Rupiah Dekati Level Rp 18 000, Ini Risiko hingga Akhir 2026
Pusatkabar.com – Rupiah dekati level Rp 18 000 per dolar AS setelah ditutup di Rp17.903 per dolar AS pada Jumat, 25 September 2026. Posisi tersebut melemah 0,07% dibandingkan perdagangan sebelumnya dan memperlihatkan tekanan global masih membayangi pasar valuta asing domestik.
Sepanjang pekan, rupiah bergerak dari sekitar Rp17.855 per dolar AS pada 22 September 2026 menuju kisaran Rp17.916 per dolar AS. Perubahan ini membuat pelaku pasar kembali menaruh perhatian pada peluang pelemahan nilai tukar hingga akhir tahun.
Level Psikologis, Bukan Otomatis Krisis
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai kedekatan rupiah dengan Rp18.000 per dolar AS mencerminkan tekanan eksternal yang telah berlangsung cukup lama. Namun, kondisi tersebut belum otomatis menunjukkan adanya kerusakan mendasar pada perekonomian Indonesia.
Level Rp18.000 dinilai penting karena menjadi batas psikologis bagi pasar dan berhubungan dengan likuiditas perdagangan mata uang. Penilaian terhadap situasi rupiah tidak cukup hanya melihat angkanya, tetapi juga kecepatan pelemahan, arus modal asing, serta respons kebijakan Bank Indonesia.
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 23 September 2026. Kebijakan ini mencerminkan upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi tanpa mengabaikan kebutuhan pertumbuhan ekonomi.
Tiga Tekanan Global bagi Nilai Tukar
Menurut Syafruddin, tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi imbal hasil US Treasury yang tinggi, penguatan dolar AS, dan risiko kenaikan harga energi. Ketiganya dapat mendorong investor global mengalihkan dana ke aset berdenominasi dolar.
“Masalah utamanya datang dari kombinasi yield Treasury AS yang sangat tinggi, dolar yang kuat, serta Brent yang kembali di atas US$ 100 per ons troi setelah eskalasi risiko energi Timur Tengah,” ujar Syafruddin.
Yield obligasi pemerintah AS yang tinggi membuat aset dolar menjadi lebih menarik. Pada saat permintaan dolar meningkat, mata uang negara berkembang seperti rupiah biasanya menghadapi tekanan yang lebih berat. Pasar karena itu akan mencermati pergerakan yield US Treasury, indeks dolar AS atau DXY, serta harga minyak.
Kenaikan harga energi juga berisiko meningkatkan biaya impor dan inflasi. Jika harga minyak naik ketika nilai tukar melemah, tekanan harga barang dari luar negeri dapat semakin besar. Kondisi ini dikenal sebagai imported inflation atau inflasi yang dipicu kenaikan biaya impor.
“Shock Fed tidak berhenti di pasar valuta asing. Ia dapat bergerak dari Treasury ke arus modal, rupiah, inflasi, BI, kredit, dan akhirnya pertumbuhan,” kata Syafruddin.
Cadangan Devisa Menjadi Penyangga
Meski rupiah dekati level Rp 18 000, sejumlah indikator domestik masih memberikan bantalan. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tercatat US$146,5 miliar. Selain itu, investasi portofolio sepanjang kuartal III 2026 hingga 21 September masih mencatat arus masuk bersih sekitar US$400 juta.
Cadangan devisa dan arus modal masuk membantu memperkuat ketahanan pasar saat gejolak global meningkat. Namun, penyangga tersebut belum tentu cukup membalikkan arah rupiah apabila imbal hasil bebas risiko global terus naik dan kekhawatiran atas harga energi berlanjut.
Risiko dapat bertambah bila inflasi AS kembali menguat. Pasar dapat memperkirakan suku bunga tinggi di AS bertahan lebih lama, sehingga yield Treasury naik dan aset dolar semakin diminati. Dampaknya berpotensi terlihat pada perlambatan aliran modal portofolio, kenaikan yield Surat Berharga Negara, serta tekanan lanjutan terhadap rupiah.
FAQ Rupiah dan Kurs Dolar AS
Apakah rupiah di Rp18.000 per dolar AS berarti krisis?
Tidak selalu. Angka tersebut merupakan level psikologis penting, tetapi kondisi ekonomi perlu dinilai melalui banyak indikator, termasuk inflasi, cadangan devisa, arus modal, dan stabilitas sistem keuangan.
Apa yang membuat rupiah melemah terhadap dolar AS?
Faktor yang diperhatikan pasar antara lain penguatan dolar AS, tingginya yield US Treasury, arus dana global, serta kenaikan harga energi yang dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor.
Apa dampak pelemahan rupiah bagi masyarakat?
Pelemahan kurs dapat menaikkan biaya barang impor dan komoditas tertentu. Dampaknya terhadap harga sehari-hari bergantung pada perkembangan inflasi, harga energi, serta kebijakan yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia.

