Skip to content
Fresh Desk
Juli 23, 2026
Nasional

BI Proyeksi Defisit Neraca Transaksi Berjalan Meningkat, 0,5%-1,3% dari PDB 2026

Matthew Moore - pusatkabar.com 2 mins baca

Jakarta – Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan Indonesia akan meluas pada tahun 2026. Proyeksi ini mencerminkan respons

BI Proyeksi Defisit Neraca Transaksi Berjalan Meningkat, 0,5%-1,3% dari PDB 2026

BI Proyeksi Defisit Neraca Transaksi 0,5%-1,3% PDB 2026

Pusatkabar.com – Jakarta – Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan Indonesia akan meluas pada tahun 2026. Proyeksi ini mencerminkan respons terhadap dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. BI Proyeksi Defisit Neraca Transaksi menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, yang mengindikasikan perubahan struktur neraca pembayaran nasional.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa defisit transaksi berjalan diproyeksikan mencapai 0,5% hingga 1,3% dari produk domestik bruto. Angka ini merepresentasikan kenaikan signifikan dibandingkan posisi tahun 2025 yang hanya tercatat sebesar 0,1% dari PDB atau setara US$ 1,5 miliar. Proyeksi ini menjadi perhatian penting bagi para pengambil kebijakan dalam merancang strategi makroekonomi ke depan.

“Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan kinerja transaksi berjalan 2026 tetap sehat dalam kisaran defisit 1,3% sampai dengan 0,5% dari PDB,” ujar Perry dalam konferensi pers pada Rabu, 22 Juli 2026.

Kinerja Perdagangan dan Neraca Pembayaran

Perry menekankan pentingnya penguatan Neraca Pembayaran Indonesia sebagai benteng menghadapi rambatan ketidakpastian global. Sinergi antara BI dan pemerintah menjadi kunci dalam menjaga ketahanan sektor eksternal perekonomian. Dari sisi perdagangan, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih membukukan surplus kumulatif sebesar US$ 4,03 miliar. Namun, tren ini berubah pada Mei 2026 ketika neraca perdagangan mencatat defisit US$ 1,61 miliar.

Perubahan ini sejalan dengan BI Proyeksi Defisit Neraca Transaksi yang memperhitungkan faktor-faktor seperti fluktuasi harga komoditas dan permintaan global. Meskipun terjadi defisit bulanan, surplus kumulatif menunjukkan fundamental perdagangan yang masih terjaga. BI terus memantau perkembangan ini untuk memastikan tidak ada gangguan struktural pada neraca pembayaran.

Arus Modal dan Cadangan Devisa

Di sisi transaksi modal dan finansial, penguatan bauran kebijakan moneter BI yang didukung kebijakan fiskal pemerintah berhasil mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik. Investasi portofolio asing pada kuartal II-2026 mencatat arus masuk bersih sebesar US$ 8,5 miliar, terutama ke instrumen Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Arus modal ini masih berlanjut pada triwulan III-2026, dengan investasi portofolio asing melalui SBN mencatat arus masuk bersih US$ 0,1 miliar hingga 20 Juli 2026.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat sebesar US$ 145,6 miliar. Nilai ini setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa ini berada di atas standar kecukupan internasional yang ditetapkan sekitar tiga bulan impor. Kekuatan cadangan devisa menjadi penopang penting bagi stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak ekonomi global.

BI bersama pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi kebijakan. Langkah ini bertujuan menjaga ketahanan eksternal perekonomian nasional sekaligus menopang stabilitas nilai tukar rupiah. Dengan BI Proyeksi Defisit Neraca Transaksi yang telah diproyeksikan, para pemangku kepentingan dapat merencanakan strategi yang lebih terarah untuk menghadapi tantangan ekonomi global di masa mendatang.

Ikut berdiskusi