Skip to content
Fresh Desk
Juli 13, 2026
Keuangan

Ini Tiga Provinsi dengan Angka Kredit Macet Tertinggi di Industri Fintech Lending

Barbara Davis 3 mins baca

Tertinggi di Fintech Lending Ini Tiga Provinsi dengan Angka Kredit - Industri fintech lending di Indonesia kembali menarik perhatian dengan data terbaru yang

Ini Tiga Provinsi dengan Angka Kredit Macet Tertinggi di Industri Fintech Lending

Tiga Provinsi dengan Angka Kredit Macet Tertinggi di Fintech Lending

Ini Tiga Provinsi dengan Angka Kredit – Industri fintech lending di Indonesia kembali menarik perhatian dengan data terbaru yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam laporan terbaru, OJK mengungkapkan bahwa ada tiga provinsi yang menunjukkan angka kredit macet tertinggi hingga Mei 2026. Data ini penting untuk memahami risiko kredit yang mengancam sektor pembiayaan digital, terutama di tengah pertumbuhan yang dinamis. Tiga provinsi tersebut menjadi fokus karena tingkat risiko default mereka melebihi standar yang diterapkan oleh regulator.

Analisis Risiko Kredit Macet di Provinsi Utama

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan dan Fintech Lending di OJK, Agusman, menyebutkan bahwa Jakarta menduduki posisi pertama dengan angka kredit macet mencapai 11,23% per Mei 2026. Angka ini menunjukkan bahwa risiko kredit macet di ibu kota negara jauh lebih tinggi daripada ambang batas 5% yang ditetapkan. Selain Jakarta, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB) juga masuk dalam daftar tiga provinsi dengan angka kredit macet tertinggi, dengan masing-masing mencapai 4,85% dan 3,87%. Meski demikian, angka kredit macet secara industri menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, yakni dari 4,62% pada April 2026 menjadi 4,42%.

Angka kredit macet, atau TWP90, adalah indikator penting yang mengukur tingkat risiko kredit yang tidak bisa dibayar tepat waktu. Metrik ini dihitung berdasarkan persentase kredit yang gagal bayar dalam periode 90 hari terakhir. Dalam konteks fintech lending, TWP90 membantu menilai kesehatan portofolio kredit dan keandalan layanan pembiayaan di setiap wilayah. Meski terdapat peningkatan risiko di beberapa provinsi, OJK tetap memantau dengan ketat untuk mencegah dampak sistemik.

Provinsi dengan Pertumbuhan Pembiayaan Terbesar

Di sisi lain, beberapa provinsi juga menunjukkan pertumbuhan pembiayaan yang signifikan. Yogyakarta menjadi provinsi dengan pertumbuhan terbesar, mencapai 18,43% secara Year on Year (YoY). Dua provinsi lainnya, Papua Selatan dan Papua Pegunungan, masing-masing tumbuh sebesar 8,02% dan 7,43% YoY. Pertumbuhan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan fintech lending, terutama di daerah-daerah dengan akses keuangan yang lebih luas.

“TWP90 Jakarta sebesar 11,23% per Mei 2026,” ujar Agusman dalam laporan tertulis OJK, Jumat (10/7).

OJK menyatakan bahwa total outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 103,73 triliun per Mei 2026, meningkat 25,60% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan keberhasilan sektor fintech dalam memperluas akses permodalan, namun juga menyoroti tantangan dalam manajemen risiko. Angka kredit macet secara industri, meski turun dari 4,62% ke 4,42%, masih menjadi perhatian utama bagi pemain utama dan pemula di sektor tersebut.

Strategi Pemeliharaan Kualitas Portofolio

Agusman menekankan bahwa angka kredit macet yang tinggi di beberapa provinsi menuntut perhatian lebih dalam pengelolaan portofolio. Menurutnya, penyelenggara fintech lending perlu memperkuat skoring kredit dan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap debitur. “Angka kredit macet yang melebihi ambang batas menunjukkan kebutuhan untuk meningkatkan kehati-hatian dalam pemberian kredit,” tambahnya. Hal ini penting agar pertumbuhan industri tidak mengorbankan kualitas pembiayaan.

Strategi yang dianjurkan oleh OJK meliputi penerapan teknologi analitik canggih, peningkatan transparansi dalam proses pemberian kredit, serta kolaborasi dengan lembaga pemerintah untuk mengurangi risiko kredit. Selain itu, pendidikan masyarakat mengenai keuangan digital dan manajemen utang juga menjadi faktor kunci dalam meminimalkan angka kredit macet. Dengan pendekatan yang lebih terstruktur, OJK optimis bahwa industri fintech lending dapat terus berkembang tanpa mengorbankan stabilitas.

Perluasan akses keuangan melalui fintech lending menjadi salah satu kunci pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal. Namun, angka kredit macet tertinggi di beberapa provinsi seperti Jakarta menunjukkan bahwa tumbuh pesat tidak selalu berarti aman. OJK terus mengevaluasi kondisi ini dan memberikan rekomendasi untuk memastikan industri tetap berjalan sehat. Dengan demikian, angka kredit macet yang tercatat menjadi indikator penting untuk mengukur kinerja dan risiko di setiap wilayah.

Ikut berdiskusi