Key Discussion: Menko Airlangga: Pemerintah Siapkan Tiga Kawasan Financial Center di Bali
Menko Airlangga: Pemerintah Siapkan Tiga Kawasan Financial Center di Bali Key Discussion menegaskan bahwa Bali akan menjadi lokasi pertama dalam pengembangan
Menko Airlangga: Pemerintah Siapkan Tiga Kawasan Financial Center di Bali
Key Discussion menegaskan bahwa Bali akan menjadi lokasi pertama dalam pengembangan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), dengan rencana pembangunan tiga kawasan financial center yang ditargetkan beroperasi secara bersamaan. Strategi ini bertujuan memperkuat daya saing Indonesia di sektor keuangan global, sejalan dengan upaya pemerintah mengakui potensi Bali sebagai pusat ekonomi baru.
Persiapan Regulasi dan Infrastruktur yang Matang
Pembentukan PFII di Bali dilakukan melalui pendekatan holistik, yang mencakup pengembangan regulasi, infrastruktur, serta ekosistem pendukung. Menko Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah sedang menyempurnakan peraturan yang memungkinkan kawasan keuangan ini beroperasi dengan standar internasional, termasuk insentif perpajakan dan kebijakan spesial. “Kita sedang menyiapkan dokumen hukumnya. Ekosistem infrastruktur juga sedang diperkuat,” ujarnya dalam wawancara di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Dalam Key Discussion, Airlangga menyebutkan bahwa tiga kawasan financial center akan dibangun di lokasi strategis Bali, seperti Kuta, Denpasar, dan Ubud. Pemilihan titik ini didasari pertimbangan aksesibilitas, infrastruktur yang sudah ada, serta kemudahan bagi investor. “Bali dipilih karena memiliki potensi besar dalam menarik investasi dan menjadi hub keuangan Asia Tenggara,” tambahnya.
Referensi Global dan Potensi Pertumbuhan Ekonomi
Menko Airlangga mengambil contoh dari negara-negara seperti Singapura dan Dubai yang sukses mengembangkan financial center. Dalam Key Discussion, ia menjelaskan bahwa Singapura mampu menarik investasi sekitar Rp 5.000 triliun per tahun melalui PFII, jauh lebih besar dibandingkan aliran investasi tradisional ke Indonesia yang hanya sekitar Rp 2.200 triliun. “Dengan pendekatan yang sama, Indonesia bisa mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan menarik modal asing,” katanya.
Dubai juga menjadi inspirasi, dengan aset yang terakumulasi hingga US$ 800 miliar. Dalam Key Discussion, Airlangga menyampaikan bahwa dengan pengembangan tiga kawasan financial center di Bali, Indonesia bisa menyaingi negara-negara tersebut dalam jangka panjang. “Kita memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat finansial utama di Asia, selama semua aspek dipersiapkan secara matang,” tambahnya.
Key Discussion menyoroti bahwa kawasan-kawasan ini akan dioperasikan oleh Dewan Pusat Finansial Internasional Indonesia (DPFI), yang memiliki peran kunci dalam mengawasi pengelolaan PFII. DPFI akan memastikan bahwa semua fasilitas dan regulasi berjalan sesuai harapan, termasuk kebijakan yang mendukung pengembangan bisnis keuangan dan layanan jasa finansial.
Target Pemenuhan dan Progres Legislasi
Rancangan Undang-Undang (RUU) PFII yang sedang dibahas bersama DPR menjadi landasan hukum utama. Dalam Key Discussion, Airlangga menyatakan bahwa RUU ini akan selesai pada September 2026, sesuai dengan target pemerintah. Dokumen tersebut memberikan kewenangan untuk menetapkan satu atau lebih kawasan PFII, dengan kriteria kekhususan hukum dan insentif pajak.
Pembangunan tiga kawasan financial center di Bali diharapkan bisa menciptakan ekosistem keuangan yang kompetitif dan inovatif. Key Discussion juga menyebutkan bahwa pemerintah akan melibatkan sektor swasta untuk meningkatkan partisipasi dalam pengembangan kawasan ini. “Kerja sama antara pemerintah dan swasta sangat penting agar PFII bisa berkembang maksimal,” ujar Airlangga.
Dengan lahirnya tiga kawasan financial center di Bali, pemerintah optimis Indonesia bisa meningkatkan jumlah transaksi keuangan internasional, sekaligus menarik lebih banyak pelaku usaha keuangan global. Key Discussion menekankan bahwa ini adalah langkah awal dalam mewujudkan visi jangka panjang menjadi pusat finansial yang berpengaruh di tingkat regional dan global.
