetap terpenuhi. BBCA dinilai memiliki kapasitas kuat karena profitabilitas, likuiditas, dan permodalannya yang solid.

BTPS juga memiliki tingkat permodalan yang relatif tinggi, walaupun tetap perlu menjaga bantalan modal menghadapi risiko kualitas aset pada segmen ultra-mikro. Untuk BBHI, pasar perlu menimbang rencana buyback bersama kebutuhan modal bagi pertumbuhan bisnis dan pengembangan layanan digital.

Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama menaruh perhatian pada nilai buyback BTPS yang cukup besar jika dibandingkan dengan ekuitasnya. Posisi modal yang kuat serta peluang kenaikan laba per saham dapat menjadi faktor yang membantu mengimbangi dampak aksi tersebut.

Frequently Asked Questions

What is Bank Swasta Gencar Gelar Buyback Saham?

Bank Swasta Gencar Gelar Buyback Saham is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bank Swasta Gencar Gelar Buyback Saham matter?

Bank Swasta Gencar Gelar Buyback Saham matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Ikut berdiskusi