Pertumbuhan BNPL Masih Tinggi – ICT Institute: Industri Perlu Jaga Kualitas Pembiayaan
e: Pembiayaan Harus Diawasi Pertumbuhan BNPL Masih Tinggi - Dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) hingga Mei
Pertumbuhan BNPL Masih Tinggi, ICT Institute: Pembiayaan Harus Diawasi
Pertumbuhan BNPL Masih Tinggi – Dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) hingga Mei 2026 menunjukkan peningkatan yang signifikan. Angka pertumbuhan mencapai 53,78% secara tahunan, menegaskan bahwa industri ini tetap menjadi tren utama di sektor keuangan. Heru Sutadi, Direktur Eksekutif ICT Institute, menyoroti bahwa momentum ini memerlukan pengawasan lebih ketat agar kualitas pembiayaan tetap terjaga.
Penyebab Utama Pertumbuhan BNPL
Besarnya pertumbuhan BNPL disebabkan oleh kebutuhan konsumen akan solusi pembiayaan yang fleksibel. Dalam era digital, transaksi secara online menjadi lebih populer, dan BNPL memberikan kemudahan bagi pelanggan yang ingin membeli barang tanpa membayar langsung. Heru menjelaskan bahwa kecepatan proses, kemudahan pengajuan, dan kepraktisan layanan menjadi daya tarik utama bagi pengguna.
“BNPL merupakan bagian dari solusi finansial modern yang memenuhi kebutuhan generasi muda dan milenial,” tutur Heru kepada Kontan.co.id, Jumat (10/7/2026). Ia menambahkan, tren ini juga didukung oleh adopsi teknologi seperti mobile payment dan platform e-commerce yang semakin berkembang.
Target Demografi dan Perilaku Konsumen
Pembiayaan berbasis BNPL cenderung lebih diminati oleh kalangan Gen Z dan milenial. Mereka lebih nyaman menggunakan layanan digital dan memiliki kebiasaan belanja yang tidak terikat pada metode tradisional. Hal ini menciptakan peluang besar bagi pengembangan industri BNPL, terutama di sektor ritel dan teknologi.
Menurut Heru, generasi ini cenderung memprioritaskan kecepatan dan kemudahan dalam bertransaksi, sehingga BNPL menjadi pilihan ideal. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan model ini bergantung pada kesadaran konsumen akan tanggung jawab keuangan. “Mereka perlu memahami bahwa pembiayaan bisa menjadi alat yang bermanfaat jika digunakan bijak,” ujarnya.
Kondisi Risiko dan Efek pada Pasar
Pertumbuhan pesat BNPL juga membawa risiko yang perlu diperhatikan. Data OJK menunjukkan bahwa angka non performing financing (NPF) bruto BNPL perusahaan pembiayaan mencapai 3,44% per Mei 2026. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan risiko pembiayaan yang tidak terkendali, terutama jika pemrosesan pemberian kredit tidak disertai dengan pengecekan kelayakan secara ketat.
Heru menekankan bahwa pertumbuhan pertama-tama harus diimbangi dengan kualitas risiko. “Jika hanya fokus pada peningkatan volume, kita bisa mengabaikan dampak jangka panjang terhadap kestabilan pasar,” tambahnya. Ia juga menyebut bahwa BNPL memiliki risiko gagal bayar yang mirip dengan pinjaman daring, sehingga perlu diawasi lebih serius oleh pihak terkait.
Strategi Peningkatan Kualitas Pembiayaan
Untuk menjaga pertumbuhan BNPL tetap sehat, Heru menyarankan penerapan prinsip responsible lending secara konsisten. Hal ini melibatkan penilaian secara mendalam terhadap kemampuan finansial pengguna sebelum memberikan akses pembiayaan. Selain itu, ia menyarankan adanya edukasi keuangan yang lebih luas, khususnya untuk kalangan Gen Z dan milenial yang menjadi target utama.
Heru juga mengusulkan penguatan regulasi oleh OJK untuk memastikan transparansi dan keadilan dalam bisnis BNPL. “Regulasi yang jelas bisa membantu mengurangi risiko overindebtness dan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi serta stabilitas sistem keuangan,” jelasnya. Strategi ini diharapkan bisa mengurangi risiko peningkatan NPF yang terus mengalami kenaikan.
Prospek Masa Depan dan Tantangan
Pertumbuhan BNPL yang masih tinggi memberikan peluang bagi industri keuangan, tetapi juga mengundang tantangan. Selain risiko gagal bayar, perusahaan pembiayaan harus memastikan transparansi informasi keuangan dan keadilan dalam penggunaan teknologi. “Model ini bisa menjadi penggerak ekonomi, tapi kita perlu mengawasi dampaknya terhadap perilaku konsumen,” tambah Heru.
Dalam jangka panjang, industri BNPL diperkirakan akan terus berkembang, terutama jika mampu menjaga kualitas pembiayaan sejalan dengan kebutuhan pasar. Namun, tantangan utama tetap berada pada bagaimana menjaga keseimbangan antara inovasi dan manajemen risiko. Heru menegaskan bahwa pengawasan ini sangat krusial untuk memastikan pertumbuhan BNPL tetap berkelanjutan.
