Skip to content
Fresh Desk
Juli 14, 2026
Nasional

Topics Covered: CORE: Depresiasi Rupiah Jadi Indikasi Titik Keseimbangan Baru Jangka Pendek-Menengah

Matthew Moore 4 mins baca

Depresiasi Rupiah Menjadi Indikasi Titik Keseimbangan Baru: Topik yang Dibahas oleh CORE Topics Covered - Center of Reform on Economics (CORE) menyoroti

Topics Covered: CORE: Depresiasi Rupiah Jadi Indikasi Titik Keseimbangan Baru Jangka Pendek-Menengah

Depresiasi Rupiah Menjadi Indikasi Titik Keseimbangan Baru: Topik yang Dibahas oleh CORE

Topics Covered – Center of Reform on Economics (CORE) menyoroti pergeseran nilai tukar rupiah yang kembali mendekati Rp 18.000 per dolar AS sebagai pertanda munculnya kisaran harga baru dalam jangka pendek hingga menengah. Analisis ini mengindikasikan bahwa pelemahan mata uang lokal tidak lagi bersifat sementara, melainkan mencerminkan stabilisasi di level baru. Dalam laporan Juli 2026, CORE menegaskan bahwa rupiah sempat menyentuh Rp 18.000 di awal Juni, lalu kembali mendekati level tersebut di awal Juli, menunjukkan kecenderungan jangka pendek yang mungkin berlanjut.

Analisis Kinerja Ekonomi dan Tekanan Pasar

Menurut CORE, fluktuasi rupiah saat ini dipengaruhi oleh tekanan ekonomi domestik yang terus berlanjut. Dalam bulan Juni 2026, transaksi investor asing mencatatkan penjualan bersih senilai Rp 23,19 triliun, melampaui penjualan bulan sebelumnya yang sebesar Rp 3,75 triliun. Ini menjadi aksi jual terbesar dalam sepanjang tahun ini, yang mengisyaratkan ketidakpercayaan pasar terhadap pertumbuhan ekonomi. Topics Covered dalam laporan ini mencakup fakta bahwa ketidakstabilan rupiah terjadi karena kurangnya daya tarik investasi, baik dari dalam maupun luar negeri.

Beberapa indikator ekonomi menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan investor. Neraca perdagangan defisit, penurunan PMI manufaktur, serta kenaikan inflasi terus menjadi momok bagi pasar keuangan. Dalam Topics Covered dari CORE, terungkap bahwa defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 mencapai Rp 10,5 triliun, sementara PMI manufaktur menyentuh level 47,3 poin. Pertumbuhan ekonomi yang stagnan, disertai dengan tekanan inflasi mencapai 4,2%, menurunkan ekspektasi pasar terhadap nilai tukar rupiah.

Kebijakan Bank Indonesia dan Langkah Stabilisasi

Untuk mengatasi tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin, termasuk kenaikan di luar jadwal rapat bulanan yang belum terjadi dalam lebih dari satu dekade. Topics Covered dalam laporan CORE menyebutkan bahwa BI berupaya memperkuat stabilitas rupiah melalui kebijakan ini, sekaligus menjaga daya tarik instrumen keuangan seperti SBN dan SRBI.

Kebijakan BI tidak hanya melibatkan kenaikan suku bunga, tetapi juga tindakan lain seperti insentif pengurangan biaya hedging swap, perluasan operasi moneter valas, dan penurunan batas transaksi valas tanpa underlying menjadi US$ 10.000 per pelaku per bulan. Topics Covered dalam analisis menunjukkan bahwa kebijakan ini berupaya memperkuat daya tarik rupiah dalam menarik dana masuk, meski tetap menghadapi tantangan dari arus dana keluar yang berkelanjutan. Selain itu, CORE juga menyoroti pentingnya konsistensi kebijakan moneter untuk membangun kredibilitas pasar.

Struktur Ekonomi dan Respon Investor

Menurut CORE, stabilitas rupiah saat ini bergantung pada perbaikan struktur ekonomi yang lebih dalam. Topics Covered dalam laporan ini mencakup peningkatan efisiensi neraca pembayaran, peningkatan produktivitas sektor industri, serta upaya pemerintah dalam memperkuat kepercayaan investor. Dalam konteks ini, CORE memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga hanya menjadi salah satu alat, dan tidak cukup untuk mengatasi kecemasan struktural yang menghambat pertumbuhan.

Kebijakan stabilisasi rupiah tidak bisa hanya bergantung pada BI, tetapi juga membutuhkan koordinasi dengan pemerintah. Topics Covered dalam analisis CORE menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat bisa dicapai melalui peningkatan daya saing industri, pengurangan defisit neraca perdagangan, serta peningkatan investasi dalam infrastruktur. Dengan fokus pada Topics Covered ini, pemerintah diharapkan bisa memperkuat fondasi ekonomi sehingga mampu menopang nilai tukar rupiah secara lebih stabil.

Kebijakan Eksternal dan Tantangan Global

Terlepas dari kebijakan domestik, Topics Covered dalam laporan CORE juga menyebutkan bahwa tekanan global terhadap rupiah tidak bisa diabaikan. Kondisi global seperti kenaikan suku bunga di AS, inflasi yang memburuk, dan volatilitas pasar keuangan internasional berdampak signifikan pada nilai tukar rupiah. CORE menegaskan bahwa dampak dari kebijakan moneter AS, yang memperketat likuiditas global, menjadi faktor utama yang memperkuat tekanan terhadap rupiah.

Selain itu, Topics Covered mencakup pandangan bahwa kenaikan nilai tukar rupiah sejauh ini masih terbatas karena ketergantungan pada aliran dana asing. Meski BI berupaya menstabilkan mata uang lokal, kondisi global yang tidak pasti membuat investor cenderung memilih aset yang lebih aman, seperti dolar AS. CORE menyarankan bahwa stabilitas rupiah jangka panjang memerlukan kebijakan eksternal yang lebih komprehensif, termasuk peningkatan ekspor dan efisiensi investasi.

Langkah Strategis untuk Masa Depan

Topics Covered dalam laporan CORE menekankan perlunya strategi jangka panjang untuk mengatasi kisaran harga baru rupiah. Pemerintah dan BI perlu berkolaborasi dalam memperkuat daya tarik rupiah melalui instrumen keuangan yang lebih menarik, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi. CORE mengusulkan bahwa penguatan kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal bisa menjadi kunci dalam menciptakan keseimbangan yang lebih tahan lama.

Dalam Topics Covered ini, CORE juga menyebutkan bahwa keberhasilan stabilisasi rupiah tergantung pada kemampuan ekonomi dalam memperbaiki kinerjanya. Jika defisit neraca perdagangan bisa dikurangi, inflasi dijaga di bawah 4%, dan PMI manufaktur meningkat, maka nilai tukar rupiah bisa kembali mendekati level yang lebih baik. Topics Covered mengingatkan bahwa ketahanan ekonomi nasional adalah penentu utama dalam perjalanan rupiah menuju keseimbangan baru. Kebijakan yang konsisten dan transparan diperlukan agar pasar dapat percaya pada stabilitas rupiah dalam jangka panjang.

Ikut berdiskusi