New Policy: Survei Kadin: Sentimen Dunia Usaha Melemah di Kuartal II-2026
emah di Kuartal II-2026 New Policy - Dalam menghadapi tantangan ekonomi global, New Policy yang diterapkan pemerintah terbukti menjadi faktor penting yang
Survei Kadin: Sentimen Dunia Usaha Melemah di Kuartal II-2026
New Policy – Dalam menghadapi tantangan ekonomi global, New Policy yang diterapkan pemerintah terbukti menjadi faktor penting yang memengaruhi kondisi sektor usaha di Indonesia. Hasil survei terbaru yang diluncurkan oleh Kadin Indonesia pada kuartal II tahun 2026 menunjukkan bahwa sentimen dunia usaha mengalami pelemahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Survei ini, yang berjudul “Survei Kinerja Sektor Usaha 2026,” menggambarkan kondisi yang dihadapi para pelaku usaha dalam menjalankan operasional bisnis, baik dalam skala kecil maupun besar.
Pemicu Penurunan Sentimen Usaha
Direktur Insights Kadin Indonesia, Fakhrul Fulvian, menjelaskan bahwa pelemahan sentimen usaha di kuartal II 2026 terutama dipengaruhi oleh dua faktor utama: tekanan pada nilai tukar rupiah dan ketidakpastian terkait New Policy. Dalam pernyataannya, Fakhrul menegaskan bahwa pengusaha saat ini terus memantau dampak dari kebijakan-kebijakan baru yang diterapkan pemerintah, termasuk perubahan regulasi dan insentif fiskal yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan bisnis.
“Sentimen bisnis di kuartal II tercatat lebih rendah dibandingkan kuartal I. Perusahaan mengalami tekanan besar karena rupiah yang terus melemah, sementara New Policy juga menjadi faktor utama yang menyebabkan kekhawatiran,” kata Fakhrul dalam pernyataan resmi, Kamis (16/7/2026).
Kemungkinan Pemulihan dan Peluang Baru
Menurut Fakhrul, meski ada pelemahan, ada harapan bahwa optimisme pelaku usaha mulai bergulir akibat penurunan risiko geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah. Faktor ini, yang terkait dengan New Policy yang menekankan stabilitas ekonomi nasional, diperkirakan akan memberikan dampak positif pada sektor ekspor. Namun, Fakhrul juga menyoroti bahwa dampak dari New Policy masih terasa dalam jangka pendek, terutama di bidang keuangan dan investasi.
“Risiko perang di Timur Tengah semakin berkurang, sehingga membuat pelaku usaha lebih positif. Perusahaan ekspor mulai melihat adanya peluang untuk memperbaiki kondisi pasar internasional, terutama setelah New Policy memberikan kepastian terkait kebijakan perdagangan internasional,” tambahnya.
Kendala Operasional dan Regulasi
Dari sisi operasional, Fakhrul menyoroti dampak pelemahan rupiah yang menyebabkan kenaikan biaya produksi. Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi tantangan dalam menjaga margin keuntungan karena daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Kebijakan New Policy yang ditujukan untuk mengurangi tekanan inflasi dianggap belum cukup mampu memperbaiki situasi ini, terutama di sektor-sektor yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
“Kenaikan biaya operasional menjadi masalah utama. Bahan baku yang mahal belum bisa ditransmisikan ke konsumen akibat daya beli yang masih terbatas, sehingga New Policy harus lebih berfokus pada pemberian insentif bagi produsen lokal,” ujarnya.
Kadin Indonesia Institute menyebutkan bahwa empat langkah utama perlu diambil pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan dunia usaha. Langkah-langkah tersebut meliputi: menjaga stabilitas rupiah, memastikan regulasi yang jelas, memberikan arah kebijakan fiskal yang terukur, serta memperkuat daya beli masyarakat melalui stimulus yang efektif. Kebijakan New Policy menjadi kunci dalam mencapai tujuan-tujuan ini, karena dianggap mampu mengatur arah kebijakan ekonomi secara lebih terpadu.
Komentar Direktur Eksekutif Kadin
Direktur Eksekutif Kadin Indonesia Institute, Mulya Amri, menegaskan bahwa kepastian kebijakan, stabilitas rupiah, dan penyederhanaan proses administrasi menjadi kunci untuk mengembalikan momentum bisnis. Ketiga faktor ini dianggap sebagai penentu utama keberhasilan usaha di tengah tantangan saat ini. Mulya menambahkan bahwa dukungan terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) perlu ditingkatkan, khususnya melalui akses pembiayaan yang lebih mudah, sebagai bagian dari New Policy yang mencakup pengembangan ekonomi sektoral.
“Sentimen usaha Indonesia terus tertekan oleh pelemahan rupiah, birokrasi yang rumit, serta kurangnya pemahaman tentang peluang kerja sama baru. Tugas pemerintah adalah memberikan kepastian kebijakan lebih cepat daripada dampak negatif yang dihadapi pelaku usaha, terutama dalam konteks New Policy yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” pungkas Mulya.
Survei Kadin menegaskan bahwa keberhasilan New Policy sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menjawab kebutuhan sektor usaha. Jika kebijakan ini dapat menyeimbangkan antara stabilitas ekonomi dan peluang pertumbuhan, maka sentimen dunia usaha diperkirakan akan mulai membaik di kuartal III-2026. Namun, jika New Policy tidak diimbangi dengan kebijakan pemasaran yang lebih efektif, pelaku usaha tetap akan menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian global.
