Bank Indonesia Sudah Borong SBN Hingga Rp 188,68 Triliun per Juli 2026
Bank sentral Indonesia mencatatkan pencapaian luar biasa dalam akumulasi pembelian Surat Berharga Negara (SBN). Hingga pertengahan Juli 2026, lembaga moneter
Bank Indonesia Sudah Borong SBN Hingga Mencapai Rp 188,68 Triliun
Pusatkabar.com – Bank sentral Indonesia mencatatkan pencapaian luar biasa dalam akumulasi pembelian Surat Berharga Negara (SBN). Hingga pertengahan Juli 2026, lembaga moneter nasional ini telah berhasil mengakuisisi instrumen SBN senilai Rp 188,68 triliun sejak awal tahun berjalan. Angka ini mencerminkan komitmen kuat BI dalam mendukung stabilitas pasar keuangan dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Strategi Pembelian di Pasar Primer dan Sekunder
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa strategi pembelian SBN tidak hanya terbatas pada pasar primer. Institusi ini juga aktif melakukan transaksi di pasar sekunder dengan nilai mencapai Rp 76,62 triliun. Kombinasi pembelian di kedua pasar ini memungkinkan BI untuk lebih fleksibel dalam mengelola likuiditas dan merespons dinamika pasar yang berubah.
BI memperkuat kebijakan menjaga kecukupan likuiditas pasar uang, perbankan, dan perekonomian,
— Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (22/7/2026)
Langkah strategis ini merupakan bagian integral dari kebijakan moneter BI untuk memastikan kecukupan likuiditas di berbagai sektor. Dengan membeli SBN secara agresif, BI tidak hanya mendukung pembiayaan pemerintah tetapi juga memberikan sinyal positif kepada pasar tentang stabilitas ekonomi nasional.
Pertumbuhan Uang Primer M0 Mencapai Double Digit
Sejalan dengan upaya penguatan likuiditas, Bank Indonesia berhasil mempertahankan pertumbuhan uang primer atau M0 pada bulan Juni 2026 dalam kategori double digit. Angka pertumbuhan tercatat sebesar 14,1% secara tahunan, menunjukkan ekspansi yang signifikan dalam pasokan uang di perekonomian.
Komponen utama yang mendorong kenaikan M0 ini berasal dari dua sumber utama. Pertama, uang kartal mengalami peningkatan 14,0% year on year, mencerminkan permintaan masyarakat terhadap uang tunai yang stabil. Kedua, giro bank umum di Bank Indonesia tumbuh 12,7% yoy, menunjukkan aktivitas perbankan yang sehat dan dinamis.
Faktor pendorong pertumbuhan M0 pada Juni 2026 tidak lepas dari operasi moneter yang dijalankan Bank Indonesia secara konsisten. Selain itu, ekspansi operasi keuangan Pemerintah juga memberikan kontribusi signifikan, termasuk penempatan dana Pemerintah ke sektor perbankan yang memberikan dampak positif terhadap likuiditas sistem keuangan.
Tren Positif pada Uang Beredar M2
Dalam hal uang beredar dalam arti luas atau M2, data menunjukkan tren positif pada Mei 2026. Pertumbuhan M2 tercatat sebesar 10,8% YoY, melampaui angka bulan sebelumnya yang hanya mencapai 9,2% YoY. Kenaikan ini mengindikasikan peningkatan aktivitas ekonomi dan kepercayaan pelaku usaha terhadap stabilitas moneter.
Faktor utama yang memengaruhi kenaikan M2 adalah penyaluran kredit yang meningkat serta aktiva luar negeri bersih yang berkontribusi positif. Kombinasi kedua faktor ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang dalam fase ekspansi yang sehat, didukung oleh likuiditas yang memadai dari kebijakan BI.
Perry Warjiyo menegaskan bahwa ke depannya, berbagai upaya penguatan untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar uang, perbankan dan perekonomian akan terus ditempuh. Dengan Bank Indonesia Sudah Borong SBN Hingga mencapai Rp 188,68 triliun, BI positioned untuk menjaga stabilitas moneter dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
