OJK Longgarkan Batas Pinjaman Fintech, Pengelolaan Risiko Tetap Jadi Syarat Utama
Pusatkabar.com – Otoritas Jasa Keuangan membuka ruang bagi masyarakat untuk memperoleh pembiayaan dari lebih dari tiga penyelenggara fintech lending. Kelonggaran tersebut tidak berlaku tanpa syarat, karena setiap platform tetap diwajibkan menjaga kualitas penyaluran dana, menerapkan tata kelola yang baik, serta mengendalikan risiko kredit bermasalah.
Kebijakan ini ditujukan untuk menjawab kebutuhan pembiayaan yang masih tinggi di berbagai lapisan masyarakat. Kebutuhan tersebut mencakup pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, pembiayaan modal kerja berjangka pendek, hingga pekerja atau pelaku usaha di sektor informal yang belum seluruhnya terjangkau layanan keuangan konvensional.
Namun, perluasan akses pinjaman tidak boleh memunculkan persoalan baru bagi industri. Karena itu, OJK menekankan bahwa penyelenggara fintech lending harus meningkatkan kemampuan menilai kelayakan calon penerima dana dan memastikan pinjaman diberikan secara bertanggung jawab.
Kualitas Analisis dan TWP90 Harus Dijaga
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menyampaikan bahwa penguatan mitigasi risiko merupakan bagian penting dari kebijakan tersebut. Penyelenggara perlu memperbaiki proses analisis pendanaan, menerapkan prinsip kehati-hatian, dan memiliki manajemen risiko yang memadai.
“Salah satunya melalui peningkatan kualitas analisis pendanaan, penerapan prinsip kehati-hatian, tata kelola, dan manajemen risiko yang memadai,” katanya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Kamis (8/10/2026).
Selain melakukan seleksi awal yang lebih baik, platform juga perlu terus mengawasi mutu pembiayaan yang telah disalurkan. Salah satu indikator penting yang harus dipertahankan adalah tingkat kredit macet agregat atau TWP90, yang ditetapkan maksimal sebesar 5%.
TWP90 menggambarkan proporsi pembiayaan yang mengalami keterlambatan pembayaran lebih dari 90 hari. Bagi calon peminjam, angka ini dapat menjadi gambaran umum mengenai kualitas pembiayaan dalam industri. Bagi penyelenggara, pengendalian TWP90 menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan bisnis dan kepercayaan pemberi dana.
Dengan tidak lagi dibatasinya pinjaman hanya pada tiga penyelenggara, penilaian atas kemampuan bayar borrower menjadi semakin penting. Platform tidak cukup hanya melihat satu unsur dalam proses persetujuan pinjaman, melainkan perlu menilai kondisi calon peminjam secara menyeluruh agar kewajiban pembayaran tetap sesuai dengan kapasitasnya.
Relaksasi SLIK untuk Kredit Bernilai Kecil
Selain penyesuaian ketentuan di fintech lending, OJK juga telah menjalankan relaksasi pada Sistem Layanan Informasi Keuangan atau SLIK. Melalui kebijakan ini, sisa utang, baki debet, maupun akumulasi catatan kredit dengan nilai di bawah Rp1.000.000 tidak lagi ditampilkan atau dicatat dalam sistem tersebut.
Langkah itu diharapkan dapat mempermudah masyarakat memperoleh akses pembiayaan, termasuk kredit perumahan. Catatan kredit bernilai sangat kecil sebelumnya berpotensi menjadi salah satu hambatan administratif bagi masyarakat yang hendak mengajukan fasilitas kredit baru.
Meski demikian, relaksasi SLIK tidak berarti perusahaan pembiayaan dapat mengabaikan penilaian risiko. Kebijakan tersebut justru perlu diimbangi dengan pemeriksaan kemampuan bayar yang lebih cermat, terutama saat penyaluran pembiayaan dilakukan kepada calon debitur dengan profil keuangan yang beragam.
“OJK akan terus memantau perkembangan kualitas pembiayaan untuk menjaga kondisi industri perusahaan pembiayaan tetap sehat dan berkelanjutan,” ucap Agusman.
Agusman mengakui bahwa kebijakan pelonggaran tersebut memiliki risiko. Oleh sebab itu, perusahaan pembiayaan dan pelaku fintech lending didorong memanfaatkan berbagai faktor untuk mengukur kelayakan kredit, termasuk penggunaan alternative credit scoring.
Alternative credit scoring dapat membantu penyelenggara melihat indikator kemampuan bayar di luar catatan kredit formal. Pendekatan ini relevan bagi masyarakat yang memiliki akses terbatas pada layanan keuangan formal, tetapi tetap membutuhkan pembiayaan untuk kegiatan produktif atau kebutuhan lain yang sah.
“Perusahaan pembiayaan didorong untuk melakukan analisis kemampuan bayar secara prudent dan menyeluruh, termasuk untuk pembiayaan dengan nilai relatif kecil,” ungkapnya.
Pertumbuhan Industri Dibayangi Kenaikan Risiko Kredit Macet
Industri fintech P2P lending masih mencatat pertumbuhan pembiayaan yang kuat. Outstanding pembiayaan mencapai Rp106,94 triliun pada Agustus 2026, meningkat 22,07% secara tahunan atau year on year.
Di sisi lain, kualitas kredit industri perlu terus mendapat perhatian. TWP90 fintech lending naik dari 4,32% pada Juli 2026 menjadi 4,73% pada Agustus 2026. Posisi tersebut memang masih berada di bawah batas maksimal 5%, tetapi kenaikannya menunjukkan perlunya penguatan pengawasan dan penyaluran kredit yang lebih selektif.
Bagi masyarakat, kemudahan memperoleh pinjaman sebaiknya tetap disertai pertimbangan matang. Peminjam perlu memahami jumlah cicilan, tenor, biaya yang melekat, serta kemampuan membayar sebelum mengajukan pembiayaan pada satu atau beberapa platform. Memiliki akses ke lebih banyak penyelenggara tidak selalu berarti seluruh penawaran pinjaman perlu digunakan.
Di sisi lain, penyelenggara perlu menjaga keseimbangan antara perluasan inklusi keuangan dan disiplin manajemen risiko. Pembiayaan yang lebih mudah dijangkau dapat mendukung kebutuhan modal kerja dan akses dana alternatif, tetapi manfaat tersebut akan lebih berkelanjutan apabila kualitas analisis, pemantauan pinjaman, serta perlindungan terhadap risiko gagal bayar dijalankan secara konsisten.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Batas Pinjaman di 3 Fintech Lending?
Batas Pinjaman di 3 Fintech Lending is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Batas Pinjaman di 3 Fintech Lending matter?
Batas Pinjaman di 3 Fintech Lending matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

