Rupiah Menembus Rp18.000 per Dolar AS di Tengah Tekanan Global
Pusatkabar.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Mata uang Indonesia di pasar spot dibuka tepat di posisi Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, menandai perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan inflasi, harga energi, dan kebijakan moneter global.
Pada pukul 12.00 WIB, rupiah bergerak lebih rendah ke Rp18.019 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan 0,23% dibanding penutupan perdagangan sebelumnya yang tercatat di Rp17.978 per dolar AS.
Pergerakan ini terjadi ketika pasar keuangan dunia masih menyoroti risiko tekanan inflasi global serta ketidakpastian fiskal. Harga minyak yang melampaui US$108 per barel turut menjadi faktor penting, di tengah belum tercapainya kesepakatan mengenai pembukaan Selat Hormuz. Kenaikan harga energi dapat memperbesar kekhawatiran inflasi karena biaya produksi, transportasi, dan perdagangan berpotensi terdorong naik.
Ekspektasi Kebijakan AS Menguat
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan bahwa kondisi global tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat. Sentimen itu tercermin pada kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS.
Yield US Treasury tenor 10 tahun kembali mencapai 5,23%, level tertinggi sejak 2007. Peningkatan yield biasanya menarik perhatian investor terhadap aset dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Dalam situasi seperti ini, aset di negara berkembang dapat menghadapi tekanan arus modal karena investor menilai imbal hasil di pasar AS menjadi semakin kompetitif.
“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” tutur Erwin dalam keterangannya, Selasa (29/9/2026).
Kebutuhan valuta asing oleh importir menjelang penutupan kuartal ketiga turut memengaruhi permintaan dolar di pasar domestik. Ketika kebutuhan dolar meningkat, rupiah dapat mengalami tekanan tambahan, terutama saat sentimen eksternal juga sedang mendukung penguatan mata uang AS.
Respons Bank Indonesia
Bank Indonesia menyatakan tetap hadir di pasar untuk menjaga kelancaran pembentukan harga dan kestabilan nilai tukar rupiah agar selaras dengan kondisi fundamental ekonomi. Upaya tersebut juga mencakup pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar.
Stabilisasi rupiah tidak hanya dilakukan melalui satu instrumen. BI memperkuat efektivitas kebijakan tersebut sambil menjaga kecukupan likuiditas. Salah satu langkahnya adalah meningkatkan insentif bagi penggunaan instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward atau DNDF lindung nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka pembiayaan dari luar negeri.
Instrumen lindung nilai memiliki peran bagi pihak yang memiliki kebutuhan atau kewajiban dalam valuta asing. Dengan pengelolaan risiko kurs yang lebih baik, tekanan dari perubahan nilai tukar dapat dikendalikan secara lebih terukur, khususnya bagi korporasi yang memiliki eksposur pendanaan luar negeri.
BI juga akan meneruskan intervensi secara konsisten melalui beberapa saluran. Langkah tersebut meliputi transaksi Non-Deliverable Forward di pasar luar negeri, transaksi spot dan DNDF di dalam negeri, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Komunikasi dengan korporasi maupun pelaku pasar akan tetap dilakukan secara intensif.
Pergerakan Masih Sejalan dengan Kawasan
Meski rupiah telah menyentuh Rp18.000 per dolar AS, pergerakannya secara umum masih searah dengan mata uang regional. Secara quarter-to-date, pelemahan rupiah tercatat terbatas sebesar 0,67%.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah berlangsung dalam konteks yang lebih luas, bukan semata-mata berasal dari faktor domestik. Penguatan dolar AS, lonjakan yield obligasi Amerika Serikat, serta kenaikan harga minyak menjadi perhatian utama pasar di berbagai negara berkembang.
Posisi cadangan devisa Indonesia juga menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam membaca kapasitas stabilisasi pasar. Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa tercatat meningkat menjadi US$146,5 miliar. Ketersediaan cadangan devisa memberi ruang bagi otoritas untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing ketika volatilitas meningkat.
Bagi masyarakat dan dunia usaha, perubahan kurs dapat memengaruhi biaya transaksi yang terkait dengan dolar AS, terutama pada impor bahan baku, barang modal, perjalanan luar negeri, maupun kewajiban pembayaran valuta asing. Namun, arah rupiah ke depan tetap akan dipengaruhi kombinasi kondisi global, kebutuhan valas domestik, dan respons kebijakan yang dijalankan otoritas moneter.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Rupiah Tembus Rp 18 000 Per Dolar?
Rupiah Tembus Rp 18 000 Per Dolar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Rupiah Tembus Rp 18 000 Per Dolar matter?
Rupiah Tembus Rp 18 000 Per Dolar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

